2016
Khoirony / Warung Ilmu

Pilihlah seseorang…..
Yang mampu merasakan kesedihanmu.

Yang mampu mengerti pikiranmu disaat engkau terdiam.

Yang mampu merasakan kasih sayangmu disaat kemarahanmu

Karena dialah yg akan bisa mengerti tentang dirimu.

Terkadang engkau harus berlari jauh.
Agar engkau tahu siapa yg akan datang kepadamu.

Terkadang engkau harus berbiacara pelan.
Agar engkau tahu siapa yg masih mau mendengarkanmu.

Terkadang engkau harus melibatkan diri dalam sebuah perbedaan.
Agar engkau tahu siapa yg masih akan membelamu.

Terkadang engkau harus mencoba mengambil keputusan yg kurang tepat.
Agar engkau tahu siapa yg akan menunjukanmu keputusan yg benar.

Terkadang engkau harus melepaskan orang yg sangat engkau cintai.
Agar engkau tahu apakah dia akan kembali setia disisimu.

Sesungguhnya…….
Ketika kita pergi bersembunyi hanyalah untuk ditemukan.

Ketika kita berjalan jauh hanyalah untuk melihat siapa yg masih setia mengikuti.

Ketika kita menangis,agar kita tahu siapa yg dengan ikhlas menghapus air mata kita.

Dan dialah sebenarnya yg masih mempedulikan kita.
Yang akan membuat hidupmu berbalut bahagia penuh senyuman.

....

Khoirony / Warung Ilmu

Saat hati ini berkata..

kau lah yang akan menjadi terakhir dihati ini
aku tahu, engkaulah segalanya bagiku.
kehidupan ku akan terasa hampa, tanpa kehadiran mu..

Aku sadar
aku terlalu menyayangimu
aku belum mampu tanpamu
kau sebagian dari hidup ku

Ketika bersamamu
aku menemukan arti memiliki
aku menemukan sebuah kebahagian
aku menemukan apa yang tak aku temukan diperjalan hidupku

Wahai Calon Makmum ku..
kau harus tahu..
cinta ini akan selalu milikmu
selamanya aku selalu milikmu

Jangan pernah belajar untuk meninggalkan aku.
karna aku..

SANGAT MENCINTAI DIRI MU SEPENUH HATI KU...

...

Khoirony / Warung Ilmu

Jika saja kedudukan suami di sini Allah
Adalah jaminan baiknya juga kedudukan istri
Maka istri Nabi Nuh  dan Istri Nabi Luth
Yang paling berbahagia
Mereka berdua berpaling dari Allah
Tetapi ikut masuk surga bersama suami mereka
Kasihan-lah Asiyah, istri Fir'aun
Berjuang dengan keimanannya
Tetapi ikut masuk neraka bersama Fir'aun

Wahai para istri
Surga dan neraka-mu
Adalah usaha-mu sendiri
Beramal dan bertakwa dengan ilmu
Suami-mu hanyalah kawan pendamping
Saling menasehati dan menguatkan
Agar tetap di jalan Allah
Meskipun perjalanan itu jauh

Wahai para Istri
Jangan sekali-kali membuat sombong lagi lalai
Dengan kedudukan suami-mu
Tetap menuntut ilmu dan beramal
Masing-masing memetik amalnya sendiri

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻋْﻤَﻠُﻮﺍ ﻓَﻜُﻞٌّ ﻣُﻴَﺴَّﺮٌ ﻟِﻤَﺎ ﺧُﻠِﻖَ ﻟَﻪُ ، ﺃَﻣَّﺎ ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﺴَّﻌَﺎﺩَﺓِ ﻓَﻴُﻴَﺴَّﺮُ ﻟِﻌَﻤَﻞِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﺴَّﻌَﺎﺩَﺓِ ، ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﺸَّﻘَﺎﺀِ ﻓَﻴُﻴَﺴَّﺮُ ﻟِﻌَﻤَﻞِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﺸَّﻘَﺎﻭَﺓِ

Beramal-lah kalian! Sebab semuanya telah dimudahkan terhadap apa yang diciptakan untuknya. Adapun orang-orang yang bahagia, maka mereka akan mudah untuk mengamalkan amalan yang menyebabkan menjadi orang bahagia. Dan mereka yang celaka, akan mudah
mengamalkan amalan yang menyebabkannya menjadi orang yang celaka” (HR. Bukhari)

@Antara Langit dan Bumi Allah, Pesawat Lion Air Yogyakarta-Surabaya

Penyusun: Raehanul Bahraen

Khoirony / Warung Ilmu

Hari berlalu tanpa rasa,
Tak sadar ku tlah tinggalkan tekadku di belakang,
Dan kembali ku terjerat dalam gulungan waktu,
Berbaris, berderet tiada ku pahami..
Ku renungkan dan kuteliti detik-detik yang mengusik..
Apa yang harus ku susun dan kutata,
Ku coba berdiri didepan cermin hati, biar ku tahu hitam putihnya hati ini...
Ku basuh telapak kaki agar tahu sejauh mana ku mampu melangkah..
Ku takar cawan perasaan, biar jangan sampai meluap menerima sikap..
Ku pagar rumah khayalan agar asa tidak melambung ke negeri harapan,
Ku jernihkan larutan pikiran agar tidak kuyup mengartikan tingkah...

Bersujud dan berdoa telah ku persembahkan, Dari penyadaran sampai keharusan,
Dari setiap kemungkinan hingga kemampuan
Tapi sepertinya khayalku terlanjur hanyut, karam di telaga impian.
Mungkin juga rasa resah telah penuh melingkari hidupku.

Aku harus belajar kepada burung-burung, agar bisa terbang dan dapat melihat luas indahnya aneka warna alam..
Aku harus belajar kepada ikan, biar bisa menyelami hingga ke dasar bumi dan kupelajari rahasia-rahasia yang tersembunyi.

Aku harus belajar sama binatang malam, biar bisa berjalan di kegelapan.
Aku harus belajar bernyanyi kepada burung pagi, agar bisa menghibur diri tatkala sepi.

Dan dari segala rasa resahku,
Aku mau belajar kepada siapa saja yang mau mengajariku tentang dunia, tentang hidup, tentang apa saja yang dapat membuat damai dalam kedamaian..

Yaa Rabb……
Aku berlindung kepada Mu dari hati yang hitam..

...

Khoirony / Warung Ilmu

SAAT bayi dilahirkan, sebagai seorang Muslim, ayah harus cepat-cepat menggaungkan adzan ke telinga kanannya dengan suara yang pelan.

Serta qomat di telinga kirinya. Maka jikalau sudah tujuh hari setelah melahirkan si bayi sunat dipotong setelah itu ditimbang dengan perak atau emas. Setelah rambut itu ditimbang, maka hasil dari timbangan itu di sodakohkan kepada fakir atau miskin. Dan di hari ke tujuh si bayi diberi nama dengan nama yang bagus serta dibacakan do’a agar si bayi jauh dari segala penyakita dan godaan syetan.

Maka jikalau si anak akan diajarkan bicara, maka yang pertama harus diucapkan serta diajarkan pada anak ialah mengucapkan lapafz Allah, Allah dan Allah supaya latihan pertama si anak mengucapkan nama pencipta kita yaitu Allah SWT.

Dan jikalau si anak mau diberi susu maka harus diberi air susu yang keluar dari perempuan yang baik-baik, yang tidak pernah meninggalkan sholatnya.” Kelakuan yang baik pula perlu kita ajarkan pada anak kita, agar suatu saat nanti dia bisa bergaul sesuai syariat islam. Seperti, makan dengan tangan kanan.

Dan apabila anak kita sudah mencapai usia balig, maka segeralah anak diajarkan mengaji dengan guru yang bak ajarannya. [santi/islampos/perhiasan]

Khoirony / Warung Ilmu

“BANG, mau nanya!”

“Soal apa?”

“Soal itu, pemimpin muslim dan non muslim.”

“Wah, saya sudah ketebak arahnya ke mana nih.”

“Hehehe, jadi menurut Abang bagaimana? Lebih baik mana? Pemimpin non muslim tapi jujur, atau pemimpin muslim tapi zalim?”

“Pemimpin muslim tapi jujur.”

“Ya iyalah! Tapi kalau pilihannya cuma dua itu, bagaimana?”

“Sebenarnya pertanyaan kamu yang salah.”

“Memangnya yang benar bagaimana?”

“Yang benar, yang begini itu jangan ditanya. Saya bingung jawabnya.”

“Sudah terlanjur nanya, Bang. Jawab saja.”

“Kalau saya tanya kamu. Kamu pilih mana? Minum kopi sianida, atau racun serangga?”

“Wah! Sama-sama mati, dong.”

“Nah, kira-kira begitu.”

“Jadi Bang?”

“Begini, orang yang baik tapi bukan muslim, tetap tidak baik jika dia jadi pemimpin sebagian besar muslim. Sekali pun dia memang orang yang baik. Sedangkan pe …”

“Di sini yang aku tidak mengerti, Bang! Setelah banyak terdengar, ‘mendingan kafir jujur daripada muslim tapi zalim’. Seolah-olah hukum Allah itu salah. Nah, kita yang berpedoman dengan Al-Qur’an seolah-olah memang dibiarkan berada di bawah pemimpin zalim. Dipimpin oleh pemimpin zalim itu lebih baik daripada dipimpin oleh pemimpin non muslim walau dia baik. Kan begitu jadinya? Padahal Allah itu Maha Baik, kan?”

“Begini, saya tadi sebenarnya belum selesai ngomong. Untuk pemimpin yang baik tapi non muslim, perumpamaannya misalkan ada lahan yang harus ditanami padi, yang nanti hasilnya untuk makan orang banyak. Karena dia orang yang baik maka dia amanah, memenuhi kewajibannya. Dia menanam memang untuk kesejahteraan rakyatnya. Namun karena dia tidak mengetahui cara menanam padi, yang seharusnya padi itu ditanam dengan cara mundur, tapi dia menanamnya dengan cara maju, sehingga padi yang ditaman lalu terinjak olehnya. Maka jelaslah takkan tumbuh yang namanya padi. Yang ada cuma rumput liar. Alhasil, rakyat kelaparan. Pokoknya, apapun yang dilarang oleh Allah, itu berarti berakibat buruk jika kita melakukannya. Kira-kira seperti perumpamaan barusan.”

“Kalau pemimpin muslim tapi zalim?”

“Ya sebaliknya. Dia tahu aturan menanam padi, yaitu mundur. Tapi dia memilih menanam dengan caranya sendiri, padahal aturan yang dia tahu, itu yang paling baik. Alhasil, ya sama saja, rakyat tetap kelaparan.”

“Jadi, yang lebih baik?”

“Ya yang tadi, muslim tapi jujur.”

“Seriuslah, Bang.”

“Memangnya saya kelihatan main-main?”

“Ya tidak. Jadi, bagaimana?”

“Menurut kamu, jika kita yang sebagian besar muslim ini ditakdirkan oleh Allah untuk dipimpin oleh pemimpin non muslim, kira-kira kenapa?”

“Wah, tidak tahu, Bang?”

“Karena mungkin, jangan-jangan kita ini memang pantas mendapatkannya.”

“Wiiiih … iya kah?”

“Menurut kamu, jika kita sebagian besar muslim ini ditakdirkan oleh Allah untuk dipimpin oleh pemimpin muslim tapi zalim, kira-kira kenapa?’

“Jangan-jangan karena kita pantas mendapatkannya?”

“Betul! Jangan-jangan kita ini memang pantas.”

“Saya tidak puas dengan jawaban ini, Bang.”

“Oke, anggap saja begini … eemmm saya, kamu dan sebagian orang telah menetapkan–harga mati harus memilih pemimpin muslim. Kita ajak keluarga, teman dan orang-orang. Namun yang terjadi tetap non muslim yang jadi pemimpin. Tentu ini atas izin Allah, kan? Allah itu Maha Bisa. Jangankan satu kota, jika Dia menghendaki seluruh rakyat Indonesia memilih pemimpin muslim, maka itu pasti terjadi. Bahkan dunia. Pertanyaannya, kenapa Allah izinkan non muslim menjadi pemimpin? Kalau pun muslim, kenapa dia zalim?”

“Iya, ya. Jangan-jangan itu tadi, Bang. Jangan-jangan kita memang pantas mendapatkannya.”

“Mungkin.”

“Solusinya?”

“Dulu, sebelum wafat Rosulullah Sholallahu alaihi wassalam pernah berpesan, beliau bersabda, ‘Wahai sekalian manusia, sesungguhnya dosa-dosa itu dapat mengubah nikmat-nikmat dan mengganti bagian yang mestinya didapatkan. Maka ketika manusia dalam keadaan baik, maka pemimpin mereka akan berbuat baik kepada mereka. Jika manusia dalam keadaan jelek, maka pemimpin mereka akan menghancurkan mereka. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman, “Dan demikian Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’aam : 129)”‘. [1]

“Bukankah di Indonesia masih banyak orang baik?”

“Mungkin. Tapi bisa jadi lebih banyak yang tidak baik. Malah kemungkinan besar kita termasuk di dalamnya. Coba kita ingat-ingat! Terhadap Allah kita ini bagaimana? Terhadap orang tua kita ini bagaimana? Terhadap guru kita ini bagaimana? Terhadap saudara kita ini bagaimana? Terhadap sesama kita ini bagaimana? Dan lain sebagainya. Ingat! Fir’aun menjadi raja pada masanya dikarenakan kaumnya tidak beriman kepada Allah, mereka tidak bertakwa, mereka zalim. Allah uji kaum itu dengan Fir’aun dan Fir’aun sendiri diuji dengan kekuasaannya.”

“Iya, Bang. Sholat suka nunda bahkan kadang lupa, sama orang tua sekadarnya, sama guru lupa, sama saudara musuhan, terhadap sesama tidak peduli, dosa besar dianggap enteng dosa kecil dianggap tidak ada, amal dianggap tidak berharga. Banyak kurangnya, Bang.”

“Iya, mungkin karena itu kita diberi pemimpin non muslim. Kalau pun muslim dia zalim.”

“Jadi, solusinya?”

“Perbaiki islam kita.”

“Kalau itu iya, Bang. Maksud aku jika harus memilih, pilih yang mana?”

“Kok masih nanya? Kamu tadi memperhatikan tidak? Coba ingat-ingat obrolan kita ini.”

“Oh, iya iya. Maaf, Bang. Iya, saya paham.”

“Kalau nanti terpilih pemimpin muslim namun dia zalim, sedangkan semua rakyatnya berubah jadi sholeh. Ya keroyokan saja berdo’a, minta dia diberikan hidayah oleh Allah. Do’a orang sholeh itu cepat sampainya. Apalagi do’a orang sholeh yang teraniaya. Ada saja cara Allah. Entah pemimpin itu dapat hidayah atau lengser dan diganti pemimpin yang amanah, kita tidak tahu?”

“Iya juga, ya. Tapi kalau terpilih pemimpin non muslim?”

“Ya tetap berdo’a berjamaah, semua berubah jadi sholeh. Minta sama Allah agar pemimpin itu diberi hidayah, memeluk islam dengan hatinya. Jangan sampai kita teriak-teriak anti pemimpin kafir tapi giliran masuk waktu sholat kebanyakan mikir, sholat dulu apa kerjaan dulu? Inilah yang namanya berislam setengah-setangah. Tapi pengennya pemimpin islam yang kaffah Usahakan saja sekuat tenaga kalau kita ini tidak pantas dipimpin oleh pemimpin non muslim atau pemimpin muslim yang zalim.”

“Aamiin, Bang. Semoga saja.” []

Palembang, 26 Jumadil Akhir 1437 H