03/05/14
no image
Khoirony / Warung Ilmu
Orang ateis-materialist sering menuduh orang beragama sebagai orang yang tidak menggunakan logika akal,tapi bila di analisis sebenarnya mereka yang tidak menggunakan logika akal nya dalam memahami Tuhan,mari kita analisis :
Tuhan karena Ia adalah Tuhan maka Ia adalah mesti maha tak terbatas sebab bila Ia terbatas maka otomatis Ia bukan Tuhan.

Karena Tuhan itu maha tak terbatas maka otomatis Ia tak bisa ditangkap oleh mata telanjang,sebab semua yang dapat ditangkap oleh mata telanjang adalah obyek yang terbatas,contoh : mobil,gedung,planet bumi,bahkan semua benda yang ada di alam semesta yang sebesar apapun.

Karena Ia maha tak terbatas berarti semua berada dalam Tuhan,sehingga bila ada yang ingin melihat bentuk wujud Tuhan otomatis ia harus keluar dari dzat Tuhan untuk melihat wujud Tuhan dari jarak cukup jauh,sebagaimana seseorang yang berada didalam sebuah gedung maka bila ia ingin melihat bentuk wujud gedung itu secara utuh maka ia harus keluar dari gedung itu untuk melihatnya dari jarak yang cukup jauh.

Bila Tuhan maha tak terbatas adakah suatu ruangan kosong yang disitu tidak ada Tuhan sehingga dari ruang itu manusia bisa mengambil jarak untuk bisa melihat wujud tuhan ?

Lalu mengapa ateis suliiiiiit sekali memahami Tuhan ? karena mereka terlalu mengandalkan dunia panca inderanya  dalam memahami segala suatu,kekuatan ateis memang pada dunia inderawinya yang sangat awas bila digunakan untuk melihat dunia alam lahiriah material,dan akalnya akan terampil bila digunakan untuk mengelola dunia materi,tetapi kelemahannya adalah pada logika akal yang tidak bisa dipakai secara sistematis bila harus digunakan menelusuri yang abstrak seperti persoalan Tuhan itu.

Ateis tidak menggunakan logika dalam melihat ketertataan alam semesta yang terstruktur yang mustahil bisa lahir dari kebetulan,karena kebetulan yang bisa melahirkan ketertataan itu sama sekali tidak akan pernah ada contohnya didunia ini,lain dengan mekanisme keteraturan yang berasal dari adanya sang desainer maka contohnya melimpah ruah,bahkan anak S.D saja mudah menemukannya : jam tangan,mesin,rumah dlsb.

Ateis tidak menggunakan logika dalam menganalisis masalah sorga neraka,dengan menggunakan kekuatan inderanya mereka memvonis sorga-neraka sebagai suatu yang ‘tidak ada’ padahal mereka tidak pernah meng observasi hingga ke alam akhirat untuk memastikan ketidak beradaannya,secara metodologi sains itu sebenarnya menyalahi aturan bagaimana bisa membuat keputusan ‘tidak ada’ terhadap sesuatu yang tidak ter observasi oleh sains,mengapa tidak mengatakan : diluar jangkauan sains saja ?

Nah itu soal keberadaannya,sedang soal ke rasionalan nya harus dilihat dari kacamata sudut pandang cara berfikir logis tentunya,jangan mengukur rasionalitas dengan mata,jangan karena tidak terlihat mata-tidak terbukti secara empirik maka mempercayainya = irrasional,itu sangat keliru menurut tatacara berfikir logika yang sistematis.

Nah rasionalitas dari sorga-neraka itu harus dihubungkan dengan sebab-akibat atau hukum kausalitas yang berhubungan dengan kehidupan dunia karena sorga-neraka adalah akibat dari sebab adanya kehidupan dunia,artinya muara dari perjalanan hidup manusia di dunia.

Sorga-neraka adalah penataan Tuhan sebagaimana juga Tuhan menata alam semesta sehingga tertata-teratur-terstruktur.nah mungkinkah Tuhan yang menata alam semesta secara terstruktur bahkan hingga ke organnya yang terkecil itu membiarkan kehidupan manusia berjalan secara acak-semrawut-awut awutan tanpa tatanan,sehingga manusia boleh berbuat sesuka hati diatas dunia ini ; mau berbuat baik atau jahat tanpa ada mekanisme pembalasan ?
Nah sorga-neraka adalah konsep Ilahi yang menata peri kehidupan manusia sehingga perikehidupan manusia itu ada mekanisme hukum yang mengaturnya,dan dari mekanisme yang mengatur peri kehidupan manusia itu lahirlah konsep keadilan Ilahi yang bersifat universal yang berlaku untuk keseluruhan umat manusia : seluruh manusia akan memperoleh balasan setimpal dari amal perbuatannya masing masing.yang baik dibalas baik dan yang buruk dibalas buruk.

Itulah selalu ada argumentasi penjelasan logis bagi Tuhan,bagi keyakinan terhadap Tuhan bagi keyakinan terhadap konsep Tuhan.

Sebaliknya pernahkah ada ateis - materialist yang bisa meruntuhkan kebenaran Tuhan dengan argumentasi logika akal yang tertata ? mereka hanya bisa menyerang Tuhan-agama dengan berbekal pemikiran bebas spekulatif semata bukan argumentasi akal yang tertata secara sistematis. anehnya mereka sering merasa sebagai ‘orang yang rasional’ sedang orang beriman malah sering di stigmakan sebagai ‘orang orang yang tidak berfikiran rasional’,sebuah klaim yang aneh bukan ?

Sebab Tuhan memberi manusia akal itu agar manusia bisa membaca kebenaran secara tertata dengan jalan fikiran akal yang tertata,sebab karakteristik akal adalah cara berfikir nya yang tertata,sistematis-mekanistis-matematis,tidak berfikir spekulatif tapi liar dengan menabrak rambu rambu berfikir yang sudah ditetapkan sebagai metodologi berfikir akal.
Logika akal itu peralatan multi fungsi ia bisa membaca-menganalisis-memahami dunia alam lahiriah material,sehingga dunia alam lahiriah material itu bisa di fahami secara tertata melalui hukum hukum yang meliputinya,contoh mekanisme hukum fisika yang menata alam semesta.

Sebaliknya logika akal pun akan memperlakukan dunia abstrak-gaib seperti itu pula yaitu akan berusaha membaca-menganalisis dan memahaminya secara tertata,sebagai contoh ; akal bisa memahami dunia abstrak secara tertata melalui pemahaman terhadap adanya konsep hukum kehidupan dualistik yang mengungkung kehidupan,sehingga kehidupan ini tertata oleh sebuah mekanisme yang menata kehidupan kedalam bentuk konsep dualisme : adanya siang-malam,kehidupan-kematian,adanya muda dibalik tua dst.dst.

Nah mekanisme konsep dualisme hukum kehidupan yang berantai itulah yang digunakan sebagai kerangka kebenaran agama yang bisa dibaca dan difahami oleh cara berfikir akal yang dualistik,sehingga melalui agama manusia dituntun untuk memahami adanya mata rantai mekanisme hukum kehidupan yang berantai hingga ke alam akhirat : ada benar-salah, baik-buruk,sebab-akibat,perbuatan-balasan,kehidupan-kematian, dunia-akhirat,dan ujungnya sorga-neraka.

Akal bisa membaca mata rantai konsep hukum kehidupan yang berantai mulai dari dunia lahiriah hingga ke dunia abstrak,mulai dari alam  dunia hingga ke alam akhirat,sebab akal memang diciptakan sebagai alat pembaca konsep hukum kehidupan yang dualistik.

Sehingga sungguh aneh bukan kalau ber agama malah di identikkan dengan ke irrasionalan…..tapi kunci nya bisa kita fahami bahwa orang yang bersudut pandang materialist itu selalu menggunakan mata-bukti empirik-realitas yang nampak mata,sebagai ‘parameter kebenaran’ sehingga baik definisi pengertian ‘ilmu’ maupun definisi pengertian ‘rasional’ selalu di ukurkan kepada dogma materialist yang utama itu.sehingga definisi  ’ilmiah’ dan ‘rasional’ dianggap merupakan konsep yang selalu harus berpijak pada bukti yang tertangkap mata telanjang secara langsung.dengan dogma matertialist itulah dunia abstrak sering langsung di posisikan sebagai ‘bukan wilayah ilmu’ atau ‘wilayah yang irrasional’.

Artinya kaum materialist mengebiri serta memenjarakan akal dalam keserbaterbatasan dunia inderawinya sehingga akal tidak bisa bebas lepas mengekplorasi dunia abstrak nan luas itu.


no image
Khoirony / Warung Ilmu

Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" (Qs.Al-An'am:50) 

Mempertanyakan keberadaan surga atau pun neraka sama halnya mempertanyakan eksistensi Tuhan. karena dalam hal ini Tuhan-lah yg menciptakan dua tempat tersebut.. berikut ada sebuah hikayat..


Ada seorang ulama ditantang oleh seorang atheis untuk menjawab eksistensi Tuhan.

Si atheis berkata kepada ulama “Saya nggak percaya adanya Tuhan! alam raya ini tercipta dengan hukumnya sendiri..hanya orang-orang gila saja yang percaya kalau alam raya sebesar ini ada yg menciptakan... kita adakan debat terbuka untuk menjelasakan kepada semua orang mana diantara pendapat kita yang paling benar”.
Sang ulama menyetujui tantangan dari atheis ini. kemudian mereka menentukan tempat dan waktunya..

Hari yg ditentukan untuk mengadakan debat terbuka tentang eksistensi Tuhan telah datang.. dengan persiapan yang sangat yakin si atheis telah dulu datang di tempat yang telah ditentukan.. namun si atheis ini dibuat kesal oleh ulama karena hampir satu jam lebih dari waktu yang telah ditentukan sang ulama belum juga datang..

Si atheis berkata kepada para audience “lihat! Seorang yang mempercayai adanya Tuhan nggak konsisten kepada janjinya?! mungkin dia menyerah dan yakin kalau Tuhan memang tdk ada! Makanya dia tdk berani datang!”.

Hampir beberapa saat lagi debat dibatalkan karena sang ulama belum juga datang, akhirnya dia (ulama) terlihat datang menghadiri debat terbuka itu.. si atheis menegur denga suara dikeraskan agar terdengar juga kepada para audience..


atheis : “wah-wah…bagaimana anda ini? bukanya anda seorang yang percaya adanya Tuhan, kenapa anda nggak konsisten sama janji anda? bukanya anda percaya akan ada Tuhan yang menghukum orang2 yang nggak tepat janji? atau anda berniat membatalkan debat ini karena anda sendiri mulai ragu terhadap keyakinan anda?”


ulama : “mohon maaf saya datang terlambat.. saya nggak berniat membatalkan debat ini.. saya tadi terlambat karena saya mendapat halangan dijalan..” sang ulama berusaha menjelaskan sebab keterlambatanya.. “tadi sewaktu saya mau melewati sebuah jembatan tiba2 air sungai meluap, terus menyeret jembatan yang mau saya lewati.. saya bingung harus lewat jalan mana lagi? karena jalan ini satu2nya yang saya tau.. tapi untung saja di saat saay bingung harus melakukan apa? tiba2 dikejauhan saya melihat pohon besar roboh kesungai karena tanahnya terkikis arus.. lalu setiba dihadapan saya pohon itu tiba-tiba bergerak-gerak merubah dirinya menjadi sebuah perahu yang lengkap keadaanya.. bahkan ada nahkodanya.. akhirnya sy menaiki perahu itu untuk menyebrang sungai..”


belum selesai ulama menjelaskan, atheis menimpali sambil tertawa terbahak bahak..

atheis : “hahahaa…cukup..cukup.. nggak usah diteruskan kekonyolan anda.. sepertinya anda sudah mulai gila.. saya dan para audience di sini masih waras.. anda pikir kami akan peracaya cerita anda tadi? sepertinya saya salah orang untuk mengajak anda berdebat dalam masalah ini, karena saya pikir anda sudah gila!.. mana mungkin ada sebuah pohon roboh terseret arus sungai, lalu tiba-tiba didepan anda pohon itu berubah menjadi sebuah perahu bahkan ada nahkodanya pula, lalu menyeberangkan anda dari sungai?!”.

atheis lalu bertanya kepada para audience..

atheis : “bagaimana, apa masih pantas debat ini dilanjutakan? atau ada yang bisa menjadi lawan debat saya yg menjelaskan eksistensi?”audience tidak ada yang menjawab..lalu ulama tadi berkata kepada atheis..

ulama : “sebenarnya aneh sekali jika sampai sekarang anda masih nggak percaya adanya tuhan.. bukankah anda nggak percaya dengan cerita saya bahwa sebongkah pohon dapat merubah bentuk menjadi perahu dan terdapat nahkoda didalamnya? dan menganggap saya orang nggak waras?.. lalu bagaimana anda bisa percaya bahwa alam semesta ini.. dengan segala isinya tercipta karena alam ini bisa membuat dirinya sendiri tanpa ada yang menciptakan?..apa bukan berarti anda lebih tidak waras dari saya?”

si atheis diam nggak bisa berkata apa-apa lagi...akhirnya debat yang akan diperkirakan menjadi debat panjang bersejarah membahas eksistensi Tuhan..berakhir dalam beberapa dialog saja membuat si atheis gugup nggak bergerak..

Subkhanallah..lantas masihkah kita percayai bahwa kita mampu hidup tanpa ada yang menghidupkan?

"Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami).(Qs.Ar-RUUM:53)."
 "Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya. (Qs.Al-Hadiid:17)."


no image
Khoirony / Warung Ilmu
Bila di dunia ini segala suatu secara KESELURUHAN nya bisa ditangkap oleh pengalaman dunia indera dan kemudian bisa di ukur dan diterangkan secara pasti dan terukur oleh metodologi sains ,maka masihkah manusia merasa perlu untuk menela’ah kitab suci ?

Bila didunia ini segala suatu secara KESELURUHAN nya bisa ditangkap-difahami dan diterangkan oleh logika akal yang bertumpu pada sebab akibat yang masih bisa ditangkap oleh pengalaman dunia inderawi (logika dialektika material),maka masihkah manusia merasa perlu untuk menela’ah kitab suci ?

Karena dalam kehidupannya manusia dari berbagai bangsa-golongan diseluruh pelosok bumi menemukan banyak hal yang tidak bisa ditangkap-di ukur dan diterangkan oleh metodologi sains yang serba pasti dan terukur,dan menemukan banyak hal yang tidak bisa diterangkan oleh logika akal yang bertumpu pada sebab akibat yang masih bisa ditangkap oleh pengalaman dunia inderawi,maka bukankah suatu yang rasional bila manusia mencari cari jawabannya dalam kitab suci (?)

Karena dalam peri kehidupannya manusia diseluruh pelosok bumi mengalami berbagai pengalaman dan permasalahan spiritual-batiniah-kejiwaan yang tidak bisa diselesaikan secara pasti dan terukur oleh metodologi sains yang serba pasti dan terukur serta tak bisa diselesaikan oleh metodologi cara berfikir akal yang bertumpu pada sebab-akibat yang masih bisa ditangkap dan difahami oleh pengalaman dunia inderawi (sebab akibat materialist) maka bukankah suatu yang rasional bila manusia mencari jawabannya pada kitab suci (?).

Bila saya sudah mengungkapkan fakta seperti ini masihkah rasional bila ada kelompok - golongan manusia yang ngotot ingin menjadikan parameter sains sebagai hanya satu satunya parameter kebenaran dalam menilai dan mengukur segala sesuatu ?

Bila saya sudah mengungkapkan fakta seperti ini masihkah rasional bila ada kelompok manusia yang ngotot ingin menjadikan parameter cara berfikir logika yang bertumpu pada sebab-akibat materialist sebagai satu satunya parameter kebenaran dalam menilai dan mengukur segala sesuatu ?

Apakah manusia belum juga mengerti bahwa Tuhan menurunkan kitab suci justru untuk memberi jawaban terhadap apapun yang sudah tidak bisa diukur serta tak bisa dijawab oleh parameter sains serta cara berfikir akal yang bertumpu pada logika dialektika materialistik ?

Bila segala suatu di dunia ini bisa ditangkap-dinilai-diukur-dijawab oleh parameter sains serta oleh cara berfikir akal yang bertumpu pada kekuatan pengalaman dunia inderawi maka apa peran agama bagi manusia ?

Ateis ada yang ngotot ingin melenyapkan peran agama ditengah pesatnya perkembangan sains serta makin canggihnya pemikiran bebas spekulatif manusia,padahal justru ditengah pesatnya perkembangan ilmu materi (sains) dan pesatnya pemikiran bebas spekulatif itu manusia selalu berhadapan dengan hal hal yang tidak bisa ditangkap-diukur-dinilai serta dijawabnya.

Jadi hal hal yang tak bisa ditangkap-diukur-dinilai dan dijawab itu tidak hanya ditemui oleh orang biasa dari berbagai pengalaman hidup mereka sehari hari tapi juga dialami oleh berbagai ilmuwan-pemikir dari berbagai disiplin keilmuan kala mereka menggeluti bidang kajian yang mereka hadapi.hanya kemudian diantara mereka ada yang memilih bersandar atau mencari jawabannya kepada kitab suci dan ada yang memilih berspekulasi dengan pemikiran bebas spekulatif nya sendiri..

Ateis sering melecehkan agama dengan berbagai stigma negative misal menganggapnya sebagai,’ dogma yang berasal dari masa lalu’,’suatu yang tidak berdasar ilmu,’suatu yang hanya ajaran moral’ dlsb. dan seolah ingin menjadikan parameter yang berasal dari dunia sains dan filsafat sebagai satu satunya parameter kebenaran,tetapi fakta menunjukkan bahwa keduanya hanya bisa digunakan pada obyek-wilayah yang terbatas dan sama sekali tidak bisa menjawab permasalahan keilmuan-problem kebenaran yang bersifat mendasar-kompleks dan menyeluruh,misal hal hal yang menyangkut masalah hakikat dan makna-hikmat dari segala suatu yang ada dan atau terjadi.

Ateis sudah bisa menemukan sesuatu yang bisa menjawab seluruh persoalan yang ditemui manusia (?), sehingga mereka dengan percaya dirinya ingin menyingkirkan peran agama dalam menjawab segala persoalan yang ditemukan manusia ?

Atau ateis merasa sudah mengetahui rahasia hakikat dan hikmat dari segala suatu yang ada dan terjadi (?) sehingga mereka dengan percaya dirinya ingin menyingkirkan peran agama dalam menjawab segala persoalan yang ditemukan manusia (?)

Atau ateis menyangka bahwa hakikat dan hikmat dari segala suatu yang ada dan terjadi itu bisa ditentukan oleh manusia (?) atau mereka tidak peduli dengan persoalan itu dan hanya peduli dengan hal hal yang sebatas bisa ditangkap dan difahami oleh pengalaman dunia inderawi (?)

Faktanya dalam perdebatan mereka seolah selalu mempermasalahkan hal hal yang serba bersifat teknis seperti faktor ‘fakta-bukti empirik’ walau ‘fakta’ yang mereka ajukan atau permasalahkan terkadang rancu karena tercampur baur dengan ‘teori’,sehingga terkesan sulit membedakan antara ‘fakta’ dengan ‘teori’ yang memang untuk  mengungkap kebenaran hal itu wajib dipilah dan dibedakan secara tegas.

Dan mencampur adukan pengertian ‘teori’ dengan ‘fakta’ juga bisa berbahaya sebab bisa menimbulkan fitnah besar yang membuat agama dan realitas nampak berbenturan,contoh : ateis tertentu mungkin ada yang ingin memaksakan agar teori ‘manusia purba’ atau teori ‘manusia kera’ untuk dianggap sebagai fakta,padahal itu jelas sebuah fitnah ilmiah,sebab semua yang berhubungan dengan ‘manusia purba’ atau ‘manusia kera’ adalah baru hanya sebatas teori bukan ? artinya bukan sesuatu yang sudah merupakan fakta dengan bukti empirik yang 100 persen autentik seperti bukti autentik mummi Fir’aun.

Artinya mereka seperti tidak mau mempermasalahkan faktor ‘hakikat’ apalagi yang lebih dalam lagi : makna-hikmat dari segala suatu yang ada dan atau terjadi,sebagaimana para filsuf klasik masih mempermasalahkannya padahal ujung atau muara dari problem kebenaran justru akan bersinggungan dengan hal hal yang bersifat mendasar seperti masalah ‘hakikat’ dari segala suatu yang ada atau terjadi.

Sebab problem ‘hakikat’ dan ‘hikmat’ justru adalah problem inti atau essensi atau saripati dari seluruh realitas yang ada atau terjadi yang ditangkap oleh pengalaman dunia indera manusia,dimana hal demikian pula yang lebih ditekankan oleh konsep ajaran agama.

Sehingga perbedaan mendasar antara konsep agama dengan ateisme adalah yg satu lebih orientasi ke essensi-ke saripati dan yang satu lebih orientasi ke ‘permukaan kulit luar’.


no image
Khoirony / Warung Ilmu
Bantahan Atas Paradigma Kaum Atheis

oleh Islamic Science Group (ISG)
Assalaamu ‘alaa manittaba alhudaa
( Semoga keselamatan diberikan kepada orang yang mengikuti petunjuk.)


Serangkaian teori, konsep dan pemikiran yang diuraikan pada pembahasan sebelumnya Agama dan Tuhan, Pandangan Kaum Atheis disadari atau pun tidak telah memperangkap kebanyakan orang dalam paradigma kaum Atheis yang menolak keberadaan agama, Tuhan dan ajarannya. Dalam Bab 2 ini penulis mencoba untuk kembali mendiskusikan konsep dan pemikiran tersebut dengan kejernihan dan ketajaman berpikir kita. Dalam pembahasan ini diharapkan akan timbul kesadaran pembaca akan kekeliruan dalam cara pandang dan pola berpikir selama ini.

1. Manusia, Makhluk yang Lemah
Dalam diri manusia terdapat suatu potensi yang disebut akal atau rasio. Akal berfungsi untuk berpikir, dalam rangka mendapatkan pengetahuan dan mencari kebenaran. Mencari kebenaran merupakan hasrat manusiawi, sebagai makhluk yang berakal. Guna mendapatkan pengetahuan dan kebenaran tersebut, dalam diri manusia juga dilengkapi perangkat yang namanya panca indera berupa mata, telinga, hidung, kulit dan lidah. Dengan panca indera ini manusia berusaha untuk menangkap fenomena alam dan lingkungan, yang kemudian akan ditransfer ke dalam akal untuk diolah menjadi sebuah pengetahuan. Dengan proses menangkap fenomena alam oleh panca indera dan menstranfer ke dalam akal, secara menerus itulah, manusia berusaha untuk mencari kebenaran. Namun panca indera yang digunakan untuk mengenali dan menangkap fenomena alam dan lingkungan ini memiliki keterbatasan dan kelemahan. Mata misalnya, hanya dapat melihat pada jarak tertentu saja dan menginformasikan dengan benar apa yang dilihatnya. Tetapi diluar jarak yang mampu dilihatnya itu, mata tak mampu melihat obyek secara tepat, sehingga yang diinformasikan ke dalam akal pun pengetahuan yang keliru. Terhadap obyek yang cukup jauh mata tak mampu melihat secara tepat, seperti melihat gunung dalam jarak yang jauh seolah berwarna biru, melihat laut seolah berwarna biru, melihat dua garis sejajar (rel kereta api) seolah bertemu pada satu titik, melihat pinsil yang dimasukkan sebagian ke dalam air di ember seolah patah dan masih banyak lagi contoh lainnya. Telinga dalam fungsinya sebagai indera pendengar, juga memiliki keterbatasan. Telinga hanya mampu mendengarkan suara dengan frekuensi tertentu saja. Pada suara yang sangat lemah ataupun suara yang sangat keras, telinga tak dapat berfungsi dan menginformasikannya pada akal. Dan sering informasi yang ditangkappun keliru ketika ditransfer ke akal. Demikian pula indera-indera lainnya memiliki keterbatasan dan kelemahan. Padahal panca indera inilah yang diandalkan untuk memberikan masukan pengetahuan pada akal/otak untuk dianalisis dan disimpulkan menjadi suatu kebenaran. Akal atau rasio manusia yang digunakan untuk berpikir, mengolah informasi mengenai fenomena alam dan lingkungan yang diberikan oleh panca indera ternyata juga memiliki keterbatasan dan kelemahan. Memang dengan akal manusia bisa mengolah informasi, membentuk pengertian-pengertian, pendapat-pendapat, kesimpulan- kesimpulan suatu pengetahuan. Tetapi pengetahuan yang mampu didapatkan sebatas pada informasi yang diberikan oleh panca indera (yang sering keliru), dan kemampuan berpikirnya juga sebatas pengalaman-pengalaman yang pernah didapatnya. Kalaupun berpikir untuk sebuah idea dan gagasan baru, tetap terbatas pada abstraksi yang mampu dibentuknya yang sifatnya subyektif. Sehingga belum tentu bisa diterima orang lain dan komunitas lainnya. Maka kebenaran yang didapatnya adalah kebenaran yang subyektif, kebenaran yang relative sifatnya. Tidak bisa dijadikan sebagai pedoman. Emmanuel Kant (1724-1804) dalam bukunya yang terkenal Critic der Theoritische Vernunft, mengakui akan keterbatasan akal manusia. Dia menandaskan bahwa penyelidikan dengan akal (budi) benar-benar dapat memberikan sesuatu pengetahuan mengenai dunia yang tampak, akan tetapi akal (budi) itu sendiri tidak sanggup untuk membeikan kepastian-kepastian, dan bahwa berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan terdalam mengenai Tuhan, manusia, dunia, dan akhirat, akal (budi) manusia itu tidak mungkin memperoleh kepastian-kepastian, melainkan hidup dalam pengandaian.

2. Kelemahan Teori-teori Filsafat Barat

Teori dan konsep filsafat barat yang telah mempengaruhi cara pandang dan pola berpikir kebanyakan orang selama ini juga terdapat banyak kelemahannya. Marilah kita coba bahas teori dan konsep yang ada pada bab satu secara rinci sebagai berikut:
a.   Klarifikasi atas Pandangan Marx

Menurut Marx, agama sebagai candu masyarakat. Dalam pandangan Marx, agama seperti candu, ia memberikan harapan-harapan semu, dapat membantu orang untuk sementara waktu melupakan masalah real hidupnya. Seorang yang sedang terbius oleh candu/opium dengan sendirinya akan lupa dengan diri dan masalah yang sedang dihadapinya. Bagi Marx, agama juga merupakan medium dari ilusi sosial. Agama tidak berkembang karena ada kesadaran dari manusia akan pembebasan sejati, tetapi lebih karena kondisi yang diciptakan oleh orang-orang yang memiliki kuasa untuk melanggengkan kekuasaannya. Propaganda agama yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan dipandang oleh Marx sebagai sikap meracuni masyarakat. Pernyataan Marx bahwa agama sebagai candu masyarakat, muncul tatkala dia mengamati realitas empiris di sekitarnya pada saat itu, dimana orang beragama dan melakukan ritualitas karena menghindari realitas hidup yang dihadapinya dan agama mampu meninabobokan para penganut agama tersebut. Juga masalah penyebaran agama yang dilakukan oleh tokoh-tokoh agama untuk melanggengkan kekuasaan bisa dimaklumi, karena memang demikian kenyataan saat itu. Dan ini terjadi pada agama Kristiani, yang menjadi fokus kritik Marx pada fungsi politik agama, khususnya yang menjadikan agama sebagai ideologi Negara. Agama telah dijadikan alat pukul oleh Negara untuk membungkam para pemeluknya yang memprotes sikap otoriter para pemimpin politik dan ekonomi Prussia.

Pandangan Marx tersebut tak bisa digunakan untuk menggeneralisir semua agama. Juga keterbatasan kemampuan Marx dalam memahami tentang agama secara hakekat, maksud dan tujuan-lah yang mengantarkannya pada pengetahuan tersebut.


b. Materi Bukan Segalanya

Materialisme menganggap segala yang ada adalah materi. Unsur pokok, dasar dan hakekat segala sesuatu yang ada itu materi. Materi adalah suatu yang abadi, tidak diciptakan dan ada dengan sendirinya. Materi adalah awal dan akhir kehidupan. Paham materialisme menganggap pikiran, gagasan dan idea merupakan hasil dari kerja materi. Pada akhirnya paham materialisme mengingkari keberadaan agama dan Tuhan. Pandangan yang menyatakan bahwa segala yang ada materi adalah sebuah kekeliruan. Dalam diri manusia sendiri, disamping adanya materi juga ada unsur non materi yang mampu menggerakkan tubuh materinya. Yang membuat tubuh materi tersebut hidup. Dan ketika manusia meninggal, ada sesuatu yang lepas dari tubuh materinya. Lalu bagaimana materialisme memandang sesuatu (yang non materi) yang lepas dari tubuh tersebut?

Dalam kehidupannya, manusia juga dihadapkan berbagai hal yang non materi. Energi listrik yang mampu menggerakkan peralatan elektronik, yang terdiri dari elektronelektron bersifat gelombang tak bisa dikatakan sebagai materi. Energi tersebut

kenyataannya ada, dan manusia tak pernah dapat menangkapnya secara langsung. Masih banyak lagi dalam dunia ini “sesuatu” yang bukan materi. Dus anggapan bahwa segala sesuatu adalah materi tidak lah tepat. Dan teori materialisme tak bias dijadikan dasar pengetahuan akan sebuah kebenaran.

c. Berpikir Tak Dapat “mengadakan” Sesuatu

Apa yang dikatakan Rene Descartes yaitu “cogito ergo sum” yang artinya aku berpikir, maka aku ada, bukanlah bermakna bahwa dengan berpikir mampu “mengadakan” sesuatu. Hakekat berpikir adalah bertanya, bertanya adalah mencari jawaban. Maka dengan berpikir akan didapat suatu pengetahuan, suatu kepahaman, kesadaran akan adanya sesuatu. Berpikir bukanlah bisa mengadakan sesuatu tetapi hanya bisa menyadari keberadaan sesuatu. Kenyataannya sejumlah benda yang ada di sekitar kita, baik kita pikirkan maupun tidak, tetaplah ada. Dan suatu benda yang tak ada, tak akan pernah diwujudkan hanya dengan sekedar berpikir. Terhadap sesuatu yang tidak nyata, yang kemudian kita pikirkan adanya hanyalah dalam abstraksi pada pikiran kita. Anggapan bahwa Tuhan pada kepercayaan orang-orang beragama, hanyalah hasil rekayasa pikiran, adalah sebuah kesalahan. Jika Tuhan merupakan hasil rekayasa pikiran, betapa hebatnya pemilik pikiran tersebut yang mampu merekayasa adanya Tuhan. Dan seseorang akan merekayasa sejumlah Tuhan sesuai keinginannya. Jika pemilik pikiran tersebut mengalami kematian, Tuhan pun akan ikut mati. Maka untuk peran apakah Tuhan direkayasa? Demikianlah, sesungguhnya pikiran manusia tidak akan pernah menjangkau hakekat keberadaan Tuhan. Apalagi merekayasa atau menciptakan Tuhan, kecuali hanyalah Tuhan-tuhan illutif dan Tuhan-tuhan semu.

d. Skeptisisme Kaum Atheis

Perkembangan pemikiran manusia baik perorangan maupun masyarakat, menurut Comte, melalui tahapan zaman teologi, metafisi dan positif. Pada zaman positif yang ditandai dengan kemajuan dan perkembangan sains dan teknologi, manusia sudah tidak lagi membutuhkan kepercayaan, agama maupun Tuhan, karena seluruh persoalan telah mampu diatasi dengan sains dan teknologi itu sendiri. Pandangan demikian jauh dari kenyataan. Tahapan-tahapan secara keilmuan, bisa saja terjadi perkembangan pemikiran manusia, namun masalah kepercayaan, agama dan Tuhan, tak sepenuhnya hilang dari

pemikiran mereka, meski berusaha mereka ingkari. Masyarakat komunis yang anti Tuhan, yang menolak keberadaan Tuhan pun tak sepenuhnya bisa menghilangkan akan perasaan akan adanya Tuhan. Mereka sendiri sebetulnya skeptis (meragukan) akan apa yang dipahaminya tentang ketiadaan Tuhan. Bahkan pada saat-saat tertentu, mereka masih berharap adanya kekuatan-kekuatan di luar dirinya (mistis) yang bisa menolongnya. Dan pernyataan “God is dead” adalah lontaran dari kesombongan ilmiah, kesombongan intelektualitas yang menyesatkan, yang sebenarnya merupakan pengingkaran akan hati nurani sendiri.

3. Kelemahan Teori-teori Kebenaran
Sebagai makhluk yang mencari kebenaran, manusia dengan potensi akalnya akan terus berusaha untuk menemukan hakekat kebenaran. Namun pengetahuan hanya mengantarkan pada kebenaran-kebenaran yang subyektif. Kebenaran-kebenaran yang secara teoritis merupakan hasil temuan ilmiah yang sebetulnya memiliki banyak kelemahan, yang bisa kita diskusikan berikut ini :
a.     Kelemahan Teori Koherensi

Teori kebenaran ini banyak dianut oleh kaum idealis, menurut mereka sesuatu yang disebut benar itu adalah yang benar menurut idea dan dalam idea tanpa memperhatikan fakta. Plato mengatakan bahwa yang disebut kuda yang sebenarnya adalah kuda yang ada dalam idea. Sedangkan kuda menurut kenyataan dan yang nyata adalah bayangan dari kuda yang ada dalam idea. Dari pernyataan Plato ini lalu timbul pertanyaan “Plato yang sebenarnya itu ada dalam idea siapa?”, mengingat dari teorinya sendiri menyatakan bahwa Plato yang ada adalah bayangan dari Plato yang ada dalam idea (pikiran). Filosof Britania Bradley (1864 -1924) sebagai penganut idealisme menyatakan bahwa kebenaran itu tergantung pada orang yang menentukan tanpa harus memandang realitas peristiwa, asalkan dalam pikiran itu ada, jika pikiran itu tidak ada maka apapun yang ada di dunia ini tidak ada. Padahal orang yang berakal sehat akan mengatakan bahwa setiap yang ada di luar manusia, berpikir atau tidak berpikir kalau zat/sesuatu tersebut memang ada, maka akan tetap ada.

b.   Kelemahan Teori Korespondensi

Sesuatu itu benar jika sesuai dengan fakta, atau dapat dikaji dengan fakta. Ternyata dalam realitasnya tidak semua masalah dapat dikaji berdasarkan fakta. Misalnya aliran listrik yang mengalir dalam suatu penghantar yang faktanya dapat dirasakan berupa gejala-gejala listrik yang ditimbulkannya (aliran listrik) akan tetapi hal yang sesungguhnya berupa gerakan-gerakan electron yang tidak dapat dilihat, dibaui, didengar atau bahkan dirasakannya bukan gerakan-gerakan yang sesungguhnya itu hanya ada dalam pikiran. Begitu juga cinta, tidak dapat dikaji dengan fakta akan tetapi yang dapat dikaji dengan fakta-fakta hanyalah akibat atau gejala dari cinta itu.

c. Kelemahan Teori Pragmatisme

Sesuatu dianggap benar jika bermanfaat, teori ini bagaimana kalau diterapkan terhadap pernyataan “Menyontek sewaktu ujian” dan ” Mencuri” serta “Narkoba”, apakah ketiga hal tersebut merupakan kebenaran? Kalau ya, kenapa setiap siswa/mahasiswa ujian selalu dijaga ketat, dan jika ketahuan ada yang menyontek diberika sangsi? Lalu mencuri. Apakah dengan mencuri yang mana hasil dari curian tersebut sangat bermanfaat bagi si pencuri itu juga dapat dikatakan benar? Kemudian dengan keberadaan narkoba (narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya) apakah juga dibenarkan oleh akal sehat dan diterima oleh setiap orang?

4. Kelemahan Metode Ilmiah
Untuk bisa mendapatkan kebenaran ilmiah, harus dilakukan melalui metode ilmiah. Kebenaran seperti apa yang dihasilkan dari metode ilmiah? Sebetulnya kalau kita mau cermati, maka metodologi ilmiah itu sendiri memiliki kelemahan bahkan sangat lemah untuk bisa digunakan mencari hakekat kebenaran. Dalam metodologi ilmiah, harus memenuhi persyaratan empiris, obyektif, rasional dan sistematis. Empiris berarti suatu kebenaran berdasarkan pengalaman yang dapat ditangkap dengan pancaindra, dan dapat dibuktikan. Padahal sebagaimana dalam uraian mengenai kelemahan panca indra kita yang tak pernah mampu berfungsi terhadap seluruh obyek dan mampu menangkap dengan tepat apa yang dilihat, didengar dan dirasakan. Maka pengetahuan sebagai hasil dari pengalam berdasarkan panca indera, tak sepenuhnya benar. Obyektif berarti suatu kebenaran harus mengandung nilai obyektifitas, berdasarkan fakta yang menjadi obyek pengetahuan, bukan berdasarkan yang menilai atau yang mengamati (subyek-nya). Dalam kenyataannya, banyak pengetahuan yang dijadikan sebagai kebenaran hanya atas asumsi dan dugaan sementara dari orang perorang. Jadi kebenaran tersebut sebenarnya bersifat subyektif, yang belum tentu dapat diterima orang lain. Rasional berarti kebenaran tersebut bersumber dari akal (rasio) atau pikiran manusia, dimana pengalaman-pengalaman hanya sebagai perangsang bagi pikiran. Kebenaran demikian merupakan kesimpulan dari pengalaman-pengalaman sebelumnya dan menjadi pengetahuan dalam akal manusia. Namun pada realitasnya banyak kebenaran yang tidak masuk diakal, yang tidak rasional, namun diikuti oleh banyak orang dan dijadikan sebagai sebuah kebenaran. Sistematis berarti berurutan, yakni dalam menemukan kebenaran harus melalui proses yang berurutan. Sistematis sebagai sebuah metode bisa menjadi keharusan, namun tahapan yang dikerjakan secara berurutan itu belum tentu sebagai kebenaran yang hakiki. Berdasakan uraian dan penjelasan tersebut diatas, maka metodologi ilmiah sebagai cara untuk menemukan kebenaran tidak bisa untuk dijadikan patokan secara mutlak. Kebenaran yang didapat dari metodologi ilmiah sebatas kebenaran yang relative, bahkan terkadang tidak konsisten dengan persyaratan ilmiah itu sendiri.

5. Teori Asal Usul Kehidupan dan Evolusi Darwin

Uraian mengenai asal usul kehidupan yang penulis kemukakan dalam bab satu, merupakan hasil dari sebuah kajian dan penelitian ilmiah. Maka dengan mengetahui akan kelemahan metode ilmiah tersebut, kita tak bisa menjadikan teori-teori asal usul kehidupan diatas sebagai pengetahuan yang benar.. Dalam kebenaran ilmiah senantiasa terjadi perubahan dan pembaharuan manakala ada hasil temuan dan penelitian lainnya yang dapat menumbangkan teori pengetahuan sebelumnya. Inilah sifat kebenaran ilmiah. Kebenaran teori-teori tersebut bersifat relative. Teori Darwin tentang evolusi sudah banyak yang menyanggah. Telah terbukti ketidakbenarannya. Dalam teorinya mengenai evolusipun tak memperoleh data lengkap. Ada mata rantai yang terputus (missing link}. Demikianlah, teori evolusi Darwin ini juga tak bisa dijadikan sebuah pengetahuan yang benar. Harun Yahya mengupas cukup dalam tentang tipudaya teori evolusi Darwin ini dalam bukunya “Allah is Known Through Reason” yang diterjemahkan Muhammad Shodiq, S. Ag. Menurut Harun, teori evolusi adalah suatu filosofi dan konsepsi dunia yang menghasilkan suatu keasalahan hipotesis, asumsi dan scenario khayalan dengan tujuan menjelaskan keberadaan dan asal-usul kehidupan dengan hanya secara kebetulan. Filosofi ini berakar jauh di zaman lalu sekuno Yunani-kuno. Ide khayal Darwin dianut dan dikembangkan oleh kalangan ideologis dan politis tertentu dan teorinya menjadi sangat populer. Alasan utamanya adalah bahwa tingkat pengetahuan saat itu belum memadai untuk menyingkapkan bahwa skenario imajinasi Darwin itu sala. Ketika Darwin mengajukan asumsinya, disiplin ilmu genetika, mikrobiologi, dan biokimia belum ada. Jikalau ada, Darwin mungkin dengan mudah mengenali bahwa teorinya tidak ilmiah sama sekali, dan sehingga takkan ada yang berusaha mengajukan pernyataan omong kosong tersebut, informasi yang menentukan spesies telah ada dalam gen dan seleksi alamiah tidak mungkin menghasilkan spesies baru dengan mengubah gen. Pada masa bergaungnya buku darwin, ahli botani Austria yang bernama Gregor Mendel menemukan kaidah pewarisan sifat di tahun 1865. Meskipun kurag dikenal hingga akhir abad itu, penemuan Mendel menjadi sangat penting awal 1900-an dengan lahirnya ilmu genetika. Beberapa waktu kemudian, struktur gen dan kromosom itemukan. Pada 1950-an, penemuan molekul DNA, yang menghimpun informasi genetik, menempatkan teori evolusi pada krisis yang hebat, karena keluarbiasaaan informasi dalam DNA, tidak mungkin diterangkan sebagai kejadian kebetulan. Selauin semua perkembangan ilmiah ini, tidak ada bentuk-bentuk transisi, yang diduga menunjukkan evolusi organisme hidup secara bertahap dari yang primitif menuju spesies yang maju, yang pernah ditemukan walaupun dengan pencarian bertahun-tahun.


6. Existensi Tuhan
Kebenaran yang dicapai dengan melalui ilmu pengetahuan maupun filsafat hanya kebenaran yang bersifat subyektif, kebenaran yang bersifat relative bukan kebenaran yang hakiki. Karena perangkat yang digunakan untuk mencapai kebenaran tersebut diatas memiliki keterbatasan dan kelemahan. Panca indera dan akal manusia memiliki keterbatasan untuk mencapai pada kebenaran yang hakiki. Dengan mengakui relativitas manusia sebagai bagian dari alam, akan membawa konsekuensi logis, sesuatu yang tidak relative, yang berada “di luar” alam. Jadi “Ada” sesuatu sebelum dan sesudah adanya alam. Ada sesuatu yang tak terjangkau panca indera dan akalnya, “sesuatu” itulah yang mengawali dan mengakhiri kehidupan ini. “Sesuatu” yang memiliki super power, yang menciptakan alam semesta beserta isinya, yang mengelola dan mengatur ciptaannya. Terhadap “sesuatu” itu, orang menyebutnya dengan “Tuhan”. Banyaknya suku, bangsa, aliran, kepercayaan dan agama menimbulkan banyaknya konsepsi akan ketuhanan dari masing-masing komonitas. Untuk melakukan pendekatan akan pengetahuan mengenai Tuhan yang hakiki, kita perlu mengenal karakteristik dari Tuhan yang bisa diakui secara obyektif, sebagai kebenaran universal. Dari uraian bab sebelumnya dan pembahasan mengenai kelemahan ilmu pengetahuan dan filsafat, kita telah ketahui pengetahuan akan kebenaran yang dihasilkannya adalah subyektif, sifatnya relative. Maka Tuhan dalam arti sebenarnya tentu tidak memiliki sifat relative, Tuhan yang tidak terjangkau, yang tidak dikenal dengan akal pikiran manusia. Dia memiliki sifat Mutlak. Mutlak dalam segala kehendak dan perbuatannya. Siapapun tak ada yang dapat mempengaruhi kehendaknya, mempengaruhi perbuatannya, mempengaruhi keputusan-keputusannya. Karakteristik demikian disebut Absolut (mutlak). Karena karakternya mutlak, maka Dia tentu berbeda dengan keberadaan makhluknya. Tak ada sesuatu yang dapat menyerupainya. Menyerupai dalam seluruh sifat, dzat, kehendak dan perbuatannya. Karakteristik demikian disebut Distinct yang artinya berbeda. Karena Tuhan berbeda dengan yang lain, maka Dia juga memiliki karakter yang lain yaitu khas atau unique, artinya tak ada sesuatu yang menyamainya. Demikianlah, Tuhan dalam arti yang sebenarnya memiliki karakter Absolut (mutlak), Distinc (berbeda dengan lainnya) dan Unique (tak ada yang menyamainya). Inilah karakteristik Tuhan yang sebenarnya. Untuk mengenal existensi Tuhan, yang patut kita imani perlu kita teliti dan cermati, dengan cara menganalisis agama atau kepercayaan Ketuhanan yang ada, apakah memenuhi karakteristik Tuhan sebagaimana di atas.


Answering 
no image
Khoirony / Warung Ilmu
assalamualaikum..
Pak ustadz yang saya hormati, saya mempunyai pikiran yang mengganjal dalam benak saya. pemikiran ini berawal dari sebuah forum dimana salah satu anggotanya berkomentar "benarkah alam semesta diciptakan oleh tuhan? lalu siapa pencipta Tuhan sehingga Tuhan itu ada?"
Menurut Pak Ustadz bagaimana saya menjawab pertanyaan seperti diatas apabila ada seseorang yang bertanya seperti kalimat diatas kepada saya.
sekian pertanyaan dari saya. mohon maaf bila ada kata yang kurang berkenan
wassalamualaikum
____________________________________________________________________________________
Waaalaikumussalam Wr Wb
Jika orang-orang atheis berkeyakinan bahwa segala sesuatu haruslah masuk akal agar bisa dipercayai justru pertanyaan yang diajukan olehnya tidaklah masuk akal. Hal ini menandakan bahwa pertanyaan tersebut bukanlah muncul dari akal sehat karena akal sehat tidaklah bertabrakan dengan kebenaran. Akan tetapi pertanyaan itu muncul dari bisikan setan didalam hatinya.
Syeikh Muhammad Shaleh al Munjid mengatakan jika kita membuka perdebatan terhadap pertanyaan Siapa Pencipta tuhan ? maka si penanya akan bertanya lagi : Siapa Pencipta yang Menciptakan Tuhan ? lalu Siapa Pencipta yang menciptakan si Pencipta Tuhan ? begitu seterusnya tanpa ada akhirnya, dan ini tidaklah masuk akal.
Sedangkan seluruh makhluk yang ada berujung pada Sang Pencipta Yang menciptakan segala sesuatu dan tak ada satu pun yang menciptakannya akan tetapi Dia lah Sang Pencipta yang tidak ada selain-Nya, dan inilah yang sesuai dengan akal dan logika. (www.islam-qa.com)
Pertanyaan tersebut hanyalah bersumber dari setan sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairoh bahwa Nabi saw bersabda,”Setan akan mendatangi seorang dari kalian lalu mengatakan,’Siapa yang menciptakan ini ? Siapa yang menciptakan ini? sehingga dia akan berkata,’Siapa yang menciptakan Tuhanmu? Dan apabila dia menghinggapinya maka berlindunglah kepada Allah darinya dan hendaklah dia menyudahinya.”
Imam Muslim juga meriwayatkan dari Abu Hurairoh berkata bahwa Nabi saw bersabda,”Manusia akan senantiasa bertanya hingga yang dikatakan,’Ini adalah Allah yang menciptakan makluh lalu siapakah yang menciptakan Allah?’ dan barangsiapa yang mendapatkan sedikit saja tentang hal ini maka katakanlah ‘Aku beriman kepada Allah.”

Nabi saw bersabda,”Manusia senantiasa bertanya hingga seorang dari mereka berkata,”Ini Allah yang menciptakan makhluk lalu siapakah yang menciptakan Allah?’ Apabila mereka mengatakan demikian maka katakanlah :
اللهُ أَحَدٌ، اللهُ الصَّمَدُ، لمَ يَلِد وَلمَ يُولَد، وَلمَ يَكُن لَهُ كُفُواً أَحَد
(Allah Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.)
Kemudian meludahlah ke sebelah kiri tiga kali dan berlindunglah (kepada Allah) dari godaan setan.”
Dengan demikian jelaslah bahwa pertanyaan semacam itu adalah dari setan yang ingin merusak agama dan akal sehatnya dan mejauhkannya dari Allah swt dan kebenaran.

Mungkin saja jawaban seperti ini tidak diterima oleh seorang yang kafir kepada Allah dikarenakan sifat inkar dan dusta yang ada didalam hatinya telah menutupi kebenaran dan akal sehatnya namun tidak bagi seorang mukmin yang hatinya senantiasa hidup dengan mengingat Allah serta meyakini bahwa Allah adalah Sang Pencipta seluruh makhluk-Nya dan Dia lah Yang Awal dan Yang Akhir.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Artinya : “Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin; dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Hadid : 3)
Nabi saw apabila hendak tidur maka beliau berbaring diatas bagian sebelah kanan tubuhnya lalu berdoa :
اللَّهُمَّ، رَبَّ السَّمَوَاتِ وَرَبَّ الأَرضِ وَرَبَّ العَرشِ العَظِيم، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيءٍ، فَالِقَ الحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنزِلَ التَّورَاةِ وَالإِنجِيلِ وَالفُرقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِن شَرِّ كُلِّ ذِي شَرِّ أَنتَ آخِذُ بِنَاصِيَتِهِ، اللَّهُمَّ، أَنتَ الأَوَّلُ فَلَيسَ قَبلَكَ شَيءٍ، وَأَنتَ الآخِرُ فَلَيسَ بَعدَكَ شَيءٍ، وَأَنتَ الظَّاهِرُ فَلَيسَ فَوقَكَ شَيءٍ، وَأَنتَ البَاطِنُ فَلَيسَ دُونَكَ شَيءٍ، اقضِ عَنَّا الدَّينَ، وَأَغنِنَا مِنَ الفَقرِ."\

“Wahai Allah Tuhan langit dan Tuhan bumi serta Tuhan arsy yang agung. Wahai Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, Yang menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan, Yang menurunkan taurat, injil dan al Furqon. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan setiap pemilik kejahatan. Engkaulah yang menggenggam ubun-ubunnya. Wahai Allah, Engkaulah Yang Awal dan tidaklah ada sesuatu sebelum-Mu. Engkaulah Yang Akhir dan tidaklah ada sesuatu setelah-Mu. Engkaulah Yang Zhahir dan tidaklah ada sesuatu diatas-Mu, Engkaulah Yang Bathin dan tidaklah ada sesuatu tanpa-Mu maka tunaikanlah hutang kami dan cukupkanlah kami daripada kefakiran.”
Wallahu A’lam


no image
Khoirony / Warung Ilmu
Beberapa tahun yang lalu ada acara di TV (dari BBC, kalau tidak salah) yang berjudul“the problem with atheism” yang memberikan banyak masukan dan info baru tentang ide ateisme. meskipun para penganut ateisme rata rata dianggap “pinter” karena mereka bergelar professor dan juga guru besar, namun ternyata cara berfikir mereka sangat mudah dipatahkan. Di dalam acara TV (semacam dokumenter) ini di jelaskan sebagai berikut:

Orang Ateis Mempunyai keyakinan:
*Orang yang percaya akan adanya Tuhan adalah orang yang berhalusinasi jadi mereka tidak mau termasuk orang2 yang berhalusinansi hingga akhirnya mereka memutuskan untuk tidak percaya akan adanya Tuhan yang menciptakan segala hal.
*Agama adalah virus membahayakan yang membuat manusia lemah dan tidak berfikir rasional (scientific).
*Agama adalah sumber masalah dan peperangan
*Awal mula dunia ini bisa diterangkan dengan Big Bang Theory.
*Mereka sangat mendewakan proses berfikir sceintific karena proses ini diyakini sangat reliable dan akurat (menurut pengakuan mereka).

Di film dokumenter (berdurasi satu jam) itu ditunjukkan sanggahan yang sekaligus menjawab kelemahan mereka:

#Kalau memang mereka yakin bahwa percaya pada adanya Tuhan adalah sebuah halusinansi saat yang sama ternyata mereka tidak membuktikan KETIDAK BERADAAN Tuhan! Jadi sama saja dengan posisi orang yang mereka tuduh. Mereka menganggap Tuhan itu tidak ada karena tidak ada buktinya tapi di saat yang sama mereka juga tidak bisa membuktikan secara absolut ketidak beradaan-Nya

#Jika agama dianggap sebagai Virus yang tiba-tiba menginfeksi maka ahli virologi sendiri menentangnya karena virus itu sifatnya masuk tanpa disadari oleh orang yang terinfeksi, sedang orang yang beragama selalu sadar akan kepercayaan yang mereka pilih. tidak pernah terjadi dalam sejarah manusia orang tidur tiba-tiba bangun kemudian menjadi Kristen atau Muslim. semua melalui proses kesadaran yang sama sekali berbeda sama sekali dengan sifat infeksiusnya Virus.

#Kalau memang agama menyebabkan peperangan2 dan tindakan kejam, apakah ada jaminan negara ateisme akan damai tanpa perang dan tindakan kriminal?bagaimana dengan negara Rusia? diktator Hitler yang telah membunuh ratusan ribu orang yang beragama? Bukankah hal yang sama juga terjadi? karena sebenarnya jika negara berdasar pada agama dan dijalankan dengan benar tanpa disalah-gunakan maka yang ada adalah sebuah keharmonisan karena agama sendiri datang dari Pencipta Manusia.

#Kalau memang benar Darwin adalah tokoh ateisme kenapa Darwin sendiri mengakui dalam bukunya bahwa dia mengawali teori proses evolusi ini dengan sebuah paradigma bahwa memang ada Designer atas keberadaan kera, dan sama sekali dia tidak menyebutkan bahwa kera itu ada dengan sendirinya atau ada dari Big Bang. Darwin hanya meneliti proses gradual perubahan kera menjadi manusia (yg juga masih meragukan). Jadi klaim golongan ateis sudah keliru.

#Mereka memang bisa menerangkan kejadian dari Big-bang sampai dengan sekarang namun mereka selalu lari dari pertanyaan apa yang terjadi sebelum Big Bang!

#Kalau memang cara berfikir scientific adalah akurat kenapa mereka tidak bisa menjelaskan tentang nilai moral? Kenapa mereka kebingungan saat ditanya tentang bagaimana kita harus menjalankan kehidupan sehari hari? karena nilai-nilai moral (saling hormat, respect, sayang menyayangi, aturan hubungan suami dan isteri, pengaturan negara, menghukum para kriminal, aturan hubungan dengan tetangga, mengatur perusahaan, dll) tidak ada dalam ilmu science. ketika mereka ditanya mereka mengakui bahwa mereka mengambilnya dari nilai universal yang jika kita tarik ujungnya akan berakar pada ajaran agama.

Jelas sekali ternyata walaupun manusia ini pintar akan tetapi kalau tidak ditunjukkan dengan cahaya Allah, maka sepintar apapun akan tersesat dan akan berujung pada kebingungan dan ketidak jelasan semata.

Alhamdulillah kita punya Allah, punya Islam, punya petunjuk hidup yang jelas. tidakkah kita ingin membaginya kepada sesama manusia? Mari kita sampaikan Islam – sesuai anjuran Rasulullah saaw – walau satu ayat. Mari kita mencari ilmu yang di anjurkan oleh Islam kapanpun dan dimanapun agar kita selalu dalam guidance yang benar hingga kita tidak akan pernah tersesat.

Alhamdulillah alladzi hadaanaa li hadzaad dien wa maa kunnaa linahtadiya laulaa an hadaana Allah...