11/15/13
Khoirony / Warung Ilmu
 ‘ Mawar hitam itu mencekikku lagi malam ini. Sungguh ! ‘ ujar wanita muda itu pada calon suaminya. Wanita muda itu berusia sekitar 30 tahun-an, sebuah usia yang agak terlambat untuk menikah, sebenarnya. Namanya Sofia. Wajahnya lumayan cantik, meski ia sedikit gembul dan berjerawat.

‘ Oh ya ?’ sahut calon suaminya sambil melirik malas. ‘ Malah bagus. Kuharap duri mawar itu meletuskan jerawat di wajahmu. Ah ya. Dan juga, lemak yang menggelambir di sekitar perutmu. Supaya kau terlihat langsing saat mengenakan gaun pengantin nanti. Hahaha…’ Sembur lelaki itu lalu tergelak-gelak.
‘ Tidak lucu, Pepijn. Betul-betul tidak lucu.’ Ujar Sofia bersungut-sungut. Wajahnya ditekuk.
‘  Kau terlalu serius Sofia. ‘ Lelaki itu mengibaskan tangan.
‘ Kuharap juga begitu tadinya. Bukan sesuatu yang serius. Tapi, nih , kau lihat, lingkaran hitam di mataku. ‘
‘ Ya. Kau seperti seekor panda sekarang. ‘ gumam Pepijn.
‘ Ayolah, Pepijn. Aku ingin bertemu Isis SEKARANG JUGA. ‘
Pepijn mendelik. Itu tidak akan memperbaiki apapun, pikirnya. Tapi Sofia memang tidak sedang meminta persetujuannya. Sofia bahkan melengos begitu saja dan meninggalkannya untuk bertemu Isis.
***
Isis adalah wanita yang melahirkan Pepijn. Ia tak melakukan apapun dalam hidupnya kecuali tiga hal. Memasak, merangkai bunga dan menafsirkan mimpi. Orang-orang memintanya untuk mengartikan mimpi-mimpi mereka. Dan Isis melakukannya dengan senang hati. Ia bahkan tak mau dibayar untuk itu. Menurutnya, menafsirkan mimpi bukanlah sebuah pekerjaan. Satu lagi, Isis akan marah besar jika ada yang menyebutnya peramal atau cenayang.
***
‘ Tunggu Sofia. Apa sih yang kau harapkan dari ibuku ? Ketahuilah. Ibuku itu senang sekali mengkhayal. Tafsiran mimpinya itu tak lain tak bukan adalah hasil dari imajinasinya sendiri. ‘ sergah Pepijn.
‘ Oh, Pepijn.. Kau berharap aku akan mengurungkan niatku, begitu ?’
‘ Ya. Begini.. ‘ Pepijn berdehem-dehem sebelum memulai sesuatu hal yang akan ia ceritakan.
Dulu ada seorang pria yang datang menemui Isis. Pria itu tampak putus asa. Beberapa kali ia bermimpi mencium keledai. Lalu setelah itu, si keledai terkejut dan mulai bertingkah liar. Ia menyepak pot-pot bunga kesayangan sang pria itu hingga hancur berantakan.
Menurut Isis, mimpi seperti demikian itu adalah pertanda buruk. Pria itu, menikahi seorang wanita yang dungu dan jalang. Tapi pria itu tertipu oleh kecantikan sang istri, bahkan ia tak menyadari bahwa wanita itu diam-diam berselingkuh dengan pria lain. Adalah sebuah kesia-siaan untuk melanjutkan perkawinan mereka. Karena istrinya mungkin akan terus melakukan kesalahan yang sama.
‘ Isis bilang begitu ? ‘ tanya Sofia penuh selidik.
‘ Ya. Isis bilang begitu.’
‘ Lalu apa yang terjadi berikutnya ? ‘
‘ Kudengar, pria malang itu menceraikan istrinya. Tapi kemudian ia menjadi depresi. ‘
‘ Menyedihkan. ‘
‘ Konyol , bukan ? ‘
‘ Ya. Tapi kita tidak akan pernah tahu kebenaran yang sesungguhnya. Aku akan tetap menemui Isis. ‘
Kali ini niat Sofia telah bulat dan tak bisa dibendung lagi.
***
‘ Sofia, anakku. Ceritakan saja. Tak perlu merasa takut atau ragu. Ceritakan, SEMUANYA. ‘
‘ Apakah aku terlihat lelah, Isis ? ‘
Penafsir mimpi itu mengangguk. Ia khawatir sekali akan keadaan calon menantunya sekarang.
‘ Mimpi-mimpi itu, Isis. Mimpi yang sama. Berulang-ulang. ‘
‘ Ya, katakan saja ’
‘ Mawar hitam itu tumbuh dari sebuah lahan kosong di rumahku. Ia merambat masuk melalui jendela kamar, lalu merayap ke tempat tidur dan mulai membelitku. ‘
Sofia merasakan napasnya tak beraturan. Dadanya sesak.
‘ Ia tak sekedar membelitku. Seolah belum puas, tumbuhan itu mencekikku. Oh, Isis, aku bahkan sanggup mendengar teriakannya. ‘
‘ Ya ? Mawar hitam itu, berteriak kepadamu ? ‘
Sofia mengangguk.
‘ Kedengarannya ia berteriak dalam bahasa Iblis, sih. Tapi aku seolah tahu artinya. ‘
‘ Teruskan. ‘
‘ Rasanya tumbuhan itu bilang..  katakanlah kejujuran ‘
***
Sofia keluar ruangan dengan wajah muram. Ia menyangka semua akan membaik. Tapi ternyata tidak. Lebih parah lagi, Isis mengusirnya. Isis bilang, kalau anaknya, Pepijn, akan menikahi wanita yang salah.
‘ Apa kubilang. Jangan pernah menceritakan mimpimu pada ibuku. ‘ Sembur Pepijn.
‘ Ibumu kasar sekali. Ia bahkan tak menjelaskan apa-apa. Ia hanya mengusirku saja.’
‘Sudah pernah kuperingatkan sebelumnya, Isis itu aneh. Dia gemar berkhayal !’
Pepijn menenangkan calon istrinya yang mulai meratap panjang pendek. Tiba-tiba Sofia terdiam.
‘ Tunggu..’
‘ Apa ? ‘ Selidik Pepijn.
‘ Ng… oh, tidak. Bagiku bukan sesuatu yang penting.’ Sahut Sofia.
***
Malamnya, Sofia kembali bermimpi. Kali ini mawar hitam itu semakin mengganas. Tumbuhan itu membelitnya dengan onak duri yang tajam bagai ujung belati. Mawar hitam berteriak lagi.KATAKANLAH KEJUJURAN!
Sofia terbangun dari mimpi dengan nafas tersengal. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Mendadak ia merasa geram sekali. Lantas ia merasa harus melakukan sesuatu.
Di sambarnya sebatang lilin dan lentera. Ia bergegas menuju halaman belakang dan mulai mencangkuli tanah itu dengan tangannya sambil memekik histeris.
PERSETAN DENGAN KEJUJURAN !
Sofia ingat semuanya. Janin itu.. Aborsi itu..
Lalu ia mulai tertawa.
Tawa yang mengerikan di tengah malam buta.


Leil Fataya
Khoirony / Warung Ilmu
“Sepantasnya ini disebut surga. Karena semua nampak begitu indahnya, lengkap pula dengan buah khuldi tergantung matang menunggu untuk dipetik sang Adam.”
“Aih, buah khuldi itukah? Percaya padaku, Adam dan Hawa dalam surga ini takkan saling tergoda. Dan buah khuldi itu akan aman-aman saja di tempatnya tergantung.”
“Benarkah? Kalau begitu malang benar nasib para setan.”
”Benar. Mereka, para setan, takkan ada kerja di surga ini. Pamor setan sebagai jawaranya penggoda hancur luluh lantak di sini.”

Surgakah ini? Karin menatap nanar kamar pengantinnya. Sebuah ruangan yang luas, indah dengan aroma keharuman lembut yang sejatinya sanggup menghipnotis setiap jiwa. Pernik ornamen yang terpajang nyata menonjolkan sentuhan pribadi perfeksionis dan sangat teliti. Masih jelas terbayang dalam benak Karin, momen-momen menyenangkan saat dirinya ikut mengatur dimana letak meja rias, buku-buku, meja tambahan dan sepasang kursi dengan sandaran berbentuk hati, furnitur yang dipesan khusus dari Jepara. Atau lemari besar yang seluruh badan perseginya itu tenggelam dibalik dinding. Butuh waktu sangat lama dan proses yang tak mudah untuk merancang surga ini. Walaupun demikian, segala keindahan ini bukanlah selera Karin. Detil desain dan tata letaknya terlalu sempurna untuk seorang Karin. Terlalu feminin untuk Karin si tomboy penganut paham minimalis praktis.

”Kuharap sesuatu yang romantis akan terjadi di sini.”
”Saranku, hapus harapan itu. Karena kuyakin, tidak akan terjadi apapun.”
”Mengapa bisa begitu?”
“Kita lihat saja.”

Karin tergugu menatap kotak besar yang, walau masih tertutup rapat, di dalamnya masih terlipat rapi sebuah gaun berbahan super lembut dan tembus pandang. Karin ingat warnanya yang peach-pucat dengan renda merah-marun yang amat seksi. Harganya berapa, beli dimana, berdiskon atau tidak, dan label impornya. Karin pun tak mungkin lupa tentang debat kecil seru saat membahas lingerie itu. Debat yang tentu saja mustahil dimenangkannya. Buat apa pula? Toh, baju tidur semacam itu memang bukan selera Karin. Bukan gue banget deh, begitu klaim Karin pada setiap hal yang jauh akan citra dirinya.

Dari sudut matanya, Karin melirik apa yang membungkus tubuhnya. Secara keseluruhan itu bukan gaun tidur yang akan direkomen siapapun untuk malam pertamanya. Piyama batik usang? Oh, sama sekali tak mempertontonkan lekuk tubuhnya sebagai kembang yang tengah ranum memekar dan siap direguk nektarnya oleh seekor kumbang. Jauh! sangat jauh dari kesan romantis, apalagi sensual yang menuai khayal.

“Apa yang sedang kau lakukan? Mulutmu komat-kamit seperti sumbu dinamit.”
”Aku tengah berdoa semoga isi kotak besar itu lekas dikeluarkan, lalu dicoba walau hanya untuk sesaat saja.”
”Dan kau akan berliur setelah melihat betapa indah karya Tuhan. Begitu?”
“Hehe, kau cemburu rupanya.”
“Taklah. Aku justru tengah memprediksi bila kotak besar itu akan tetap tertutup. Setidaknya untuk malam ini.”

Dalam kamar bercahaya temaram, sendu nan melenakan, Karin duduk mematung seorang diri. Berkali menghela nafas panjang, bukan dengus nafas yang membuat syaraf kelelakian mengejang. Tidak, tidak, bukan seperti itu. Karin sangat yakin saat-saat romantis-dramatis itu takkan terjadi. Di sini, di kamar pengantin ini, kamar yang digadang-gadang sebagai surganya sepasang anak manusia dalam pertautan yang direstui Tuhan. Benar sekali, puisi cinta takkan dibacakan. Bujuk rayu yang menggelitik telingapun takkan terdengar. Rengek manja yang mengacau hati takkan terngiang. Itukah belaian lembut penuh kasih,  kuntum bibir yang memabukkan, ataukah tarikan kasar yang memamerkan kejantanan… ?

Sungguh, takkan ada diskusi antar ego dua libido semacam itu. Takkan, takkan pernah ada. Kamar ini akan tetap hening hingga fajar menyingsing. Adapun pemecah kesenyapan ini dan penyumbang suara yang ada hanyalah detak jarum jam bersahutan dengan dengkur halus dari pria yang sesiang tadi duduk bersanding dengan Karin di atas pelaminan adat, pria itu kini tertidur pulas dalam damai di atas sofa panjang tak jauh dari rak buku-buku. Busananya bukan lagi busana kebesaran seorang raja sehari dimana kemegahan membuatnya tampil gagah, namun satu stel piyama ungu muda dengan lis merah-marun senada dengan lingerie yang masih terlipat, dan untuk kesekian kalinya semua itu bukanlah pilihan Karin walau dua tangannya yang telah membopong pulang seperangkat pakaian tidur itu.

“Mungkinkah terlalu lelah menerima tetamu undangan siang tadi?”
“Bisa jadi.”
“Atau mungkin seseorang telah menaruh bubuk penidur dalam minumannya?”
“Itupun bisa menjadi satu kemungkinan.”
”Ah, ayolah, seperti kau tak tahu saja. Keheningan ini bukan sebab apa, namun tak lain karena menunggu tepat tengah malam jelang dini hari yang benar-benar sepi.”
”Maka kehadiran kau dan aku di sini selayaknya mata lensa CCTV harus segera diakhiri? Begitu ? Kuyakin tidak.”

Karin membelai sayang tepi ranjang yang kesepian. Sprei dan bed cover berbahan super. Bantal-bantal empuk yang menumpuk. Tirai tipis yang menjuntai lunglai. Aroma kesturi dimana-mana. Oh, betapa tubuhnya telah meronta, sangat menuntut untuk direbahkan di sana. Namun, ”Tidak !” hatinya tegas menolak. L
alu sebuah karpet berbulu tebal menjadi pilihan. Karin menggelar sehelai selimut di atasnya demi menghindari alergi pada bulu-bulu. Karin tak mau bersin-bersin yang sulit dihentikan menjadi pendobrak lelapnya pengantin pria, temannya berbagi kamar malam ini. Kemudian sehelai selimut yang lain, Karin pakai sebagai pelindung tubuh dari kesejukan ruangan yang perlahan mulai membekukan tulang.

”Sepasang pengantin yang aneh.”
”Sangat aneh.”
”Ini pasti kasus dijodohkan secara paksa. Aku yakin sekali !”
”Aduh, ingatlah bahwa ini zamannya selular pintar, bukan zaman Siti Nurbaya bodoh dan penurut yang menciut saat dimaki sekedar buang kentut !”
”Hm, kau benar. Oh, kalau aku pengantin prianya, maka takkan kusia-siakan sosok indah mencolok di depan mata. Dibiarkan menganggur dan lebih memilih mendengkur. Benar-benar sebodoh-bodohnya pria!”
”Yeah. Dan kalau aku pengantin wanitanya, maka takkan lelah kumenggoda hingga pengantin priaku kehabisan nafas dalam nikmat dekapanku.”

Demi Tuhan, Karin takkan menolak sebuah perjodohan. Karin tak pernah risau siapa jodohnya. Siapapun pilihan ayah dan bunda tentulah pria terbaik hasil seleksi ketat kedua orang tua yang selalu menginginkan kebahagiaan bagi putrinya. Alih-alih melumerkan hati lelaki, Karin justru lebih risau pada hasratnya menaklukkan lereng terjal sebuah gunung, mengunjungi sebanyak mungkin keindahan dan keunikan ciptaan Tuhan di tiap anak benua. Hasrat menggebu yang sulit mendapatkan restu.

Lalu pengantin pria ini? Karin menatap gundah. Dia bukan tak mengenal siapa pria yang kini telah sah secara hukum dan agama sebagai suaminya. Sejak hari pertama Karin melepas seragam SMAnya hingga hari ini, lima tahun telah berlalu dan tentunya itu kurun waktu yang cukup lama, bukan? Benar, selama itulah Karin telah bergaul dengan si pengantin pria. Begitu mengenalnya, hingga Karin sangat hafal pada lengkung asimetris di bibir yang tidak tipis kala pria ini tersenyum dengan amat manis. Karin ingat dirinya selalu tertulari dan ikut tersenyum walau sangat tahu senyum manis itu tak pernah untuknya. Karin pun sangat memahami gurat kecewa, riak bahagia, raut lelah atau datar-datar saja yang mewakili suasana hati pria yang dikenalnya sangat relijius, santun, penuh semangat, hangat penyayang walau tak banyak cakap dan gesit bertindak.

Tak ada yang Karin tak tahu. Semua Karin tahu. Sebab kehadiran pria ini di rumah begitu intens. Bahkan aktifitas di luar rumah pun Karin harus turut terlibat. Harus ? Mengapa harus ? Sebab tak mungkin melibatkan kak Luqman yang telah berkeluarga atau Faiz, si bungsu yang belum boleh tahu perkara asmara. Hanya Karin  sajalah yang menjadi andalan ayah-bunda sebagai penengah demi sebuah hubungan yang sebisa mungkin diminimalkan mudharatnya untuk keselamatan dunia-akhirat, demikianlah ajaran agama dari orang tua. Maka dimanapun tali asmara itu dipintal, kemanapun benang asmara itu dirajut, jadilah Karin sebagai buntut. Anjangsana ke majelis-majelis taklim pemuda atau menghabiskan senja ke mall, Karin akan selalu hadir. Hanya di beranda rumah saja, Karin melimpahkan tugas itu kepada ayah. Padahal tanpa kehadiran pihak ketiga, Karin sangat yakin asmara itu akan terjaga suci hingga ijab kabul kelak menghalalkannya.

”Sudahlah. Aku lelah. Terlalu lama menunggu romansa yang jelas takkan pernah terjadi. Mari kita pergi, Dek. Surga kita telah menunggu.”
”Dan membuat romansa sendiri di sana, bukan begitu, Bang ?”
”Hehe, kau benar sekali, Dek,” jawab cicak jantan senang seraya melenggang diikuti betinanya yang dipanggil ”Dek” itu. Keduanya merayap menuju celah sempit di atas plafon, surga mereka yang indah.
Karin meraih kartu undangan yang diam-diam disimpan. Nama kedua mempelai dalam tinta emas, masih tertera tegas di sana. Dewa Anggarahadianto, nama pengantin prianya. Karin memanggilnya kak Angga. Nama yang sejatinya sangat serasi berdampingan dengan nama sang pengantin wanita. Bahkan dua keluarga besar pun telah sepakat bila kedua pasangan itu memang berjodoh. Hingga Dewi Anggiaranti, gadis muda yang cantik, manis, feminin, ramah, santun, muslimah yang taat, pergi begitu saja hanya satu hari jelang hari H pernikahan, hari yang telah dipersiapkan kedua belah pihak secara matang sejak sangat lama. Sejak asmara keduanya mulai tumbuh, bersemi lalu saling mengunci erat hingga ikrar sehidup semati tergurat di relung hati masing-masing. Karin tahu ikrar itu, karena kak Angginya tercinta tak pernah luput sekalipun menceritakan hal-hal yang dilaluinya bersama Angga, sang kekasih.

Karin tak mudah menangisi sesuatu, namun malam ini, di surga lengang ini, Karin pelan-pelan mengusap air matanya yang deras mengalir. Entah menangisi kepergian kakaknya. Meratapi kecelakaan tragis yang telah mengubur dalam-dalam impian kak Anggi hidup berbahagia bersama kak Angga. Ataukah mengasihani dirinya sendiri ? Entah. Karin hanya tahu memuaskan tangisnya saja…

- Tamat -




Jasmine

Khoirony / Warung Ilmu
//PROGRAM PERKALIAN MATRIK

#include <iostream.h>

#include <conio.h>

#include <iomanip.h>

void main()

{

               int A[3][3],B[3][3],C[3][3],i,j,k;

   clrscr();

   //masukkan matrix A

   cout<<"Silahkan input matrik A : \n";

   cout<<"------------------------- \n";

   for(i=0;i<3;i++)

   {

                               for(j=0;j<3;j++)

               {

               cout<<"Elemen ke "<<(i+1)<<","<<(j+1)<<" : ";

      cin>>A[i][j];

               }

   }

   //cetak matrix A

   cout<<"\nMatrik A : \n";;

   for(i=0;i<3;i++)

   {

               for(j=0;j<3;j++)

               {

               cout<<setw(4)<<A[i][j];

               }

               cout<<endl;

   }

   cout<<endl;

   //masukkan matriks B

   cout<<"Silahkan input matrik B : \n";

   cout<<"------------------------- \n";

   for(i=0;i<3;i++)

   {

               for(j=0;j<3;j++)

               {

               cout<<"Elemen ke "<<(i+1)<<","<<(j+1)<<" : ";

      cin>>B[i][j];

               }

   }

   //cetak matrix B

   cout<<"\nMatrik B : \n";

   for(i=0;i<3;i++)

   {

               for(j=0;j<3;j++)

               {

               cout<<setw(4)<<B[i][j];

               }

               cout<<endl;

   }

               //Operasi Perkalian

  for (i=0;i<3;i++)

  {

    for (j=0;j<3;j++)

    {

    C[i][j]=0;

               for (k=0;k< 3;k++)

      {

               C[i][j]+= A[i][k]*B[k][j];

      }

    }

  }

  //Menampilkan hasil

  cout<<"\nMatrik C, Hasil : \n";

  for(i=0;i<3;i++)

  {

    for(j=0;j<3;j++)

    {

               cout<<setw(4)<<C[i][j];

    }

    cout<<endl;

  }

               cout<<endl;

               getch();

}







Khoirony

Khoirony / Warung Ilmu
program persegipanjang;
uses wincrt;
var
 p,l,t:byte;
 ls,kel,vol:integer;
procedure Hitung_Luas;
begin
ls:=p*l;
writeln('Luas :',ls);
end;
 procedure Hitung_Keliling;
 begin
 kel:=(2*p)+(2*l);
 writeln('keliling:',kel);
 end;
 procedure hitung_volume;
 begin
 vol:=p*l*t;
 writeln('volume:',vol);
 end;

 begin
 clrscr;
 writeln('hitung luas dan persegi panjang');
 writeln;
 write('Masukan panjang :');readln(p);
 write('masukan lebar :');readln(l);
 write('masukan tingi:');readln(t);
 writeln;
 Hitung_luas;
 Hitung_keliling;
 Hitung_volume;
 readln;
 end.

Function
program persegipanjang;
Uses wincrt;
Function Luas(p,l:integer):integer;
Begin
Luas:=p*l;
end;
var
Pj,lbr:integer;
begin
clrscr;
writeln('menghitung luas persegi panjang');
writeln;
write('masukan panjang:');readln(pj);
write('masukan lebar:');readln(lbr);
write('luasnya=',luas(pj,lbr));
readln;
end.
FUNCTION 2
program persegipanjang;
Uses wincrt;
Function Luas(p,l:integer):integer;
Begin
Luas:=p*l;
end;
Function Volume(p,l,t:integer):integer;
begin
Volume:=p*l*t;
end;
var
Pj,lbr,tg:integer;
begin
clrscr;
writeln('menghitung luas persegi panjang');
writeln;
write('masukan panjang:');readln(pj);
write('masukan lebar:');readln(lbr);
write('masukan tinggi:');readln(tg);
write('luasnya=',luas(pj,lbr));
Writeln;
write('volume=',volume(pj,lbr,tg));
readln;
end.




Khoirony

Khoirony / Warung Ilmu

Agan dan sista nih ane ada info tentang tips dasar menjadi seorang programmer versi ane yang mungkin bermanfaat buat para agan dan sista semuanya
semua orang yang ngerti komputer pastinye pengen banget yekan jadi programmer yang handal , cepat dan kilat , siapa sih yang gamau jadi programmer handal yengga otomatis jadi programmer handal itu banyak dicari diperusahaan dengan iming iming gaji yang waw bangets dan dengan tunjangan yang waw juga , oke langsung aje ya ane kasih tau tips tipsnya :
1.belajar mengenai dasar-dasar dari logika atau mengembangkan pola pikir kita dalam menyelesaikan masalah atau kasus
2.ada baiknya memperdalam ilmu matematika karena hampir semua ilmu komputer dasar atau lanjut pasti berbau matematika juga
berusaha mempelajari logika algoritma seperti :

* Flow Charting
* Pseudo-Code
* Unified Modeling Language
* Object Relational Mapping
3. belajar mengusai konsep dari database
belajar mengusai paradigm dari sebuah bahas pemerograman sesuai minat agan
menentukkan tujuaan atau anda ingin menjadi programmer apa contoh : Programmer Web, Programmer aplikasi desktop, Programmer Aplikasi Distribusi, Programmer system
4. jika mempunyai uang , sisihkanlah sedikit untuk membeli buku tentang tips dasar programmer it di toko buku terdekat karena dengan buku wawasan kita bisa lebih jauh dan mengerti
demikiaanlah tips dasar menjadi programmer semoga artikel KomputerA ini bermanfaat dan mengispirasi teman maka jangan ragu-ragu untuk membagikanya keteman-teman anda melalui social media melalui facebook atau yang lainya .





Khoirony

Khoirony / Warung Ilmu

Program coba_array;
Uses wincrt;
Var
i,jum_data:integer;
nama:array [1..20] of string;
Begin
writeln(‘MENCETAK NAMA MAHASISWA DENGAN ARRAY’);
writeln;
write(‘masukkan jumlah data : ‘);readln(jum_data);
for i:=1 to jum_data do
Begin
write(‘masukkan nama ke ‘,i,’ : ‘);readln(nama[i]);
end;
writeln;
writeln(‘No Nama’);
writeln(‘———————-’);
for i:=1 to jum_data do
writeln(i:5,nama[i]:15);
End.

Contoh program array 2 dimensi

Program coba_array2_dimensi;
Uses wincrt;
const maks=3;
Var
i,j:integer;
matriks:array [1..maks,1..maks] of integer;
Begin
writeln(‘MENGISI MATRIKS A’);
writeln;
for i:=1 to maks do
for j:=1 to maks do begin
write(‘A [',i,',',j,'] : ‘);readln(matriks[i,j]);
end;writeln;
writeln(‘ISI MATRIKS A’);
writeln(‘————-’);
for i:=1 to maks do
for j:=1 to maks do begin
if j=maks then writeln(matriks[i,j])
Else write(matriks[i,j],’ ‘);
end;
End




Khoirony

Khoirony / Warung Ilmu
C++ contoh program penjumlahan matriks
berikut adalah contoh program penjumlahan matriks tentunya dengan menggunakan konsep array dua dimensi. bagi teman-teman yang ingin mempelajarinya dibawah ini adalah source kode program penjumlahan matriks :

#include <iostream.h>
#include <conio.h>

// penjumlahan matriks   jnanayoga-online.blogspot.com
void main()
{
int matrix[20][30], matrix2[2][3],jumlah[2][3];
int i, j;

cout<<"matrix A :";
cout<<endl;
for (i=1;i<=2;i++)
    {
   for(j=1;j<=3;j++)
       {
       cout<<"masukkan nilai baris"<<i<<" kolom "<<j<<" : ";
      cin>>matrix[i][j];
      }
   }

cout<<"\nMatrix B :\n";
for (i=1;i<=2;i++)
    {
   for(j=1;j<=3;j++)
       {
       cout<<"masukkan nilai baris"<<i<<" kolom "<<j<<" : ";
      cin>>matrix2[i][j];
      }
   }


    //proses hitung

 for (i=1;i<=2;i++)
    {
   for(j=1;j<=3;j++)
       {
       jumlah[i][j]=matrix[i][j] + matrix2[i][j];
      }
   }



//output penjumlahan
cout<<endl;

   //output jumlah



 gotoxy(1,20);
 cout<<"C = ";
 for(i=1;i<=2;i++)
 {
  for(j=1;j<=3;j++)
  {
   gotoxy(3+4*j,17+2*i);
   cout<<matrix[i][j];
  }
 }

 gotoxy(17,20);
 cout<<" + ";
 for(i=1;i<=2;i++)
 {
  for(j=1;j<=3;j++)
  {
   gotoxy(18+4*j,17+2*i);
   cout<<matrix2[i][j];
  }
 }

 gotoxy(32,20);
 cout<<" = ";
 for(i=1;i<=2;i++)
 {
  for(j=1;j<=3;j++)
  {
   gotoxy(33+4*j,17+2*i);
   cout<<jumlah[i][j];
  }
 }

getch();

}







Khoirony