02/08/14
Khoirony / Warung Ilmu
26. Desember 2010, 06.00 WIB
Pagi itu…
            Aku menggerang kesakitan tak karuan, Darahku seolah beku. Mataku sayu menahan sakit dalam dadaku. Suaraku menghemparkan isi rumah.  Ayah memanggil-manggil namauk.
          
  “Tiara… Tiara …,” ayah panik mendengar suara eranganku yang semakin keras. Aku tidak bisa menjawab apa-apa.  Aku hanya mengerang terus kesakitan. Yang akhirnya membawaku terlelap dan terbaring di rumah sakit ini..


08.00 WIB, UGD

Ibuku menangis melihat tubuhku dibaringkan tak berdaya diatas ranjang  UGD.  Kejadian  Ini membuat ayah, ibu dan kak Zafran shock.
Dari kecil hingga umur 18 tahun ini. Aku memang hampir tidak pernah sakit, paling hanya flu atau batuk biasa.  Tiap kali aku melakukan cek rutin ke Dr. Herry, beliau selalu menjawab, “anti body kamu kuat Tiara, kamu sehat.”
           
 Ya… memang sehat ragaku. Tapi tidak dengan hatiku. Aku menguatkan diri menahan perasaanku.  Perasaan tulusku pada Angga. Nama yang telah aku simpan sejak pertama kali aku  bertemu denganya di kelas III B SMPN  1 Surabaya. Dia yang pertama dan mungkin akan jadi yang terakhir dalam hidupku.

28 Desember 2010, 12.00
            Aku koma, sudah dua hari aku tak sadarkan diri. Keluarga besarku berkumpul menjengukku. Seolah menemaniku dalam detik-detik terakhirku.
            Dokter tak bisa menyebutkan penyakitku Diagonasnya semu. Hasil pemeriksaan menunjukkan aku  tak sakit apa-apa.
           
 “anak ibu bermasalah dengan hatinya,” kata dokter . ibuku terdiam dan menahan isaknya.
 “tim dokter tidak menemukan penyakit apa-apa dalam tubuhnya, tapi Tiara seperti mengalami tekanan. Ia seperti sedang menahan perasaan atau mungkin sesuatu yang ingin dia ungkapkan.” jelas dokter.
            Ibuku semakin tak bisa membendung tangisnya.
Ia sedih melihat kondisiku yang tak pasti.  Seperti katak dalam tempurung, hidup segan maatipun tak mau.
            Andai aku tersadar, aku benar-benar ingin mengungkapkan rasa sayang dan cintaku pada Angga.  Aku tak peduli apa jawaban tiara.  Karena aku memang tak membutuhkan itu. Aku hanya ingin mengunkapkan perasaan yang telah kupendam  selama bertahun-tahun.

29 Desember 2010, 09.00
            Aku msih ingat, seminggu yang lalu aku mendengar kabar tentang rencana pertunangan Angga dengan Maya, kekasihnya. Hatiku sakit, perasaanku sia-sia…
            
Andai aku laki-laki, mungkin takkan kudiamkan perasaan ini. Mungkin takkan pernah ada rasa malu untuk menyatakanya.  Tapi aku perempuan,… aku terlalu malu. Terlalu tinggi aku membangun harga diriku.  Dan akhirnya aku memilih diam, walau akhirnya aku tak kuat !!!. ingin rasanya aku berteriak agar semua orang tau betapa dalamnya perasaanku pada Angga. Meskipun teriakanku takkan mengubah apa-apa. Aku hanya ingin merasakan hidup tanpa beban, tanpa menyembunyikan perasaan..


30 Desember 2010, 22.00 WIB
Ibuku menyesal, Ia merasa tidak bisa menjadi ibu yang baik untukku.  Kak Zafran terdiam,  memang dia yang mengerti isi hatiku. Selama ini aku tumpahkan isi hatiku kepadanya.  Meskipun dia kakak laki-laki yang penuh dengan kesibukanya. Tapi dia selalu mau mendengar keluh kesahku. 
          
   Angga…..  laki-laki yang selau membuatku bersemangat ke sekolah dan ke kampus. Ketika ayah memilihkan SMA unggulan untukku, aku malah meilih sekolah lain mengikuti Angga. Saat aku berhasil menembus UMPTN, aku rela melepaskanya demi Angga.  Meskipun ketika itu ayah marah dengan keputusanku. Cinta memang buta,  akupun enggan membuka  hatiku untuk orang lain.
1,   2,  3,  Teman laki-lakiku mulai mendekatiku. tapi bayangan Angga seolah berkata, “jangan.. jangan…,”  akupun membiarkan diriku sendiri, menikmati Angga dari kejauhan.


31  Desember 2010, 18.00 WIB
            Aku memanggil nama Angga dalam komaku. Aku sakit,… tubuhku tak kuat lagi. Apalagi  hatiku, ini benar-benar akhir hidupku.  Aku tak mau mati bersama perasaanku. Aku ingin bertemu Angga.

            “Angga … Angga …..,” aku memanggil nama Angga berulang-ulang. Ayah dan ibuku bingung, siapa Angga.  Karena aku memang tak pernah bercerita apa-apa kepada mereka. Dokter mencoba menenagkanku.  Tapi aku tetap tak bisa tenang. Aku hanya ingin bertemu Angga.

            Kakaku keluar kamar,  ia pasti tau apa yang harus dilakukanya.  Beberapa jam aku menunggunya.  Perjuanganku untuk Angga sebelum nafasku menghilang.  Hingga akhirnya … lelaki berparas tampan itu  berada tepat disampingku. Matanya menitikan airmata melihat kondisiku. Kakak mungkin telah menceritakan semuanya.

            “kamu harus bertahan, Tiara… Buatku,” ucapnya.
Bertahan buat dia? Sementara dia akan hidup bersama kekasihnya.  Tapi aku tetap tak bisa membencinya.  Karena aku memang tulus mencintainya.  Aku lebih bahagia jika melihat dia pun bahagia. Meskipun tidak denganku.


            “Anggaa…,”  ucapku. Aku tersadar dari komaku. Tapi nafasku tersenggal-senggal.
            “Allah.. jangan ambil nyawaku dulu,” doaku dalam hati.

            Itu kata terakhir yang mampu kucapkan, aku tidak bisa berkata apa-apa.  Bibirku tertutup rapat, aku raih kertas putih di samping mejaku. Semua orang memperhatikanku, kak Zafran memberikanku bolpoin merah. Aku tersenyum padanya. Kak Zafran, kakakku yang selalu mengerti aku.

            Aku kuatkan jemariku menulis huruf demi huruf, ‘I Love You … Angga’  hanya  satu kalimat itu yang dapat ku tulis. Bolpoinku terjatuh. Nafasku hilang bersama perasaan legaku. Aku tak tahu kini aku dimana.

             Hanya tangisan yang mengantar kepergianku bertemu Allah,  satu hal yang menenagkanku dalam tidur panjangku. Aku bahagia, persaanku tak ikut terkubur  bersama jasadku.

            Dan cintaku pada Angga… ibarat kuku tangan dan kakiku, meskipun terpotong , tetapi cintaku akan selalu tumbuh..

            Angga, I Love You ….