04/17/14
Khoirony / Warung Ilmu
jelaskan padaku, cinta…
apakah kau masih bertengger di dalam sana?

lepaskan aku, sayang…
biarkan aku sendiri!

bukan karena aku tak mau
tapi karena malu aku akan rasa yang ada

kalau bukan engkau, wahai kasih…
maka jelaskan padaku detak jantung yang berlomba ini,
dan artikan aliran deras darah dalam nadiku

jadi apakah yang tersisa?

jangan katakan kau ingin tinggal, cinta…
biar aku mengerti makna luka yang menganga
dan jangan kau tambahkan lagi perihnya!

mungkinkah engkau, rindu?
yang berdalang di balik semua ini?
kapankah pertujukanmu usai?
tak puaskah kau dengan semua yang kau ukir?

sungguh aku ingin mengerti
dan tolong berikan aku pengertian!

jangan kau pertahankan aku, wahai harapan
karena kau ingin berlari mencari

maknai semua ini, wahai jiwa
apa yang kurasakan?
apa yang kutinggalkan?
apa yang tersisa?
karena hanya engkau yang mengerti
dan hati pun tak akan pernah berbohong!

berikan aku senyum mu, wahai hidup
agar aku rasakan hangatnya kalian yang singgah…


Khoirony / Warung Ilmu
jelaskan padaku, cinta…
apakah kau masih bertengger di dalam sana?

lepaskan aku, sayang…
biarkan aku sendiri!

bukan karena aku tak mau
tapi karena malu aku akan rasa yang ada

kalau bukan engkau, wahai kasih…
maka jelaskan padaku detak jantung yang berlomba ini,
dan artikan aliran deras darah dalam nadiku

jadi apakah yang tersisa?

jangan katakan kau ingin tinggal, cinta…
biar aku mengerti makna luka yang menganga
dan jangan kau tambahkan lagi perihnya!

mungkinkah engkau, rindu?
yang berdalang di balik semua ini?
kapankah pertujukanmu usai?
tak puaskah kau dengan semua yang kau ukir?

sungguh aku ingin mengerti
dan tolong berikan aku pengertian!

jangan kau pertahankan aku, wahai harapan
karena kau ingin berlari mencari

maknai semua ini, wahai jiwa
apa yang kurasakan?
apa yang kutinggalkan?
apa yang tersisa?
karena hanya engkau yang mengerti
dan hati pun tak akan pernah berbohong!

berikan aku senyum mu, wahai hidup
agar aku rasakan hangatnya kalian yang singgah…


Khoirony / Warung Ilmu
Bukan Hal Biasa

Awal berjumpa

Semua biasa saja

Cuma mungkin

Engkau agak istimewa

Dibanding yang lainya

Aku Biasa saja

Tak hiraukan semua



Waktu berlalu

Perilakumu kulihat berbeda

Terpesona

Tiap berjumpa

Kuanggap Biasa

Dan Masih tak kuhiraukan jua



Waktu kian berlalu

Dan pertanda Terpesonamu

Makin jelas ku ketahui

Dan makin berbeda

Tiap kali berjumpa

Aku masih tak hiraukan



Dan aku anggap itu biasa

Kuanggap itu hal tak mungkin

Karena kita Dua dunia yang berbeda



Waktu makin berlalu

Dan terpesonamu berhasil merasuk Ke lubuk hatiku

Namun kuhanya tersenyum

Karena ini semua yang terjadi

Bukanlah Hal Biasa




Khoirony / Warung Ilmu
Bukan Hal Biasa

Awal berjumpa

Semua biasa saja

Cuma mungkin

Engkau agak istimewa

Dibanding yang lainya

Aku Biasa saja

Tak hiraukan semua



Waktu berlalu

Perilakumu kulihat berbeda

Terpesona

Tiap berjumpa

Kuanggap Biasa

Dan Masih tak kuhiraukan jua



Waktu kian berlalu

Dan pertanda Terpesonamu

Makin jelas ku ketahui

Dan makin berbeda

Tiap kali berjumpa

Aku masih tak hiraukan



Dan aku anggap itu biasa

Kuanggap itu hal tak mungkin

Karena kita Dua dunia yang berbeda



Waktu makin berlalu

Dan terpesonamu berhasil merasuk Ke lubuk hatiku

Namun kuhanya tersenyum

Karena ini semua yang terjadi

Bukanlah Hal Biasa




Khoirony / Warung Ilmu
Saat logika terselimuti oleh emosi 

Rasa di hati kuasai jasad ini

Hari kujalani tanpa tujuan pasti

Yang kutahu hanya satu… dia

Tak bisa kupungkiri otakku teracuni

Yang ada di benakku hanya satu…dia

Badanku serasa kaku kala kau ada di hadapanku


Tak bisa kukatakan rasaku

Walau hanya dalam satu kata

Biar, biar saja hanya aku yang tau

Kalau engkau pujaan hatiku............


Khoirony / Warung Ilmu
Saat logika terselimuti oleh emosi 

Rasa di hati kuasai jasad ini

Hari kujalani tanpa tujuan pasti

Yang kutahu hanya satu… dia

Tak bisa kupungkiri otakku teracuni

Yang ada di benakku hanya satu…dia

Badanku serasa kaku kala kau ada di hadapanku


Tak bisa kukatakan rasaku

Walau hanya dalam satu kata

Biar, biar saja hanya aku yang tau

Kalau engkau pujaan hatiku............


Khoirony / Warung Ilmu


Kau buyarkan lamunan..

Cermin yang teduh kini bergolak

Gelombang-gelombang tak berirama . . .

Mulai kuperhatikan perbuatanmu

Ah, ternyata kau datang coba menghibur

Gemercik air kau jadikan layaknya instrumen dalam suatu opera, perlahan semakin megah

Ya, kau bawakan dengan wajah tak berdosamu itu . . .

Tak peduli kau tetap menghujam


Sunyiku lenyap . . .

Tapi tak apalah, kubiarkan hingga kau lelah

Hingga cerminku kembali teduh, semakin jernih . . .

Entah kapan, tapi ku tau kau pasti akan kembali

Akan kusambut kedatanganmu hujan

Bahkan, kubiarkan kau rusak cerminku, lagi . . .

Mungkin kau tau, tapi mungkin juga tidak sama sekali

Aku hanya menginginkannya..


Dia telah pergi . . .

“bodoh, apa yang kau lakukan ?”

“apa yang kau lihat di cerminmu itu ?” (gemuruh, coba menyadarkanku)

“tak ada gunanya hanya melihat bayanganmu yang mati itu”

“apa kau tau kemana dia pergi ?”

“apa kau akan terus terdiam ?” . . .

Marah, kemudian pergi meninggalkanku . . .

Aku bimbang . . .


Ah sial, sebentar lagi kau datang

Buru-buru kuhentikan lamunanku

Dan . . .

Hey, gemuruh benar, aku harus mencarinya

Pasti ada tanda yang tertinggal

Pasti ada jalan jika diia memang untukku . . .

Secepat mungkin kuberlari keluar pagar rumah

Dan kau benar-benar datang, jalan tanah yang panjang itu kau basahi

Kau buat kaki ini tak berpijak dengan baik

Ternyata kini kedatanganmu bukan untuk menghiburku, hujan

Aku tak peduli, ku tetap berlari, mencoba menghindar darimu

Sekalipun dinginan menyelimutiku

Kau semakin marah, kau tak suka aku mengabaikanmu

Aku tau itu, aku hanya ingin menemukannya

Itu saja . . .


Dan, tiba-tiba kuterdiam . . .

Dipersimpangan jalan . . .

Terhenti langkah kakiku . . .

Kemana kuharus pergi ?

Kemana sebenarnya dia pergi ?


Dan lihat, tak ada lagi jejak kaki yang dia tinggalkan . . .

Lihat apa yang telah kau lakukan hujan !

Kini telah kau ambil semua harapanku . . .


Tapi, mungkin dulu dia memang untukku . . .
Khoirony / Warung Ilmu


Kau buyarkan lamunan..

Cermin yang teduh kini bergolak

Gelombang-gelombang tak berirama . . .

Mulai kuperhatikan perbuatanmu

Ah, ternyata kau datang coba menghibur

Gemercik air kau jadikan layaknya instrumen dalam suatu opera, perlahan semakin megah

Ya, kau bawakan dengan wajah tak berdosamu itu . . .

Tak peduli kau tetap menghujam


Sunyiku lenyap . . .

Tapi tak apalah, kubiarkan hingga kau lelah

Hingga cerminku kembali teduh, semakin jernih . . .

Entah kapan, tapi ku tau kau pasti akan kembali

Akan kusambut kedatanganmu hujan

Bahkan, kubiarkan kau rusak cerminku, lagi . . .

Mungkin kau tau, tapi mungkin juga tidak sama sekali

Aku hanya menginginkannya..


Dia telah pergi . . .

“bodoh, apa yang kau lakukan ?”

“apa yang kau lihat di cerminmu itu ?” (gemuruh, coba menyadarkanku)

“tak ada gunanya hanya melihat bayanganmu yang mati itu”

“apa kau tau kemana dia pergi ?”

“apa kau akan terus terdiam ?” . . .

Marah, kemudian pergi meninggalkanku . . .

Aku bimbang . . .


Ah sial, sebentar lagi kau datang

Buru-buru kuhentikan lamunanku

Dan . . .

Hey, gemuruh benar, aku harus mencarinya

Pasti ada tanda yang tertinggal

Pasti ada jalan jika diia memang untukku . . .

Secepat mungkin kuberlari keluar pagar rumah

Dan kau benar-benar datang, jalan tanah yang panjang itu kau basahi

Kau buat kaki ini tak berpijak dengan baik

Ternyata kini kedatanganmu bukan untuk menghiburku, hujan

Aku tak peduli, ku tetap berlari, mencoba menghindar darimu

Sekalipun dinginan menyelimutiku

Kau semakin marah, kau tak suka aku mengabaikanmu

Aku tau itu, aku hanya ingin menemukannya

Itu saja . . .


Dan, tiba-tiba kuterdiam . . .

Dipersimpangan jalan . . .

Terhenti langkah kakiku . . .

Kemana kuharus pergi ?

Kemana sebenarnya dia pergi ?


Dan lihat, tak ada lagi jejak kaki yang dia tinggalkan . . .

Lihat apa yang telah kau lakukan hujan !

Kini telah kau ambil semua harapanku . . .


Tapi, mungkin dulu dia memang untukku . . .
Khoirony / Warung Ilmu


Redup mu membutakan mata hati ini yg gelisah ,

Seolah menampar aku yg tertidur ..

Bergema dan membuatku tidak mampu bahkan untuk bernafas, sedikit saja ..


Suara mu mulai menjauh, hampir tidak terdengar lagi,

Bayangmu mulai samar, hampir tidak terlihat lagi,

Sungguh aku tidak kuasa merasakan ini, kegelisahan ini, keterpurukan ini ..


Kekasih,

Meski angin tidak memihak ku, tapi .. Aku tau kau dengar suara hati ini,

Terdengar seakan aku membisikan nya, apa yang ingin ku katakan ..


“Mohon jangan lepaskan aku, begitu saja....





Khoirony / Warung Ilmu


Redup mu membutakan mata hati ini yg gelisah ,

Seolah menampar aku yg tertidur ..

Bergema dan membuatku tidak mampu bahkan untuk bernafas, sedikit saja ..


Suara mu mulai menjauh, hampir tidak terdengar lagi,

Bayangmu mulai samar, hampir tidak terlihat lagi,

Sungguh aku tidak kuasa merasakan ini, kegelisahan ini, keterpurukan ini ..


Kekasih,

Meski angin tidak memihak ku, tapi .. Aku tau kau dengar suara hati ini,

Terdengar seakan aku membisikan nya, apa yang ingin ku katakan ..


“Mohon jangan lepaskan aku, begitu saja....





Khoirony / Warung Ilmu


Senyum tetap nampak terlihat dalam cahya wajahmu

Tak kulihat semu..
Ah sayang..pandainya kau simpan laramu

Aku saja yang tak tahu diri,
berkhianat pada siangmu,
bersembunyi takut dalam malammu

Tunggu..
Apakah itu bagian hidupmu?
Harusnya bukan, tapi juga aku tanpa ada mereka

Tapi aku tak kuasa sayang..
Pesona mereka merengkuhku, membelit nadi hidupku,
memaksaku untuk bermain dengan hatimu

Aku tak kuasa ketika terangnya siang mengajakku berdansa hingga ku melupakanmu
Aku tak kuasa ketika angin hembuskan semilir kesejukan sesaat
Pasir berbisik mesra di telingaku
dan rerimbunan pohon menjilat lembut jasadku

Ooh..senjaku

Aku pastikan sayang, aku akan kembali
tuk selalu berada dalam temarammu
menjadi bagian bagi mega merahmu..
Duhai senja..di ufuk sana kunanti kau untuk abadi..





etamaria
Khoirony / Warung Ilmu


Senyum tetap nampak terlihat dalam cahya wajahmu

Tak kulihat semu..
Ah sayang..pandainya kau simpan laramu

Aku saja yang tak tahu diri,
berkhianat pada siangmu,
bersembunyi takut dalam malammu

Tunggu..
Apakah itu bagian hidupmu?
Harusnya bukan, tapi juga aku tanpa ada mereka

Tapi aku tak kuasa sayang..
Pesona mereka merengkuhku, membelit nadi hidupku,
memaksaku untuk bermain dengan hatimu

Aku tak kuasa ketika terangnya siang mengajakku berdansa hingga ku melupakanmu
Aku tak kuasa ketika angin hembuskan semilir kesejukan sesaat
Pasir berbisik mesra di telingaku
dan rerimbunan pohon menjilat lembut jasadku

Ooh..senjaku

Aku pastikan sayang, aku akan kembali
tuk selalu berada dalam temarammu
menjadi bagian bagi mega merahmu..
Duhai senja..di ufuk sana kunanti kau untuk abadi..





etamaria
Khoirony / Warung Ilmu


Ah payah... Laki-laki jadi banci aja kalau nggak ngerokok.
Pernah dengar kata-kata seperti itu?

Benar, ucapan tersebut sering sekali diucapkan kepada laki-laki yang tidak merokok. Para perokok menganggap 'kejantanan' hanya bisa dibuktikan dengan menghisap asap rokok hingga apabila ada laki-laki yang tidak merokok dianggap 'kejantanannya' hilang...

Padahal kalau kita ingin jujur, maka akan kita dapatilah para banci yang sebenarnya merokok dan itu tidak dapat kita pungkiri, hatta para perokok itu sendiri tahu namun mengapa mereka 'nekat' menuduh dan berkata-kata tanpa 'ilmu dengan menuduh orang-orang yang tidak merokok sebagai banci?



Apakah mereka tidak dapat melihat kenyataan atau sekedar membela diri untuk membenarkan tindakan yang mereka lakukan?

Tidakkah mereka renungkan bahwa Rasulullah Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya."
(Shahiih, HR. al-Bukhari, no. 893, 5188, 5200, 7138, Muslim, no. 1829, dan Ahmad, II/5, 54, 111)

Tidakkah para perokok sadari bahwa yang telah mereka lakukan dengan menghisap rokok tersebut telah menzhalimi manusia banyak?


Dari Abu Sa'id al-Khudriy radhiyallaahu ta'aala 'anhu, ia berkata,
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain. Barangsiapa membahayakan orang lain, maka Allaah akan membalas bahaya kepadanya dan barangsiapa menyusahkan atau menyulitkan orang lain, maka Allaah akan menyulitkannya."

(Shahiih, HR. Malik dalam al-Muwaththa', II/571, no. 31, Ibnu Majah, no. 2340 - 2341, ad-Daraquthni, III/470, no. 4461, al-Baihaqi, VI/69, dan al-Hakim, II/57 - 58, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah, no. 250)
Sungguh, tidakkah kalian renungkan bahwa Allaah Subhanahu wa Ta'aala berfirman :
"Dan (Allaah) menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk." (QS. Al-A'raaf [7] : 157)

Bahkan para dokter ataupun manusia awam diseluruh dunia telah ijma' (bersepakat) bahwa rokok adalah segala sesuatu yang buruk lagi jelek, oleh karena itu mengapa kita ragu untuk meninggalkannya?

Bungkus rokok itu sendiri mengatakan bahwa rokok itu buruk lagi jelek dan bisa membunuhmu...

Ada sebagian di antara saudara kita melemparkan syubhat bahwa rokok adalah sesuatu yang makruh (dibenci) dan tidak sampai derajat haram, maka ia pun memaksakan kehendaknya dan merokok ria tidak peduli siapa saja yang ia sakiti dari asap rokoknya...

Taruhlah jika memang rokok itu makruh (dibenci), bukankah lebih baik sesuatu yang dibenci itu ditinggalkan?

Apakah kita ingin dibenci oleh Dzat yang menciptakan kita?

Padahal jelas Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Sesungguhnya yang halal itu telah jelas dan yang haram pun telah jelas pula. Sedangkan di antaranya ada perkara syubhat (samar-samar) yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukumnya). Barangsiapa yang menghindari perkara syubhat, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang jatuh ke dalam perkara yang samar-samar, maka ia telah jatuh ke dalam perkara yang haram."

(Shahiih, HR. Al-Bukhari dalam Shahihnya kitabul Iman, bab Man Istabra'a li Dinihi, no. 52, 2051, Fat-hul Baari, I/153, Muslim dalam Shahihnya, I/1219, kitab al-Buyu', bab Akhdzul Halal wa Tarkusy Syubuhat, no. 1599 [107])

Bertanyalah kepada dirimu sendiri wahai para pecinta rokok, apakah perbuatan kalian termasuk sesuatu yang di ridhai Allaah ataukah sebaliknya itu adalah sesuatu yang dibenci atau bahkan diharamkan Allaah 'Azza wa Jalla?

Para perokok adalah makhluk yang paling menyeramkan.

Benar, itulah pendapat dari al-Ustadz Abu Ahmad Zainal Abidin, Lc hafizhahullaahu ta'aala. Karena tidak ada makhluk yang paling menyeramkan melainkan makhluk pemakan api, sebab jin atau syaithan yang notabenenya adalah makhluk terkutuk lagi hina memakan tulang dan tidak memakan api, tapi para perokok bisa menghisap dan memakan api apakah ini tidak mengalahkan jin dan syaithan dalam hal ini?
Jika dikatakan :

"Ngerokok atau nggak ngerokok, sama saja koq bakalan mati."

Kalau begitu kita katakan :
"Minum racun atau nggak minum racun, sama saja koq bakalan mati, maka silahkan anda meminum racun jika itu cara argumentasi anda..."

Sungguh bukanlah kematian yang kami takutkan, karena kematian adalah sesuatu yang benar dan itu pasti akan datang baik cepat maupun lambat. Tapi yang kami takutkan ialah kematian dengan cara yang buruk atau jelek dan saya berlindung kepada Allaah dari hal yang demikian...

Sungguh betapa nikmat wafat ketika sedang bersujud dan bermunajat kepada-Nya, itulah yang diharapkan setiap hamba yang beriman kepada Allaah Subhanahu wa Ta'aala.


Wallaahul Muwwafiq.
Khoirony / Warung Ilmu


Ah payah... Laki-laki jadi banci aja kalau nggak ngerokok.
Pernah dengar kata-kata seperti itu?

Benar, ucapan tersebut sering sekali diucapkan kepada laki-laki yang tidak merokok. Para perokok menganggap 'kejantanan' hanya bisa dibuktikan dengan menghisap asap rokok hingga apabila ada laki-laki yang tidak merokok dianggap 'kejantanannya' hilang...

Padahal kalau kita ingin jujur, maka akan kita dapatilah para banci yang sebenarnya merokok dan itu tidak dapat kita pungkiri, hatta para perokok itu sendiri tahu namun mengapa mereka 'nekat' menuduh dan berkata-kata tanpa 'ilmu dengan menuduh orang-orang yang tidak merokok sebagai banci?



Apakah mereka tidak dapat melihat kenyataan atau sekedar membela diri untuk membenarkan tindakan yang mereka lakukan?

Tidakkah mereka renungkan bahwa Rasulullah Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya."
(Shahiih, HR. al-Bukhari, no. 893, 5188, 5200, 7138, Muslim, no. 1829, dan Ahmad, II/5, 54, 111)

Tidakkah para perokok sadari bahwa yang telah mereka lakukan dengan menghisap rokok tersebut telah menzhalimi manusia banyak?


Dari Abu Sa'id al-Khudriy radhiyallaahu ta'aala 'anhu, ia berkata,
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain. Barangsiapa membahayakan orang lain, maka Allaah akan membalas bahaya kepadanya dan barangsiapa menyusahkan atau menyulitkan orang lain, maka Allaah akan menyulitkannya."

(Shahiih, HR. Malik dalam al-Muwaththa', II/571, no. 31, Ibnu Majah, no. 2340 - 2341, ad-Daraquthni, III/470, no. 4461, al-Baihaqi, VI/69, dan al-Hakim, II/57 - 58, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah, no. 250)
Sungguh, tidakkah kalian renungkan bahwa Allaah Subhanahu wa Ta'aala berfirman :
"Dan (Allaah) menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk." (QS. Al-A'raaf [7] : 157)

Bahkan para dokter ataupun manusia awam diseluruh dunia telah ijma' (bersepakat) bahwa rokok adalah segala sesuatu yang buruk lagi jelek, oleh karena itu mengapa kita ragu untuk meninggalkannya?

Bungkus rokok itu sendiri mengatakan bahwa rokok itu buruk lagi jelek dan bisa membunuhmu...

Ada sebagian di antara saudara kita melemparkan syubhat bahwa rokok adalah sesuatu yang makruh (dibenci) dan tidak sampai derajat haram, maka ia pun memaksakan kehendaknya dan merokok ria tidak peduli siapa saja yang ia sakiti dari asap rokoknya...

Taruhlah jika memang rokok itu makruh (dibenci), bukankah lebih baik sesuatu yang dibenci itu ditinggalkan?

Apakah kita ingin dibenci oleh Dzat yang menciptakan kita?

Padahal jelas Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Sesungguhnya yang halal itu telah jelas dan yang haram pun telah jelas pula. Sedangkan di antaranya ada perkara syubhat (samar-samar) yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukumnya). Barangsiapa yang menghindari perkara syubhat, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang jatuh ke dalam perkara yang samar-samar, maka ia telah jatuh ke dalam perkara yang haram."

(Shahiih, HR. Al-Bukhari dalam Shahihnya kitabul Iman, bab Man Istabra'a li Dinihi, no. 52, 2051, Fat-hul Baari, I/153, Muslim dalam Shahihnya, I/1219, kitab al-Buyu', bab Akhdzul Halal wa Tarkusy Syubuhat, no. 1599 [107])

Bertanyalah kepada dirimu sendiri wahai para pecinta rokok, apakah perbuatan kalian termasuk sesuatu yang di ridhai Allaah ataukah sebaliknya itu adalah sesuatu yang dibenci atau bahkan diharamkan Allaah 'Azza wa Jalla?

Para perokok adalah makhluk yang paling menyeramkan.

Benar, itulah pendapat dari al-Ustadz Abu Ahmad Zainal Abidin, Lc hafizhahullaahu ta'aala. Karena tidak ada makhluk yang paling menyeramkan melainkan makhluk pemakan api, sebab jin atau syaithan yang notabenenya adalah makhluk terkutuk lagi hina memakan tulang dan tidak memakan api, tapi para perokok bisa menghisap dan memakan api apakah ini tidak mengalahkan jin dan syaithan dalam hal ini?
Jika dikatakan :

"Ngerokok atau nggak ngerokok, sama saja koq bakalan mati."

Kalau begitu kita katakan :
"Minum racun atau nggak minum racun, sama saja koq bakalan mati, maka silahkan anda meminum racun jika itu cara argumentasi anda..."

Sungguh bukanlah kematian yang kami takutkan, karena kematian adalah sesuatu yang benar dan itu pasti akan datang baik cepat maupun lambat. Tapi yang kami takutkan ialah kematian dengan cara yang buruk atau jelek dan saya berlindung kepada Allaah dari hal yang demikian...

Sungguh betapa nikmat wafat ketika sedang bersujud dan bermunajat kepada-Nya, itulah yang diharapkan setiap hamba yang beriman kepada Allaah Subhanahu wa Ta'aala.


Wallaahul Muwwafiq.