03/29/14
no image
Khoirony / Warung Ilmu
Maraknya judi di masyarakat telah merusak sistem sosial masyarakat, apalagi di Indonesia para penjudinya adalah dari kasta bawah yang ekonominya pas-pasan. Dengan lamunannya itu, mereka bermimpi untuk menjadi kaya dengan mengadu nasib dan peruntungan.

Tak jarang kita mendengar cerita karena judi  tersebut harta benda dijual, rumah dan tanah digadaikan. Parahnya ada yang tega anak dan istri menjadi taruhan untuk menutupi hutang karena kalaha berjudi. 

Kebiasaan judi disamping menimbulkan masalah sosial, seperti penyebab kemiskinan, perceraian, anak terlantar dan putus sekolah dan membudayakan kemalasan, juga bersifat kriminogen, yaitu menjadi pemicu untuk terjadinya kejahatan yang lain.

Demi mendapatkan uang berjudi, penjudi dapat merampok, mencuri, korupsi, membunuh dan KDRT. Disisi lain, bisnis judi juga merupakan simbiosis dari bisnis kejahatan lain seperti prostitusi dan narkoba.

Yang sedang marak juga adalah judi online, remaja banyak yang bermain poker online untuk mengisi luangnya, sebaiknya segera hentikan sebelum segalanya menjadi berantakan.



Khoirony / Warung Ilmu

https://www.google.com/search?q=Mo-Limo(3)%2C+Illuminati+Menghendaki+Semua+Manusia+Sesat+Bagai+Iblis&oq=Mo-Limo(3)%2C+Illuminati+Menghendaki+Semua+Manusia+Sesat+Bagai+Iblis&aqs=chrome..69i57.569j0j1&sourceid=chrome&espv=2&es_sm=122&ie=UTF-8/


no image
Khoirony / Warung Ilmu
KRISIS CINTA dan kasih sayang yang mewarnai relasi antarumat Islam dalam berbagai segi dan bidang kehidupan, seolah menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang mengajarkan pentingnya menyintai dan mengasihi sesama. Umat Islam pun seakan tidak memiliki figur sentral yang mampu meneladankan ketulusan untuk saling menyintai, mengasihi serta menyayangi. Akibatnya, di antara mereka, muncullah perasaan saling curiga, iri, pengkhianatan, saling merendahkan, memfitnah, menggibah, mendengki, mendendam, bertikai, menzalimi, menindas, bahkan saling mencelakakan.

Munculnya gejala krisis cinta dan kasih sayang yang melanda kehidupan banyak kaum muslimin, kerap terjadi di mana-mana. Dari mulai di ruang keluarga, hingga di tempat-tempat kerja. Tidak terkecuali, di institusi-institusi yang mengusung label Islam, gejala krisis kasih sayang  juga sering mewarnai hubungan antarpersonilnya. Sungguh ironi dan menyedihkan. Bagaimana mungkin ukhuwah islamiyahyang kerap digembar-gemborkan itu bisa terwujud secara solid dan kokoh, jika krisis ini tetap terjadi seolah tiada henti. Padahal Rasulullah SAW, pecinta agung yang mulia menegaskan:

“Demi zat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum saling mencintai”(HR. Muslim)

Lemahnya Peneladanan Terhadap Nabi SAW
Menggejalanya krisis cinta dan kasih sayang di kalangan komunitas umat Islam, tentunya  bukan dikarenakan ajaran yang terkandung dalam agama yang dianutnya, dan bukan pula ketiadaan model yang patut dijadikan panutan. Persoalannya adalah lemahnya pengamalan terhadap Islam, serta “ketidakmauan” umat untuk betul-betul meneladani sang pecinta agung yang mulia, Nabi Muhammad SAW. Utamanya dalam konteks ini adalah keteladanan dalam menyintai, mengasihi, dan/atau menyayangi sesama.

Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai figur manusia terbaik. Beliau telah membuktikan kemampuannya dalam membawa manusia dari keterbelakangan pemikiran dan kerendahan akhlak menuju pencerahan dan kemuliaan. Dari kehidupan yang diselimuti kebencian, dendam, dan angkara murka, menuju kehidupan yang diberkahi dengan memaafkan, cinta dan kasih sayang.

“Dan tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’ 107).

Ada yang mengartikan bahwa “rahmat” di sini adalah pencurah kasih sayang. Diutusnya Nabi merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia. Rasulullah adalah manusia yang menebarkan kasih sayang.
“Siapa yang tidak sayang pada manusia, maka tidak akan disayang oleh Allah.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Baihaqi, dan Bukhari)

Manajemen Cinta = Upaya Meraih Kesuksesan & Kebahagiaan
Dalam semua dimensi kehidupan, Nabi Muhammad SAW secara cukup gamblang telah menyontohkan bagaimana seharusnya kita sebagai umatnya, bersikap dan berperilaku agar rahmat dan keberkahan hidup menyertai. Dari mulai ketika menjalani kehidupan dalam ranah keluarga dan kekerabatan, hubungan antara “tuan” dengan “pembantu”, atasan dengan bawahan, antarrekan (mitra) kerja atau bisnis, kehidupan bertetangga, persahabatan, dalam relasi sosial dengan non-muslim, sebagai pemimpin dakwah, militer, maupun sebagai pemimpin sosial dan politik (umat).
Ketika mengkaji kehidupan Rasul mulia di semua sisi kehidupannya itu, tampak sekali bahwa beliau menjadikan cinta dan kasih sayang sebagai landasannya. Tulusnya cinta dan besarnya kasih sayang beliau, tercurah kepada siapa pun yang menjalin relasi dengannya. Lebih dari itu, manusia agung ini kerap menunjukkan kasih sayang terhadap orang-orang yang memusuhi serta menzaliminya. Malahan, di balik ketegasan memberikan “hukuman” terhadap musuh-musuh Islam, acapkali beliau pun memperlihatkan kasih sayangnya terhadap mereka. Hal ini antara lain tampak dari kemauan Sang Nabi untuk mengampuni bahkan mengangkat derajat mereka.

Mengingat begitu tulusnya cinta atau kasih sayang yang mendasari setiap pergaulan Nabi, termasuk kemampuannya menghadapi beragam persoalan melalui pendekatan perasaan tertinggi kemanusiaan ini, maka dapat dikatakan bahwa beliau telah menerapkan “manajemen cinta”.

Banyak sekali para pakar yang mendefinisikan pengertian “manajemen” (management). Namun dalam pengertian sederhana, “manajemen” dapat dipahami sebagai “seni melaksanakan dan mengatur”.

Kemudian, “cinta”. Secara psikologis, cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang. Dalam konteks filosofi, ada yang berpendapat bahwa cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.

Erich Fromm, seorang psikolog Jerman yang konon dikenal ahli dalam masalah cinta menjelaskan, bahwa kebutuhan manusia yang paling dalam adalah kebutuhan untuk mengatasi keterpisahannya dan meninggalkan penjara kesendiriannya. Kegagalan untuk mengatasi keterpisahan ini yang akan menyebabkan gangguan kejiwaan. Fromm mengungkapkan idenya mengenai cinta sebagai jawaban dari masalah tersebut.

Karena “cinta” yang dimaksud adalah cinta yang islami, tentunya pemahaman dari pengertian “cinta” ini juga harus berdasarkan nilai-nilai Islam. Inilah pemahaman cinta yang lebih luas, mendalam, serta bersifat hakiki.

Syaikh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, seorang ulama dari Damaskus di abad ke-7, melihat pemahaman cinta dalam ruang lingkup yang luas. Bahkan beliau mengemukakan adanya 6 peringkat cinta, yang dua di antaranya adalahshababah dan ‘itfh. Shababah yaitu cinta yang mampu melahirkan ukhuwah islamiyah. ‘Itfh (simpati) adalah rasa cinta yang memunculkan kecenderungan untuk menyelamatkan dan membantu sesama.

Nah, dengan demikian, kalau mengacu pada kedua pemahaman tersebut; “manajemen” dan “cinta”, maka “manajemen cinta” yang dimaksud adalah seni melaksanakan dan mengatur hubungan (antarmanusia) yang dilandasi oleh keinginan untuk melahirkan ukhuwah islamiyah, membantu serta menyelamatkan sesama.

Di dalam cinta atau kasih sayang yang diteladankan Nabi SAW terkandung nilai-nilai produktif dan konstruktif seperti: menyebarkan salam, menjaga dan melindungi kehormatan manusia, mengokohkan keimanan, berlaku adil, sabar, pemaaf, tegas, ulet, memberikan pendidikan dan bimbingan, mempererat hubungan, menghormati, rendah hati, senang membantu, dermawan, memuliakan, memberikan rasa nyaman, menunjukkan perhatian, menjaga nama baik, mendoakan kebaikan, tabah, konsisten, berkemauan kuat, menjauhi sikap egois, memberikan kepercayaan, berani, menjaga citra diri, memotivasi, dan masih banyak lagi. Semua nilai, sifat, sikap, atau perilaku yang baik-baik itu adalah cerminan atau konsekuensi dari rasa cinta terhadap kebenaran dan/atau kasih sayang terhadap sesama.

Dalam buku “Manajemen Cinta Sang Nabi SAW” (2011), secara cukup gamblang diungkapkan langkah-langkah teoritis dan praktis dalam mengimplementasikan nilai-nilai cinta atau kasih sayang sesuai kapasitas dan peran kita dalam semua aspek kehidupan.  Baik dalam kehidupan berumahtangga dan berkeluarga, sosial, bisnis, dakwah, militer, hingga politik.

“Manajemen Cinta Sang Nabi SAW” juga memaparkan beragam teori pengembangan diri (self development) dan kepemimpinan (leadership) yang menjadi rahasia kesuksesan Nabi Muhammad SAW di semua aspek kehidupannya. “Manajemen Cinta Sang Nabi” adalah sumber inspirasi dan motivasi dalam memenej kehidupan pribadi dan sosial kita agar meraih kesuksesan dan kebahagiaan tanpa batas. 


*Penulis buku “Manajemen Cinta Sang Nabi SAW” & Staf Riset Prophetic Leadership and Management Center, di Jakarta.
no image
Khoirony / Warung Ilmu
KRISIS CINTA dan kasih sayang yang mewarnai relasi antarumat Islam dalam berbagai segi dan bidang kehidupan, seolah menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang mengajarkan pentingnya menyintai dan mengasihi sesama. Umat Islam pun seakan tidak memiliki figur sentral yang mampu meneladankan ketulusan untuk saling menyintai, mengasihi serta menyayangi. Akibatnya, di antara mereka, muncullah perasaan saling curiga, iri, pengkhianatan, saling merendahkan, memfitnah, menggibah, mendengki, mendendam, bertikai, menzalimi, menindas, bahkan saling mencelakakan.

Munculnya gejala krisis cinta dan kasih sayang yang melanda kehidupan banyak kaum muslimin, kerap terjadi di mana-mana. Dari mulai di ruang keluarga, hingga di tempat-tempat kerja. Tidak terkecuali, di institusi-institusi yang mengusung label Islam, gejala krisis kasih sayang  juga sering mewarnai hubungan antarpersonilnya. Sungguh ironi dan menyedihkan. Bagaimana mungkin ukhuwah islamiyahyang kerap digembar-gemborkan itu bisa terwujud secara solid dan kokoh, jika krisis ini tetap terjadi seolah tiada henti. Padahal Rasulullah SAW, pecinta agung yang mulia menegaskan:

“Demi zat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum saling mencintai”(HR. Muslim)

Lemahnya Peneladanan Terhadap Nabi SAW
Menggejalanya krisis cinta dan kasih sayang di kalangan komunitas umat Islam, tentunya  bukan dikarenakan ajaran yang terkandung dalam agama yang dianutnya, dan bukan pula ketiadaan model yang patut dijadikan panutan. Persoalannya adalah lemahnya pengamalan terhadap Islam, serta “ketidakmauan” umat untuk betul-betul meneladani sang pecinta agung yang mulia, Nabi Muhammad SAW. Utamanya dalam konteks ini adalah keteladanan dalam menyintai, mengasihi, dan/atau menyayangi sesama.

Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai figur manusia terbaik. Beliau telah membuktikan kemampuannya dalam membawa manusia dari keterbelakangan pemikiran dan kerendahan akhlak menuju pencerahan dan kemuliaan. Dari kehidupan yang diselimuti kebencian, dendam, dan angkara murka, menuju kehidupan yang diberkahi dengan memaafkan, cinta dan kasih sayang.

“Dan tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’ 107).

Ada yang mengartikan bahwa “rahmat” di sini adalah pencurah kasih sayang. Diutusnya Nabi merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia. Rasulullah adalah manusia yang menebarkan kasih sayang.
“Siapa yang tidak sayang pada manusia, maka tidak akan disayang oleh Allah.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Baihaqi, dan Bukhari)

Manajemen Cinta = Upaya Meraih Kesuksesan & Kebahagiaan
Dalam semua dimensi kehidupan, Nabi Muhammad SAW secara cukup gamblang telah menyontohkan bagaimana seharusnya kita sebagai umatnya, bersikap dan berperilaku agar rahmat dan keberkahan hidup menyertai. Dari mulai ketika menjalani kehidupan dalam ranah keluarga dan kekerabatan, hubungan antara “tuan” dengan “pembantu”, atasan dengan bawahan, antarrekan (mitra) kerja atau bisnis, kehidupan bertetangga, persahabatan, dalam relasi sosial dengan non-muslim, sebagai pemimpin dakwah, militer, maupun sebagai pemimpin sosial dan politik (umat).
Ketika mengkaji kehidupan Rasul mulia di semua sisi kehidupannya itu, tampak sekali bahwa beliau menjadikan cinta dan kasih sayang sebagai landasannya. Tulusnya cinta dan besarnya kasih sayang beliau, tercurah kepada siapa pun yang menjalin relasi dengannya. Lebih dari itu, manusia agung ini kerap menunjukkan kasih sayang terhadap orang-orang yang memusuhi serta menzaliminya. Malahan, di balik ketegasan memberikan “hukuman” terhadap musuh-musuh Islam, acapkali beliau pun memperlihatkan kasih sayangnya terhadap mereka. Hal ini antara lain tampak dari kemauan Sang Nabi untuk mengampuni bahkan mengangkat derajat mereka.

Mengingat begitu tulusnya cinta atau kasih sayang yang mendasari setiap pergaulan Nabi, termasuk kemampuannya menghadapi beragam persoalan melalui pendekatan perasaan tertinggi kemanusiaan ini, maka dapat dikatakan bahwa beliau telah menerapkan “manajemen cinta”.

Banyak sekali para pakar yang mendefinisikan pengertian “manajemen” (management). Namun dalam pengertian sederhana, “manajemen” dapat dipahami sebagai “seni melaksanakan dan mengatur”.

Kemudian, “cinta”. Secara psikologis, cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang. Dalam konteks filosofi, ada yang berpendapat bahwa cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.

Erich Fromm, seorang psikolog Jerman yang konon dikenal ahli dalam masalah cinta menjelaskan, bahwa kebutuhan manusia yang paling dalam adalah kebutuhan untuk mengatasi keterpisahannya dan meninggalkan penjara kesendiriannya. Kegagalan untuk mengatasi keterpisahan ini yang akan menyebabkan gangguan kejiwaan. Fromm mengungkapkan idenya mengenai cinta sebagai jawaban dari masalah tersebut.

Karena “cinta” yang dimaksud adalah cinta yang islami, tentunya pemahaman dari pengertian “cinta” ini juga harus berdasarkan nilai-nilai Islam. Inilah pemahaman cinta yang lebih luas, mendalam, serta bersifat hakiki.

Syaikh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, seorang ulama dari Damaskus di abad ke-7, melihat pemahaman cinta dalam ruang lingkup yang luas. Bahkan beliau mengemukakan adanya 6 peringkat cinta, yang dua di antaranya adalahshababah dan ‘itfh. Shababah yaitu cinta yang mampu melahirkan ukhuwah islamiyah. ‘Itfh (simpati) adalah rasa cinta yang memunculkan kecenderungan untuk menyelamatkan dan membantu sesama.

Nah, dengan demikian, kalau mengacu pada kedua pemahaman tersebut; “manajemen” dan “cinta”, maka “manajemen cinta” yang dimaksud adalah seni melaksanakan dan mengatur hubungan (antarmanusia) yang dilandasi oleh keinginan untuk melahirkan ukhuwah islamiyah, membantu serta menyelamatkan sesama.

Di dalam cinta atau kasih sayang yang diteladankan Nabi SAW terkandung nilai-nilai produktif dan konstruktif seperti: menyebarkan salam, menjaga dan melindungi kehormatan manusia, mengokohkan keimanan, berlaku adil, sabar, pemaaf, tegas, ulet, memberikan pendidikan dan bimbingan, mempererat hubungan, menghormati, rendah hati, senang membantu, dermawan, memuliakan, memberikan rasa nyaman, menunjukkan perhatian, menjaga nama baik, mendoakan kebaikan, tabah, konsisten, berkemauan kuat, menjauhi sikap egois, memberikan kepercayaan, berani, menjaga citra diri, memotivasi, dan masih banyak lagi. Semua nilai, sifat, sikap, atau perilaku yang baik-baik itu adalah cerminan atau konsekuensi dari rasa cinta terhadap kebenaran dan/atau kasih sayang terhadap sesama.

Dalam buku “Manajemen Cinta Sang Nabi SAW” (2011), secara cukup gamblang diungkapkan langkah-langkah teoritis dan praktis dalam mengimplementasikan nilai-nilai cinta atau kasih sayang sesuai kapasitas dan peran kita dalam semua aspek kehidupan.  Baik dalam kehidupan berumahtangga dan berkeluarga, sosial, bisnis, dakwah, militer, hingga politik.

“Manajemen Cinta Sang Nabi SAW” juga memaparkan beragam teori pengembangan diri (self development) dan kepemimpinan (leadership) yang menjadi rahasia kesuksesan Nabi Muhammad SAW di semua aspek kehidupannya. “Manajemen Cinta Sang Nabi” adalah sumber inspirasi dan motivasi dalam memenej kehidupan pribadi dan sosial kita agar meraih kesuksesan dan kebahagiaan tanpa batas. 


*Penulis buku “Manajemen Cinta Sang Nabi SAW” & Staf Riset Prophetic Leadership and Management Center, di Jakarta.
Khoirony / Warung Ilmu
Ngeliat sholat jamaah hari niy, jadi pada bingung deh. Soalnya sholat jamaah kali niy bener- bener mengalami "kemajuan". Yups, makin hari makin maju ajah tuh barisan jamaahnya. Belon lagih kalo ngeliat orang- orangnya yang akan sholat. Ya allah, kenapa udah pada sepuh alias tua ya kebanyakan. Truuuusss, yang mudaan pada kemanaaa nich?

Yang cowok, Yang cowok!!....


Yang merasa cowok!!. Pagi niy sholat subuh jam berapa, bang?. En tkp-nya ambil masjid mana? Ato jangan- jangan malah bablas ajah, ampe niy siang baru bangun? Hayoo ngaku!!. Malu atuh bang sama ayam jago yang dah pasti nge set jam weker buat berkokok rutiiin tiap hari.

Bisa digambarkan bahwa suasana didalam kebanyakan masjid apalagi kalo lagi shubuh, bener- bener sunyi senyap. Biasanya sih yang mendominasi cuma eyang ama bapak- bapak. Ya Allah, sisanya yang mudaan dikit cuman berapa biji ajah. Sungguh terlalu!!

Walah jangan- jangan yang muda baru aja berangkat tidur abies nge dugem, ato may be terlalu sibuk blajar kali ampe nggak denger adzan yang gitu kerasnya.

Yang cowok, Yang cowok!!....

Yang merasa cowok!!

Bro, padahal yang namanya sholat jamaah ke masjid tuch no 1 loh. Kita kasih dikit bukti buat kamu yeah.

Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:
" Seorang laki-laki buta datang kepada Nabi dan berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai penuntun yang akan menuntunku ke Masjid. Maka dia minta keringanan untuk shalat dirumah, maka diberi keringanan. Lalu ia pergi, Beliau memanggilnya seraya berkata: Apakah kamu mendengar adzan ? Ya, jawabnya. Nabi berkata :Kalau begitu penuhilah (hadirilah)!"

Widiiiiw, kalo yang buta ajah suruh tetep berangkat ke masjid, nah kita yang punya 2 bola mata yang sehat, buger, dan lentik, ngpa masih ajah ngendon en sliping byuti di tempat tidur?

Kalo dipikir- pikir (berlaku bagi yang mau mikir) emang memalukan alias shamefull alias nggak banget sih kejadian yang ampir tiap hari ada ini. Masak mereka yang udah pada tua, apalagi ada kekurangan fisik, tapi beuh semangatnya cadaas!! trus juga pada getool banget ibadahnya. Nah kita yang pada jantan (ngakunyaaa), nyangkut kemana bang!?!. 

Ya Allah, Jangan bilang ya, "ya iya lah mereka kan udah tua, harus banyak banyak dzikir minta ampun". Ato kalo nggak, " yah kita kan yang muda masih banyak urusan, nah onoh yang udah tuaan bakal banyak waktu luang". Salah bro tuh kalimat en rada nggak sopan ngedengernya. 
Ya pasti lah, soalnya siapa yang bisa jamin kalo yang tua bakal "duluan" dipanggil ma Allah. Yang namanya maut sih, nggak pake permisi ato ketok pintu assalamuallaikum, bang. Nggak da manusia ato perusahaan asuransi manapun yang bakal bisa ngejamin kya begituan. Trus, kalo soal sibuk, dulu nabi Muhammad Salallahu 'alaihi wassalam juga seorang pemimpin. Nggak kurang juga kesibukan beliau ngurus urusan dunia, tapi jangan salah mamen, soal ibadah utamanya sholat, beuhh kita aja sih lewat dah. Ampe istri beliau ibunda Siti Aisyah punya pengalaman kya gini, check this out,  

Terceritakan sebuah hadist dari Aisyah R.A : Aisyah melihat kaki Rasulullah bengkak karena sholat dan setiap kali sholat Nabi Muhammad Shollallahu’alaihi wassalam selalu bercucuran airmata, lalu Aisyah pun bertanya, “Kenapa engkau melakukan seperti ini wahai Rasulullah, padahal Allah telah menjamin engkau masuk surga?” Rasul pun menjawab, “Apakah aku tidak boleh menjadi hamba Allah yang bersyukur dan mengingat segala nikmat dari Allah?”

Subhanallah, Rasulullah aja yang Allah jaminkan surga ajah masih pengen nunjukkin rasa syukurnya ke Allah dengan serius. 

kalo kamu?..........

Tau nggak, saking penting buat ngejaga yang namanya sholat jamaah di masjid, dalam sebuah hadits Rasulullah Shollallahu’alaihi wassalam, akan membakar rumah orang-orang yang mendengarkan adzan, tetapi nggak buru- buru pegi ke masjid buat sholat berjamaah.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam telah bersabda:

Aku berniat meme-rintahkan kaum muslimin untuk mendirikan sha-lat. Maka aku perintahkan seorang untuk menjadi imam dan shalat bersama. Kemudian aku berang-kat dengan kaum muslimin yang membawa seikat kayu bakar menuju orang-orang yang tidak mau ikut shalat berjamaah, dan aku bakar rumah-rumah mereka. (Al Bukhari-Muslim)
Kalo kamu mikir, wih serius amat siy ampe bgono juga. Ya iya laaa... Jangan anggap remeh soal sholat jamaah dimasjid bro, apalagi enteng bener ninggalinnnya. Cekidot dah sabda nabi muhammad Shollallahu’alaihi Wassalam yang nich. 

“Andaikata orang-orang mengetahui betapa besar pahala sholat berjamaah di masjid, sesungguhnya orang-orang itu akan mendatanginya sekalipun dengan berjalan merangkak ke masjid.” (Abu Hurairah)
Dulu para sahabat juga paham bangets tentang pentingnya sholat berjamaah di masjid en mereka pada nggak ada yang ninggalin, ini seperti disampein sama Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

"Engkau telah melihat kami, tidak seseorang yang meninggalkan shalat berjamaah, kecuali ia seorang munafik yang diketahui nifaknya atau seseorang yang sakit, bahkan seorang yang sakitpun berjalan (dengan dipapah) antara dua orang untuk mendatangi shalat (shalat berjamaah di masjid). Beliau menegaskan : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam mengajarkan kita jalan-jalan hidayah, dan salah satu jalan hidayah itu adalah shalat di masjid (shalat yang dikerjakan di masjid)" (Shahih Muslim)

Nah mule sekarang, balajar deh nggak ngeduain yang namanya sholat jamaah di masjid dengan kepentingan apapun. Tuh semua karena saking pentingnya bro. Sholat tuh kekuatan kita biar tetep ada sinyal terus sama Allah. 

Ibnu Mas’ud juga mengatakan : Barang siapa mau bertemu dengan Allah SWT di hari akhir nanti dalam keadaan muslim, maka hendaklah memelihara semua shalat yang diserukan-Nya. Allah SWT telah menetapkan jalan-jalan hidayah kepada para Nabi dan shalat ter-masuk salah satu jalan hidayah. Jika kalian sholat dirumah maka kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian, dan kalian akan sesat. Setiap Lelaki yang bersuci dengan baik, kemudian menuju masjid, maka Allah Subhanahu wata'ala menulis setiap langkahnya satu kebaikan, mengangkatnya satu derajat, dan menghapus satu kejahatannya. Engkau telah melihat dikalangan kami, tidak pernah ada yang meninggalkan shalat (berjamaah), kecuali orang munafik yang sudah nyata nifaknya. 

Yang trakir, jangan lupa ya, jaga kekhusukan sholat kita. Kalo pada sholat dimasjid, jaga mata kita jangan ampe pada belanja ato pake acara lempar- lempar poni waktu yang laen pada khusuk sholat. Kan mencemari kekhusukan sekitar banget tuch.So good luck untuk ngedidik diri en hati kamu buat slalu istiqomah buat sholat ke masjid. Insyaallah


Khoirony / Warung Ilmu
Ngeliat sholat jamaah hari niy, jadi pada bingung deh. Soalnya sholat jamaah kali niy bener- bener mengalami "kemajuan". Yups, makin hari makin maju ajah tuh barisan jamaahnya. Belon lagih kalo ngeliat orang- orangnya yang akan sholat. Ya allah, kenapa udah pada sepuh alias tua ya kebanyakan. Truuuusss, yang mudaan pada kemanaaa nich?

Yang cowok, Yang cowok!!....


Yang merasa cowok!!. Pagi niy sholat subuh jam berapa, bang?. En tkp-nya ambil masjid mana? Ato jangan- jangan malah bablas ajah, ampe niy siang baru bangun? Hayoo ngaku!!. Malu atuh bang sama ayam jago yang dah pasti nge set jam weker buat berkokok rutiiin tiap hari.

Bisa digambarkan bahwa suasana didalam kebanyakan masjid apalagi kalo lagi shubuh, bener- bener sunyi senyap. Biasanya sih yang mendominasi cuma eyang ama bapak- bapak. Ya Allah, sisanya yang mudaan dikit cuman berapa biji ajah. Sungguh terlalu!!

Walah jangan- jangan yang muda baru aja berangkat tidur abies nge dugem, ato may be terlalu sibuk blajar kali ampe nggak denger adzan yang gitu kerasnya.

Yang cowok, Yang cowok!!....

Yang merasa cowok!!

Bro, padahal yang namanya sholat jamaah ke masjid tuch no 1 loh. Kita kasih dikit bukti buat kamu yeah.

Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:
" Seorang laki-laki buta datang kepada Nabi dan berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai penuntun yang akan menuntunku ke Masjid. Maka dia minta keringanan untuk shalat dirumah, maka diberi keringanan. Lalu ia pergi, Beliau memanggilnya seraya berkata: Apakah kamu mendengar adzan ? Ya, jawabnya. Nabi berkata :Kalau begitu penuhilah (hadirilah)!"

Widiiiiw, kalo yang buta ajah suruh tetep berangkat ke masjid, nah kita yang punya 2 bola mata yang sehat, buger, dan lentik, ngpa masih ajah ngendon en sliping byuti di tempat tidur?

Kalo dipikir- pikir (berlaku bagi yang mau mikir) emang memalukan alias shamefull alias nggak banget sih kejadian yang ampir tiap hari ada ini. Masak mereka yang udah pada tua, apalagi ada kekurangan fisik, tapi beuh semangatnya cadaas!! trus juga pada getool banget ibadahnya. Nah kita yang pada jantan (ngakunyaaa), nyangkut kemana bang!?!. 

Ya Allah, Jangan bilang ya, "ya iya lah mereka kan udah tua, harus banyak banyak dzikir minta ampun". Ato kalo nggak, " yah kita kan yang muda masih banyak urusan, nah onoh yang udah tuaan bakal banyak waktu luang". Salah bro tuh kalimat en rada nggak sopan ngedengernya. 
Ya pasti lah, soalnya siapa yang bisa jamin kalo yang tua bakal "duluan" dipanggil ma Allah. Yang namanya maut sih, nggak pake permisi ato ketok pintu assalamuallaikum, bang. Nggak da manusia ato perusahaan asuransi manapun yang bakal bisa ngejamin kya begituan. Trus, kalo soal sibuk, dulu nabi Muhammad Salallahu 'alaihi wassalam juga seorang pemimpin. Nggak kurang juga kesibukan beliau ngurus urusan dunia, tapi jangan salah mamen, soal ibadah utamanya sholat, beuhh kita aja sih lewat dah. Ampe istri beliau ibunda Siti Aisyah punya pengalaman kya gini, check this out,  

Terceritakan sebuah hadist dari Aisyah R.A : Aisyah melihat kaki Rasulullah bengkak karena sholat dan setiap kali sholat Nabi Muhammad Shollallahu’alaihi wassalam selalu bercucuran airmata, lalu Aisyah pun bertanya, “Kenapa engkau melakukan seperti ini wahai Rasulullah, padahal Allah telah menjamin engkau masuk surga?” Rasul pun menjawab, “Apakah aku tidak boleh menjadi hamba Allah yang bersyukur dan mengingat segala nikmat dari Allah?”

Subhanallah, Rasulullah aja yang Allah jaminkan surga ajah masih pengen nunjukkin rasa syukurnya ke Allah dengan serius. 

kalo kamu?..........

Tau nggak, saking penting buat ngejaga yang namanya sholat jamaah di masjid, dalam sebuah hadits Rasulullah Shollallahu’alaihi wassalam, akan membakar rumah orang-orang yang mendengarkan adzan, tetapi nggak buru- buru pegi ke masjid buat sholat berjamaah.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam telah bersabda:

Aku berniat meme-rintahkan kaum muslimin untuk mendirikan sha-lat. Maka aku perintahkan seorang untuk menjadi imam dan shalat bersama. Kemudian aku berang-kat dengan kaum muslimin yang membawa seikat kayu bakar menuju orang-orang yang tidak mau ikut shalat berjamaah, dan aku bakar rumah-rumah mereka. (Al Bukhari-Muslim)
Kalo kamu mikir, wih serius amat siy ampe bgono juga. Ya iya laaa... Jangan anggap remeh soal sholat jamaah dimasjid bro, apalagi enteng bener ninggalinnnya. Cekidot dah sabda nabi muhammad Shollallahu’alaihi Wassalam yang nich. 

“Andaikata orang-orang mengetahui betapa besar pahala sholat berjamaah di masjid, sesungguhnya orang-orang itu akan mendatanginya sekalipun dengan berjalan merangkak ke masjid.” (Abu Hurairah)
Dulu para sahabat juga paham bangets tentang pentingnya sholat berjamaah di masjid en mereka pada nggak ada yang ninggalin, ini seperti disampein sama Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

"Engkau telah melihat kami, tidak seseorang yang meninggalkan shalat berjamaah, kecuali ia seorang munafik yang diketahui nifaknya atau seseorang yang sakit, bahkan seorang yang sakitpun berjalan (dengan dipapah) antara dua orang untuk mendatangi shalat (shalat berjamaah di masjid). Beliau menegaskan : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam mengajarkan kita jalan-jalan hidayah, dan salah satu jalan hidayah itu adalah shalat di masjid (shalat yang dikerjakan di masjid)" (Shahih Muslim)

Nah mule sekarang, balajar deh nggak ngeduain yang namanya sholat jamaah di masjid dengan kepentingan apapun. Tuh semua karena saking pentingnya bro. Sholat tuh kekuatan kita biar tetep ada sinyal terus sama Allah. 

Ibnu Mas’ud juga mengatakan : Barang siapa mau bertemu dengan Allah SWT di hari akhir nanti dalam keadaan muslim, maka hendaklah memelihara semua shalat yang diserukan-Nya. Allah SWT telah menetapkan jalan-jalan hidayah kepada para Nabi dan shalat ter-masuk salah satu jalan hidayah. Jika kalian sholat dirumah maka kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian, dan kalian akan sesat. Setiap Lelaki yang bersuci dengan baik, kemudian menuju masjid, maka Allah Subhanahu wata'ala menulis setiap langkahnya satu kebaikan, mengangkatnya satu derajat, dan menghapus satu kejahatannya. Engkau telah melihat dikalangan kami, tidak pernah ada yang meninggalkan shalat (berjamaah), kecuali orang munafik yang sudah nyata nifaknya. 

Yang trakir, jangan lupa ya, jaga kekhusukan sholat kita. Kalo pada sholat dimasjid, jaga mata kita jangan ampe pada belanja ato pake acara lempar- lempar poni waktu yang laen pada khusuk sholat. Kan mencemari kekhusukan sekitar banget tuch.So good luck untuk ngedidik diri en hati kamu buat slalu istiqomah buat sholat ke masjid. Insyaallah


no image
Khoirony / Warung Ilmu
Mengapa belum berjilbab? Kalo ditanya satu pertanyaan ini, jawabnya sih macem- macem. Mule dari prasaan masih kepengen gaya, ato ketakutan kalo orang naruh high expectasi tentang pengetahuan agama yg kudu gede ke kita. Selain itu may be dari kamu mrasa kudu ngaca diri, ntah karena sholatnya bolong-bolongnya masih parah banget, ato karena urusan masih punya pacar, dll, dsb.  Seribu satu alasan niy yang bikin ragu2 dan jadi alasan paling kuat dari sebagian besar cewek- cewek muda yg ingin berjilbab.

Tapi kalo ditanya, apa kamu islam? pasti jawabnya iya. Girls, semua yang ada di dunia pasti penuh dengan konsekwensi. Jadi orang islampun juga kaya' gitu. Saat kita bersyahadat, bersumpah kalo tidak ada tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, brati kita udah ikrar kalo kita akan patuh pada semua aturan en batasan yang dibuat Allah Subhanahu Wata'ala dan yang ada dalam sunnah Rasulullah Salallahu alaihi Wassalam. Nggak pake nawar apalagi ngeles, hee..
Coba deh switch pemikiran kamu, bayangin gimana kalo orang idup, apalagi kita yang muda- muda ini, idup tanpa ada batasan. Bebas aja, tralala trilili. Pertama sih mungkin ngerasa bakalan enjoy ajah, tapi akhir- akhirnya pasti bakal nyesel. Bukan apa- apa sob, emang udah takdir dari sononya, yang namanya manusia hidup butuh aturan, kalo nggak yach apa bedanya sama hewan. Aturan tuh bukan buat ngikat apalagi nyiksa, tapi muliain manusia.
Kalo masih ragu tentang jilbab kamu, coba deh berpikir positif skali lagi. Jilbab bukan menyiksa apalagi paksaan buat kamu. Tapi alhamdulillah walo cuman sekedar kain, itu bisa semacam alarm berjalan kamu yang justru bakal ngingetin kalo mau maksiat. Hidup dalam aturan tuh sebenarnya nikmat, en nggak mengekang. Dan satu- satunya yang terkekang dari aturan itu adalah nafsu kamu.
Dengan pakai jilbab kamu akan lebih mudah dikenali sebagai seorang muslimah. Jangan minder dengan identitas diri yang kamu punya. itu kebanggaan loh.Simbol dari kamu yang udah taat ato mungkin baru belajar taat, bukan cuman sama ortu tapi sama Zat yang udah ngebentuk kamu jd secantik sekarang. Belum lagi penilaian kalo pengendalian diri kamu brati udah ada sementara yang laen malah milih seenak nafsu mereka sendiri. So, kamu lebih baik kan?

Dan siapa bilang kalo dengan pake jilbab brati kita memangkas potensi diri? Ah udah nggak jaman banget punya pikiran bgono sob. Contoh udah banyak, nggak kudu disebutin satu- satu. Nggak di tipi ato may be di lingkungan sekitarmu, pasti kamu udah bisa menilai sendiri kan. 
Apa kamu juga masih bingung soal konsekuensi pengetahuan agama yang kudu gedhe kalo udah berjilbab? jangan kawatir dah. Yang namanya belajar kan proses non, nggak bisa sekali duduk langsung langsung Ting! paham gitu. Khayalan banget tuh. En  Sepintar- pintarnya manusia nggak kan mungkin melebihi dalamnya ilmu Allah. Kalo ada manusia laen yang ngerasa dirinya lebih pintar dari kamu trus ngejek ato ngerendahin kamu, nggak usah minder lagih, tu brarti dia juga belum banyak berilmu. Nggak ada cerita orang yang berilmu dan takut sama Allah akan sombong sob. 
Bener deh, hidayah itu indah banget teman. En kamu baru bisa ngrasain indahnya kalo kamu ndiri terlibat didalamnya. Dan syarat biar kita ngedapet hidayah, trus ringaan banget nglakuin kebaikan, cuman satu. Kita kudu ikhlas nglakuin semua karena Allah. Coba deh, buang prasaan nggak mau tau ato sekedar nafsu dunia kita bentaran ajah. Kita bahas sedikit tentang ini. Bayangin ajah gimana kalo orang yang diperintah boss nya yang udah ngegaji dia, ngasih dia banyak hal, belum lagi berjasa banget dalam hidup dia, tiba- tiba pas itu boss perintahin dia sesuatu, tapi aja masih juga tuh orang ngeles dengan alesan yang nggak mutu. Bayangin pasti bakal marahnya kaya' apa coba. Orang juga bakal menilai nggak tau trimakasih en kurang ajar banget kan tuh orang. Fiuuh, tuh baru manusia dengan manusia, trus pgimana crita kalo tuh adalah antara kita dengan Allah, sob. Bisa mikir ndiri kan klanjutannya.

Bisa ngitung nggak, sbanyak apa yang udah dikasih Allah ma kita?. Pasti dijamin 100% nggak bakalan abies kalo di itung. Trus kembali ke soal perintah pke jilbab, mungkin nggak kalo yang Maha Penyayang tiba- tiba cuman mau nyengsaraain kita dengan semua tuh. Pecaya aja dah, asli, perintah Allah nggak akan ngejahatin apalagi nyiksa kita, yang ada malah kita sendiri yang sering kali nggak cukup baik ngejaga diri kita. 

Allah yang paling muliakan kita, lebih dari diri kita sendiri. Allah juga yang paling ada buat kita saat siapapun nggak ada buat nemenin kita.
Kadang kita lebih banyak ngedahuluin akal en prasaan plus prasangka- prasangka yang nggak mutu en belon valid kebenarannya. Ya gitu dey, kebukti kan, kalo setan nggak bakal rela liat kita baek. Dikasih aja was- was ketakutan en kecerdasan buat ngeles dengan seribu satu alesan. Tapi ujung-ujungnya pasti deh, kerugian juga bakal balik ke kita lah, siapa lagih. So, cepet ambil keputusan yang terbaik buat idup kamu, lagian dah gedhe inih juga kan. Buktiin kalo kamu bisa Jadi pemimpin terbaik dari  diri kamu sendiri, en buat kebanggan atas semua itu, buat diri kamu sendiri, girls. Good Luck!.


no image
Khoirony / Warung Ilmu
Mengapa belum berjilbab? Kalo ditanya satu pertanyaan ini, jawabnya sih macem- macem. Mule dari prasaan masih kepengen gaya, ato ketakutan kalo orang naruh high expectasi tentang pengetahuan agama yg kudu gede ke kita. Selain itu may be dari kamu mrasa kudu ngaca diri, ntah karena sholatnya bolong-bolongnya masih parah banget, ato karena urusan masih punya pacar, dll, dsb.  Seribu satu alasan niy yang bikin ragu2 dan jadi alasan paling kuat dari sebagian besar cewek- cewek muda yg ingin berjilbab.

Tapi kalo ditanya, apa kamu islam? pasti jawabnya iya. Girls, semua yang ada di dunia pasti penuh dengan konsekwensi. Jadi orang islampun juga kaya' gitu. Saat kita bersyahadat, bersumpah kalo tidak ada tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, brati kita udah ikrar kalo kita akan patuh pada semua aturan en batasan yang dibuat Allah Subhanahu Wata'ala dan yang ada dalam sunnah Rasulullah Salallahu alaihi Wassalam. Nggak pake nawar apalagi ngeles, hee..
Coba deh switch pemikiran kamu, bayangin gimana kalo orang idup, apalagi kita yang muda- muda ini, idup tanpa ada batasan. Bebas aja, tralala trilili. Pertama sih mungkin ngerasa bakalan enjoy ajah, tapi akhir- akhirnya pasti bakal nyesel. Bukan apa- apa sob, emang udah takdir dari sononya, yang namanya manusia hidup butuh aturan, kalo nggak yach apa bedanya sama hewan. Aturan tuh bukan buat ngikat apalagi nyiksa, tapi muliain manusia.
Kalo masih ragu tentang jilbab kamu, coba deh berpikir positif skali lagi. Jilbab bukan menyiksa apalagi paksaan buat kamu. Tapi alhamdulillah walo cuman sekedar kain, itu bisa semacam alarm berjalan kamu yang justru bakal ngingetin kalo mau maksiat. Hidup dalam aturan tuh sebenarnya nikmat, en nggak mengekang. Dan satu- satunya yang terkekang dari aturan itu adalah nafsu kamu.
Dengan pakai jilbab kamu akan lebih mudah dikenali sebagai seorang muslimah. Jangan minder dengan identitas diri yang kamu punya. itu kebanggaan loh.Simbol dari kamu yang udah taat ato mungkin baru belajar taat, bukan cuman sama ortu tapi sama Zat yang udah ngebentuk kamu jd secantik sekarang. Belum lagi penilaian kalo pengendalian diri kamu brati udah ada sementara yang laen malah milih seenak nafsu mereka sendiri. So, kamu lebih baik kan?

Dan siapa bilang kalo dengan pake jilbab brati kita memangkas potensi diri? Ah udah nggak jaman banget punya pikiran bgono sob. Contoh udah banyak, nggak kudu disebutin satu- satu. Nggak di tipi ato may be di lingkungan sekitarmu, pasti kamu udah bisa menilai sendiri kan. 
Apa kamu juga masih bingung soal konsekuensi pengetahuan agama yang kudu gedhe kalo udah berjilbab? jangan kawatir dah. Yang namanya belajar kan proses non, nggak bisa sekali duduk langsung langsung Ting! paham gitu. Khayalan banget tuh. En  Sepintar- pintarnya manusia nggak kan mungkin melebihi dalamnya ilmu Allah. Kalo ada manusia laen yang ngerasa dirinya lebih pintar dari kamu trus ngejek ato ngerendahin kamu, nggak usah minder lagih, tu brarti dia juga belum banyak berilmu. Nggak ada cerita orang yang berilmu dan takut sama Allah akan sombong sob. 
Bener deh, hidayah itu indah banget teman. En kamu baru bisa ngrasain indahnya kalo kamu ndiri terlibat didalamnya. Dan syarat biar kita ngedapet hidayah, trus ringaan banget nglakuin kebaikan, cuman satu. Kita kudu ikhlas nglakuin semua karena Allah. Coba deh, buang prasaan nggak mau tau ato sekedar nafsu dunia kita bentaran ajah. Kita bahas sedikit tentang ini. Bayangin ajah gimana kalo orang yang diperintah boss nya yang udah ngegaji dia, ngasih dia banyak hal, belum lagi berjasa banget dalam hidup dia, tiba- tiba pas itu boss perintahin dia sesuatu, tapi aja masih juga tuh orang ngeles dengan alesan yang nggak mutu. Bayangin pasti bakal marahnya kaya' apa coba. Orang juga bakal menilai nggak tau trimakasih en kurang ajar banget kan tuh orang. Fiuuh, tuh baru manusia dengan manusia, trus pgimana crita kalo tuh adalah antara kita dengan Allah, sob. Bisa mikir ndiri kan klanjutannya.

Bisa ngitung nggak, sbanyak apa yang udah dikasih Allah ma kita?. Pasti dijamin 100% nggak bakalan abies kalo di itung. Trus kembali ke soal perintah pke jilbab, mungkin nggak kalo yang Maha Penyayang tiba- tiba cuman mau nyengsaraain kita dengan semua tuh. Pecaya aja dah, asli, perintah Allah nggak akan ngejahatin apalagi nyiksa kita, yang ada malah kita sendiri yang sering kali nggak cukup baik ngejaga diri kita. 

Allah yang paling muliakan kita, lebih dari diri kita sendiri. Allah juga yang paling ada buat kita saat siapapun nggak ada buat nemenin kita.
Kadang kita lebih banyak ngedahuluin akal en prasaan plus prasangka- prasangka yang nggak mutu en belon valid kebenarannya. Ya gitu dey, kebukti kan, kalo setan nggak bakal rela liat kita baek. Dikasih aja was- was ketakutan en kecerdasan buat ngeles dengan seribu satu alesan. Tapi ujung-ujungnya pasti deh, kerugian juga bakal balik ke kita lah, siapa lagih. So, cepet ambil keputusan yang terbaik buat idup kamu, lagian dah gedhe inih juga kan. Buktiin kalo kamu bisa Jadi pemimpin terbaik dari  diri kamu sendiri, en buat kebanggan atas semua itu, buat diri kamu sendiri, girls. Good Luck!.


no image
Khoirony / Warung Ilmu
Ini adalah kisah teladan bagi umat manusia. Ini adalah kisah dari seorang manusia yang mulia. Seseorang yang begitu dikasihi oleh para makhluk penghuni langit dan seisi dunia. Dialah kekasih Allah, Rasulullah Sallallahu Alaihi wassalam, yang namanya akan terus abadi dan terukir dihati para pengikut beliau, bahkan sampai di akhir jaman. Ini adalah kisah dari seorang manusia yang mulia, yang berakhlak mulia, dan yang akan selalu di muliakan.

Sebuah kisah berawal di sudut pasar Madinah Al-Munawarah. Disana hiduplah seorang seorang pengemis Yahudi buta, yang hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya".

Namun setiap pagi pula, Rasulullah sallallahu alaihi wassalam mendatanginya. Beliaupun tak pernah lupa untuk selalu membawakan pengemis tersebut makanan. Semua itu beliau lakukan dengan tanpa berkata sepatah kata pun. Dengan tetap rendah hati dan penuh kasih sayang, beliau menyuap makanan yang dibawanya tersebut, kepada sang pengemis. Dan setiap itu pula, si pengemis tak lupa berpesan dengan kalimat yang sama. Namun, Rasulullah Sallallahu alaihi wassalam masih dan terus melanjutkan kebiasaan itu, sampai akhirnya beliau wafat.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.a.  Abubakar r.a bertanya kepada putrinya tersebut, tentang adakah sunnah dari Rasulullah sallallahu alaihi wassalam yang belum dikerjakannya. Aisyah r.a kemudian menjelaskan bahwa setiap pagi Rasulullah Sallallahu alaihi selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana.

Keesokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan dan menemui pengemis buta itu. Beliau mendatanginya dan memberikan makanan kepada si pengemis yahudi.
Ketika beliau mulai menyuapinya, tiba- tiba si pengemis itu berteriak,

"Siapa kau ? engkau bukan orang yang biasa mendatangiku. Apabila dia datang kepadaku, aku tak perlu memegang dan mengunyah makananku sendiri. Dia yang biasa menghaluskan makanan itu dengan mulutnya, setelah itu dia menyuapkannya untukku", kata pengemis itu dengan nada marah.

Subhanallah, Abubakar r.a. terkejut mendengar kalimat itu, dan selanjutnya beliau tidak dapat menahan air matanya. Sambil menangis, Beliau menceritakan kepada pengemis itu, bahwa beliau memang bukanlah orang yang terbiasa datang kepadanya. Dia adalah sahabat manusia mulia tersebut.

“Beliau adalah Rasulullah Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam.” Lanjut Abu bakar r.a. mendengar cerita dari beliau, Seketika itu si pengemis pun ikut menangis dan kemudian berkata,
“Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, tapi dia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Dia benar- benar sangat mulia” cerita sang pengemis dengan terisak.
Dan di akhir kisah, akhirnya si Pengemis Yahudi buta tersebut, bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

Subhanallah, sungguh mulia pribadi Rasulullah Sallallahu alaihi wassalam. Beliau mengajarkan kepada kita tentang bersikap arif kepada orang miskin, dan tetap memperlakukan sesama kita dengan baik, walau bagaimanapun jahatnya mereka atas kita. Beliau juga mengajarkan tentang kedalaman kebaikan dari sebuah memaafkan, dan kasih sayang dalam mengasihi. Semoga rahmat Allah selalu tercurah untuk beliau, Allahumma shalli 'ala Muhammad wa ala 'aali Muhammad.


Naayma
no image
Khoirony / Warung Ilmu
Ini adalah kisah teladan bagi umat manusia. Ini adalah kisah dari seorang manusia yang mulia. Seseorang yang begitu dikasihi oleh para makhluk penghuni langit dan seisi dunia. Dialah kekasih Allah, Rasulullah Sallallahu Alaihi wassalam, yang namanya akan terus abadi dan terukir dihati para pengikut beliau, bahkan sampai di akhir jaman. Ini adalah kisah dari seorang manusia yang mulia, yang berakhlak mulia, dan yang akan selalu di muliakan.

Sebuah kisah berawal di sudut pasar Madinah Al-Munawarah. Disana hiduplah seorang seorang pengemis Yahudi buta, yang hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya".

Namun setiap pagi pula, Rasulullah sallallahu alaihi wassalam mendatanginya. Beliaupun tak pernah lupa untuk selalu membawakan pengemis tersebut makanan. Semua itu beliau lakukan dengan tanpa berkata sepatah kata pun. Dengan tetap rendah hati dan penuh kasih sayang, beliau menyuap makanan yang dibawanya tersebut, kepada sang pengemis. Dan setiap itu pula, si pengemis tak lupa berpesan dengan kalimat yang sama. Namun, Rasulullah Sallallahu alaihi wassalam masih dan terus melanjutkan kebiasaan itu, sampai akhirnya beliau wafat.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.a.  Abubakar r.a bertanya kepada putrinya tersebut, tentang adakah sunnah dari Rasulullah sallallahu alaihi wassalam yang belum dikerjakannya. Aisyah r.a kemudian menjelaskan bahwa setiap pagi Rasulullah Sallallahu alaihi selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana.

Keesokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan dan menemui pengemis buta itu. Beliau mendatanginya dan memberikan makanan kepada si pengemis yahudi.
Ketika beliau mulai menyuapinya, tiba- tiba si pengemis itu berteriak,

"Siapa kau ? engkau bukan orang yang biasa mendatangiku. Apabila dia datang kepadaku, aku tak perlu memegang dan mengunyah makananku sendiri. Dia yang biasa menghaluskan makanan itu dengan mulutnya, setelah itu dia menyuapkannya untukku", kata pengemis itu dengan nada marah.

Subhanallah, Abubakar r.a. terkejut mendengar kalimat itu, dan selanjutnya beliau tidak dapat menahan air matanya. Sambil menangis, Beliau menceritakan kepada pengemis itu, bahwa beliau memang bukanlah orang yang terbiasa datang kepadanya. Dia adalah sahabat manusia mulia tersebut.

“Beliau adalah Rasulullah Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam.” Lanjut Abu bakar r.a. mendengar cerita dari beliau, Seketika itu si pengemis pun ikut menangis dan kemudian berkata,
“Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, tapi dia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Dia benar- benar sangat mulia” cerita sang pengemis dengan terisak.
Dan di akhir kisah, akhirnya si Pengemis Yahudi buta tersebut, bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

Subhanallah, sungguh mulia pribadi Rasulullah Sallallahu alaihi wassalam. Beliau mengajarkan kepada kita tentang bersikap arif kepada orang miskin, dan tetap memperlakukan sesama kita dengan baik, walau bagaimanapun jahatnya mereka atas kita. Beliau juga mengajarkan tentang kedalaman kebaikan dari sebuah memaafkan, dan kasih sayang dalam mengasihi. Semoga rahmat Allah selalu tercurah untuk beliau, Allahumma shalli 'ala Muhammad wa ala 'aali Muhammad.


Naayma
no image
Khoirony / Warung Ilmu
Yaa Rasulullah, selalu saja menyisakan syahdu dan biru di hati. Why? Itu karena rasa rindu yang membuncah terhadap sosok muliamu. Rasa yang wajar hadir di hati setiap insan yang mengetahui kisah hidupmu dan mengenal sepak terjang perjuanganmu. Karena bila tidak, bagaimana rasa rindu itu akan muncul bila diri tak pernah merasa kenal apalagi dekat terhadap pribadi agungmu itu?

Jarak hidup denganmu yaa Rasulullah, terbentang ribuan tahun lamanya. Tapi serasa engkau ada di sini, di hati ini sangat dekat dengan diri. How come? Itu karena kami berusaha meneladani akhlakmu dan mengikuti jejak sunnahmu. Rasa rindu itu muncul adalah buah dari rasa sebelumnya yang telah ada yaitu cinta. Tanpa cinta tak mungkin seseorang merasa rindu. Dan rasa inilah yang menjadi pendorong bagi diri untuk mengikuti apa yang menjadi kegemaranmu sekaligus menjauhi apa yang kau benci.
Rasulullah, nabi terakhir sepanjang zaman. Mulia akhlakmu menyisakan cerita indah ketika seorang anak yatim yang menangis di pinggir jalan kau angkat menjadi anak. Kaulah sosok ayah yang sangat mencintai anak-anaknya dan seorang kakek yang sangat sayang pada cucu-cucunya. Satu hal lagi, pribadi suami yang sangat baik memperlakukan para istri-istrinya. Sungguh, teladan yang tak kan pernah habis tinta menuliskan kemuliaanmu.
Sebagai seorang pemimpin dan nabi, kau pun tak pernah mementingkan diri sendiri. Bahkan di akhir hayat, kaumasih saja memikirkan umatmu. “Ummati, ummati,” umatku, umatku. Ya…umat selalu ada dalam prioritas hidupmu. Bukan kematian yang ditakutkan, bukan pula sanak keluarga yang dipedulikan, tapi umat yang kau khawatirkan sepeninggal engkau menghadap-Nya. 

....Mengenangmu yaa Rasulullah, adalah momen mengenang kemuliaan. Saat indah mengenang manisnya perjuangan, mengecap harumnya darah kesyahidan....

Mengenangmu yaa Rasulullah, adalah momen mengenang kemuliaan. Saat indah mengenang manisnya perjuangan, mengecap harumnya darah kesyahidan. Mulia ketika dunia adalah ibadah dalam segenap aspeknya, dan akhirat adalah tujuan sebenarnya dari perjalanan panjang bernama kehidupan. Mulia dengan kehormatan sebagai seorang muslim terjaga dan terhindar dari pemimpin zalim dan durjana.

Merindumu yaa Rasulullah, telah menyatu bersama pembuluh darah demi mengalirkan nutrisi kemuliaan dan kesyahidan sebagai tapak yang harus dilewati. Engkau sajalah suri-teladan yang tak kan pernah lekang dimakan zaman. Rindu sungguh penuh harap dapat bersua denganmu dan kau akui sebagai salah satu umatmu. Rasa rindu itu seringkali datang bersama dengan rasa takut, khawatir tak bisa berkumpul denganmu di jannah kelak.

Mengingat diri berlumur dosa, terasa kecil hati mempunyai mimpi bertemu dengan sosok indahmu itu. Tapi bukankah telah kau rumuskan sendiri bahwa seseorang itu bersama dengan yang dicintainya di akhirat kelak. Dan sungguh, saksikanlah bahwa hati ini begitu cinta denganmu. Bukan hati ini saja yang berikrar atas nama cinta, tapi perbuatan dan tingkah laku kami juga berupaya meneladani dirimu. Meskipun tertatih, kami tak pernah jemu untuk terus bangkit dan meniti jalan yang pernah engkau tempuh sebelumnya. Jalan kemuliaan dalam kehidupan, dan kesyahidan dalam menjemput ajal.

Sungguh yaa Rasulullah, kami mengenangmu dengan segenap cinta dan ketaatan.


Ria