September 2014
Khoirony / Warung Ilmu
Kita pernah “menawarkan” perasaan cinta pada seseorang
Hingga kita rela melepaskannya …
jika memang ia akan bahagia dengan yang lain.
Seperti halnya…
Lebih baik melihat orang yang kita cintai tak lagi bersama kita,
Jika itu membuatnya lebih bahagia..
Daripada harus bersama kita…, 

Tapi batinnya tersiksa dan tak bahagia,,

Diam dalam keterpaksaan
Senyum dalam kedukaan
Merana di istana kebisuan
Saat kau menyadari semua ini…
Itu tidaklah kejam, meski kita merasa sedikit kecewa…
Karena kecewa adalah resiko mencintai
Namun kita tetap beruntung ….
Karena kita dapat menyadari bahwa perasaan cinta itu masih ada,


Menyedihkan….
Ya.. menyedihkan, itulah tepat untuk kita yang pernah menderita dalam cinta..
Saat cinta tak terbalas …
Atau bahkan orang yang kita cintai telah berkhianat….


Sedih memang….
Tapi ketahuilah…

Kita bukan orang yang paling menyedihkan…
Sadarilah dia yang melukai kita lebih menyedihkan lagi…
Karena tanpa ia sadari…
Ia telah menyia-nyiakan orang yang sangat mencintai dan menyayanginya..

Salah Mencintai….
Hanya dengan mencintai kita melihat dirinya sangat sempurna
Namun mencintai bukan suatu kebutuhan tapi suatu pilihan…
Saat kita menganggap cinta itu bagai kebutuhan!!!!!
Kita takkan rela melepaskannya…
Kita hanya bisa menyadari….
Dia adalah pilihan kita…
Tapi bukan suatu kebutuhan yang mutlak harus mengikuti jalan hidup kita..


Sakit dan tak rela kehilangan…
Cinta, Tidak selalu indah
Seindah dongeng Cinderella yang berakhir bahagia….
Atau Romeo en Juliet dengan kisah cintanya yang abadi….


Kita harus realistis…

Bahwa kita hidup bukan di negeri dongeng
Tapi di negeri sahdewa yang banyak ujian, tantangan, juga godaan….
Disinilah cinta kan diuji….
Dan kesetiaan harus dibuktikan..


Tak usah berkecil hati
Kita masih bisa mencobanya.
Namun saat kau tak berhasil menciptakan cerita-cerita indah…

Kau hanya bisa memperjuangkannya….
Kau harus bisa merelakannya…
Hormati, hargailah apapun ia
Dan yakinkanlah….
bahwa di saat yang tepat …
Kita kan temukan sesorang yang lebih baik

Karena dibalik semua cerita cinta …
Akan berakhir dalam episode bahwa “Cinta tak harus memiliki…”


Mungkin kedengarannya klise….
Tapi itulah faktanya….
Maka dengan mengaguminya…
Kita sudah cukup membuktikan kerelaan dan kesungguhan


Ya..kita masih bisa tetap bertahan
Walau dia tidak berada di samping kita,
Jangan mengutuk…menyumpahi atau mendoakan supaya dia menderita..
Ketika ia menentukan pilihan tuk meninggalkan kita
Menjatuhkan pilihannya pada yang lain
Tapi tetap do’akanlah agar dirinya bahagia….


Karena disanalah sesungguhnya “Kesetiaan Cinta itu Diuji


 
i'm sorry .... 

Khoirony / Warung Ilmu
Kita pernah “menawarkan” perasaan cinta pada seseorang
Hingga kita rela melepaskannya …
jika memang ia akan bahagia dengan yang lain.
Seperti halnya…
Lebih baik melihat orang yang kita cintai tak lagi bersama kita,
Jika itu membuatnya lebih bahagia..
Daripada harus bersama kita…, 

Tapi batinnya tersiksa dan tak bahagia,,

Diam dalam keterpaksaan
Senyum dalam kedukaan
Merana di istana kebisuan
Saat kau menyadari semua ini…
Itu tidaklah kejam, meski kita merasa sedikit kecewa…
Karena kecewa adalah resiko mencintai
Namun kita tetap beruntung ….
Karena kita dapat menyadari bahwa perasaan cinta itu masih ada,


Menyedihkan….
Ya.. menyedihkan, itulah tepat untuk kita yang pernah menderita dalam cinta..
Saat cinta tak terbalas …
Atau bahkan orang yang kita cintai telah berkhianat….


Sedih memang….
Tapi ketahuilah…

Kita bukan orang yang paling menyedihkan…
Sadarilah dia yang melukai kita lebih menyedihkan lagi…
Karena tanpa ia sadari…
Ia telah menyia-nyiakan orang yang sangat mencintai dan menyayanginya..

Salah Mencintai….
Hanya dengan mencintai kita melihat dirinya sangat sempurna
Namun mencintai bukan suatu kebutuhan tapi suatu pilihan…
Saat kita menganggap cinta itu bagai kebutuhan!!!!!
Kita takkan rela melepaskannya…
Kita hanya bisa menyadari….
Dia adalah pilihan kita…
Tapi bukan suatu kebutuhan yang mutlak harus mengikuti jalan hidup kita..


Sakit dan tak rela kehilangan…
Cinta, Tidak selalu indah
Seindah dongeng Cinderella yang berakhir bahagia….
Atau Romeo en Juliet dengan kisah cintanya yang abadi….


Kita harus realistis…

Bahwa kita hidup bukan di negeri dongeng
Tapi di negeri sahdewa yang banyak ujian, tantangan, juga godaan….
Disinilah cinta kan diuji….
Dan kesetiaan harus dibuktikan..


Tak usah berkecil hati
Kita masih bisa mencobanya.
Namun saat kau tak berhasil menciptakan cerita-cerita indah…

Kau hanya bisa memperjuangkannya….
Kau harus bisa merelakannya…
Hormati, hargailah apapun ia
Dan yakinkanlah….
bahwa di saat yang tepat …
Kita kan temukan sesorang yang lebih baik

Karena dibalik semua cerita cinta …
Akan berakhir dalam episode bahwa “Cinta tak harus memiliki…”


Mungkin kedengarannya klise….
Tapi itulah faktanya….
Maka dengan mengaguminya…
Kita sudah cukup membuktikan kerelaan dan kesungguhan


Ya..kita masih bisa tetap bertahan
Walau dia tidak berada di samping kita,
Jangan mengutuk…menyumpahi atau mendoakan supaya dia menderita..
Ketika ia menentukan pilihan tuk meninggalkan kita
Menjatuhkan pilihannya pada yang lain
Tapi tetap do’akanlah agar dirinya bahagia….


Karena disanalah sesungguhnya “Kesetiaan Cinta itu Diuji


 
i'm sorry .... 

Khoirony / Warung Ilmu


Tahukah Kau, Aku Mencintaimu?


Teruntuk Kekasih yang Bukan Kekasihku,Bagaimana kabar ibukota? Bagaimana kabar Ayah dan Ibu? Bagaimana kabarmu, wahai belahan jiwaku? Katakanlah, baik-baik saja. Agar aku di sini merasa tenang meninggalkan keluarga untuk sementara waktu dan mengejar mimpi-mimpi di desa kecil ini.
Ara El Khadija, seorang dokter muda yang cantik. Begitulah aku biasa menyebut namamu; dengan bangga, ketika orang-orang bertanya siapa kakakku. Wanita muda yang pintar, cantik, dan memiliki hati luar biasa. Seorang kakak yang sangat menyayangi dengan kesabaran dan perhatian yang istimewa untuk seorang adik yang bandel dan susah diatur, sepertiku. Seorang kakak yang menjadi panutan dengan pembuktian tanpa paksaan. Kau membuktikan, bahwa kesabaran yang melulu meluluhkan egoku.
Mereka bilang kita anak kembar, ingatkah kau? Aku rasa mereka salah. Aku hitam, kau putih. Seperti itu pula kulit kita, kepribadian dan kehidupan kita yang sebenarnya. Kau adalah malaikat tanpa cacat yang menjelma menjadi kakakku di dunia, dengan sayap-sayap putih melebihi entitas cahaya itu sendiri. Sedang aku? Ah, kau tahulah seberapa suram hidupku. Beruntungku adalah memilikimu. Kau adalah sang pagi yang cerah dan menghangatkan, sedang aku adalah sang malam yang temaram dan dingin.
Pernahkah kukatakan aku mencintaimu melebihi diriku sendiri, wahai kekasih yang bukan kekasihku?
Ingatkah kau saat kita kecil, ketika orang-orang mengatakan bahwa akulah kakakmu yang terlahir terlambat? Saat kau diledek, aku yang membelamu. Saat kau takut bertemu wali kelasmu, aku yang menghadapinya. Bahkan saat menyebrang pun, akulah yang menggenggam erat tangan dan membelah jalan untuk mempersilahkanmu lewat. Aku menyayangimu, berlebih. Kaulah yang utama, bagiku.
Seperti itu dari dulu, hingga detik ini.
Kau tahu aku sangat mencintaimu, bukan? Melihatmu tersenyum dan bahagia adalah inginku. Ingat kah kau, bagaimana geramnya aku saat mendengarmu menangis melalui telepon bahwa beberapa orang di kantor baru, mencibir dan mencercamu? Aku geram kepada mereka! Aku geram mendengarmu menangis! Aku geram kepada diriku sendiri! Aku merasa gagal melindungimu. Lumpuh langkah. Menyalahkan keadaan, menyerah pada ketiadaan. Aku geram! Hati berserakan di antara puing-puing kekecewaanku sendiri.
Maafkanku, jika terselip rona-rona sendu di hidupmu. Tahukah kau, akulah yang paling tersakiti saat air mata pecah dari mata sang induk bahagiaku; kau.
Aku mencintaimu, kau tahu bukan? Iya, aku tak akan lelah mengucapkannya. Melalui tulisan ini, aku ingin kau berbahagia dengan pilihanmu sendiri di luar sana. Korbankan bahagiaku, takkan mengapa jika itu mampu mengapus sendu tuk menjadi tawa bahagiamu. Mengetahui kau menyayangi orang yang pernah kusayangi, adalah berat yang teramat menyelimuti. Tanya kian hebat menyayat tiap ingatan di antara labirin-labirin kenangan. Kenapa harus kau? Kenapa harus dia? Aku lelah bertanya dan memilih diam. Ah sudahlah, jika itu yang bisa membuatmu tersenyum, tertawa dan bahagia lagi, kenapa  tidak? Kau tahu aku mencintaimu melebihi diriku sendiri, bukan? Ya, aku sangat mencintaimu.
Berbahagialah kau disana, wahai belahan jiwaku.
Tetaplah menjadi seorang kakak yang menjadi panutan, seorang kakak yang selalu mengajarkanku arti kesabaran dan kasih sayang. Tetaplah menjadi pagi untuk malamku. Tetaplah menjadi cahaya untuk gelapku. Tetaplah menjadi kehangatan untuk dinginnya duniaku. Jangan pernah bersedih lagi yah? Air matamu adalah air terjun yang mematikan untukku. Tawa dan senyummu adalah angin penyejuk  surgawi. Tetaplah menjadi yang terhebat, untukku.
Kau tahu aku mencintaimu, bukan?
Tertanda,
Belahan Jiwa yang Mencintaimu.


Back To Top