03/25/14
Khoirony / Warung Ilmu


Tak kau rasa dunia menyapu dirimu.
Menghabiskan sisa semangatmu dalam damai malam.
Mengikis pengabdianmu.
Terhanyut ilusi kemenangan masa lalu
Tak peduli pada mata mereka
Yang menatap angkuh dari istana
Menunggu tantanganmu
Menantikan teori teori baru dari tatap mata intelekmu
Tak kau pedulikan rintihan isak tangis bayi mereka
Yang lucu menggemaskan dengan balutan debu, sekedar menjadi tameng untu mengemis
Dem sesuap nasi katanya.
Tak perlu kau pedulikan itu .
Atau hanya segenggam apresiasi tanpa aksi yang kau harap.
Berjuta aksi tanpa arti yang menyuarakanmu.
Demi secuil ritual tak berarti.
Hitammu memudar
Tak mampu menahanmu untuk tetap independen.
Hijaumu tak lagi mampu mendamaikan ibu pertiwi
Tak mampu lagi menentramkan bayi bayi mungil
Yang galau termakan zaman
Yang tangisnya tak dapat lagi memecah kesunyian
Warnamu memudar karena keangkuhanmu…
Tergilas keegoanmu…

Tak mampu lagi bersinar….



Khoirony / Warung Ilmu
Kau
Tatapan matamu penuh teka teki
Tutur katamu ku artikan sebagai motivasi
Tingkah lakumu ku rasa penuh arti

kau seperti pelangi, warna di duniaku...
memberi warna pada hidupku yang abu-abu
namun Pelangi itu akan pudar seiring berjalanya waktu
hanya tinggal menunggu detik-detik waktu…

Tak tau harus mencari warna pengganti kemana
ke toko,  pasar, all?
atau hanya satu di dunia ini.

Sebentar lagi…
Sebentar lagi warna mu akan memudar di hidup ini

Sungguh aku tak ingin warnamu memudar di hidupku
Bahkan aku tak ingin Awan putih menutupimu...
Tapi itu sepertinya tak mungkin

Kini akku tak bisa lagi melihat warna mu
Warnamu telah pudar meninggalkn awan yang putih
Bahkan awan hitam pun ikut menutupi keindahan warnamu….

Terima kasih
Terima kasih telah memberi warna di hidupku.
Meski sekarang kau bukan milikkku
Apakah kau akan tetap mengenalku….?