Mei 2016
Khoirony / Warung Ilmu
Belakangan saya lagi bingung  sama makna dari kata loyalitas, khususnya dilingkungan kerja. Banyak yang menilai kalau loyalitas kerja adalah seberapa lama dan banyaknya waktu serta tenaga yang kita curahkan untuk pekerjaan tanpa mengharap imbalan apapun dari perusahaan. Nah, persoalannya muncul ketika kita melakukan secara tidak suka rela alias terpakasa atau dalam tekanan atasan secara tidak langsung. 


Dari sekian banyak calon karyawan yang saya wawancarai, mayoritas dari mereka menyebutkan jam kerja yang tidak jelas sebagai alasan resign, merasa bahwa jam loyalitas itu adalah basa basi yang tidak tahu apa tujuan dan dasar hukumnya. Artinya adalah bahwa tidak ada sangsi profesi yang dikenakan apabila tidak di jalankan, tapi akan ada sanksi sosial yang di terima bila kita mungkir menunaikannnya. Banyak dari mereka yang melakukan semata-mata lantaran tradisi yang dilakukan oleh senior mereka. Lucunya, dari fakta dilapangan yang saya temui, para senior itu sendiri pun sebetulnya merasa terpenjara oleh budaya sesat ini. Para senior terpaksa melakukan loyalitas jam kerja semata-mata demi menjaga wibawa kepada anak buahnya atau keryawan baru. Kacau bukan?

            Dari pemahaman saya, kata loyaitas itu berarti kesetiaan. Sama halnya kita mencintai seseorang dalam berbagai situasi dan kondisi tanpa syarat serta tanpa berharap akan adanya balasan.  Nah, disinalah yang banyak atasan atau business owner luput memperhatikan, bahwa adanya kesetiaan bermula dengan tumbuhnya rasa cinta. Cinta itu sendiri merupakan sebuah proses interaksi antara kedua belah pihak yang telah sama-sama membangun rasa saling percaya. Percaya atas apa? Percaya atas kesamaan tujuan pastinya. Sama dengan halnya proses karyawan terhadap perusahaan. Perusahaan  harus percaya bahwa karyawan tersebut adalah seorang yang punya integritas dan akan berguna membawa perusahaan mencapai visinya. Pun demikian sebaliknya, karyawan harus percaya bahwa perusahaan bisa menjadikannya sebagai pribadi yang berkembang baik dari segi pengetahuan, kemapuan, penghasilan hingga kepribadian (spriritual). Bila telah terbentuk rasa saling percaya tadi, maka hubungan keduanya akan lebih dalam lagi.

            Mungkin yang sebelumnya hanya sebatas logika dan akal sehat seperti yang tertuang dalam kontrak kerja, job description hingga jenjang karir compensation benefit,  berkembang kebidang lain yang mulai melibatkan perasaan atau emosi.

            Karyawan mulai mau melakukan hal-hal yang tidak ada dalam job desc-nya, lembur hingga larut malam, menjual tanpa memikikan komisi dan banyak lagi lainnya. Disisi lain perusahaan pun tidak segan masuk ke ranah yang lebih privat lagi yang jelas-jelas bukan domain profesionalisme. Misalnya dari memberikan fasilitas pribadi, membantu pinjaman biaya nikah, melahirkan istri, uang muka motor bahkan rumah sekalipun. Padahal itu semua bukan tujuan dari sebuah perusahaan diirikan.. ya kan? Lha wong nikah sing penak yo awakmu, melahirkan yang berbuat kamu, rumah yang pakai siapa..Belakangan saya lagi bingung sama makna dari kata loyalitas, khususnya di lingkungan kerja. Banyak yang menilai kalau loyalitas kerja adalah seberapa lama dan banyaknya waktu serta tenaga yang kita curahkan untuk pekerjaan tanpa mengharapkan imbalan apapun dari perusahaan. 

        Nah, persoalannya muncul ketika kita melakukannya secara tidak suka rela alias terpaksa atau dalam tekanan atasan secara tidak langsung. Dari sekian banyak calon karyawan yang saya wawancarai, mayoritas dari mereka yang menyebutkan jam kerja yang tidak jelas sebagai alasan resign, merasa bahwa jam loyalitas itu adalah basa basi yang tidak tahu apa tujuan dan dasar hukumnya. Artinya adalah bahwa tidak ada sanksi profesi yang dikenakan apabila tidak dijalankan, tapi akan ada sanksi sosial yang diterima bila kita mangkir menunaikannya. Banyak dari mereka melakukannya semata-mata lantaran tradisi yang di lakukan oleh para senior mereka. Lucunya, dari fakta di lapangan yang saya temui, para senior itu sendiri pun sebetulnya merasa terpenjara oleh budaya sesat ini. Para senior terpaksa melakukan loyalitas jam kerja semata-mata demi menjaga wibawa kepada para anak buahnya atau karyawan baru. Kacau kan?

Dari pemahaman saya, kata loyalitas itu sendiri berarti kesetiaan. Sama halnya ketika kita mencintai seseorang dalam berbagai situasi dan kondisi tanpa syarat serta tanpa berharap akan adanya balasan. Nah, disini lah yang banyak para atasan atau business owner luput memperhatikan, bahwa adanya kesetiaan bermula dengan tumbuhnya rasa cinta. Cinta itu sendiri merupakan hasil dari sebuah proses interaksi dari dua belah pihak yang telah sama-sama membangun rasa saling percaya. Percaya atas apa? Percaya atas adanya kesamaan tujuan pastinya. Sama dengan halnya proses karyawan terhadap perusahaan. Perusahaan harus percaya bahwa karyawan tersebut adalah seseorang yang punya integritas dan akan berguna membawa perusahaan mencapai visinya. 

       Pun demikian sebaliknya, karyawan harus percaya bahwa perusahaan bisa menjadikannya sebagai pribadi yang berkembang baik dari segi pengetahuan, kemampuan, penghasilan hingga kepribadian (spritiual). Bila telah terbentuk rasa saling percaya tadi, maka hubungan keduanya akan lebih dalam lagi. Dari yang sebelumnya hanya sebatas logika dan akal sehat seperti yang tertuang dalam kontrak kerja, job description hingga jenjang karir dan compensation benefit, berkembang ke bidang lain yang mulai melibatkan perasaan atau emosi. Karyawan mulai mau melakukan hal-hal yang tidak ada di dalam job desc nya, lembur hingga larut malam, menjual tanpa memikirkan komisi dan banyak lagi lainnya. Di sisi  lain, perusahaan pun tidak segan masuk ke ranah yang lebih privat lagi yang jelas-jelas bukan domain profesionalisme. Dari memberi fasilitas pribadi, membantu pinjaman biaya nikah, melahirkan istri, uang muka motor atau bahkan rumah sekalipun. Padahal itu semua bukanlah tujuan dari sebuah perusahaan didirikan..ya kan..? Lha wong nikah sing penak yo awakmu, melahirkan yang berbuat kamu, rumah yang pake siapa..? :)


       Balik ke loyalitas kerja tadi. Bagi saya, kesetiaan itu haruslah diperlihatkan dengan tindakan. Bekerjalah semaksimal mungkin selama jam kerja, bukan dengan menunda kepulangan dalam bekerja. Karena kalau begitu, biasanya yang tertinggal dalam diri kita bukan loyalitasnya, melainkan kebiasaan menundanya. Kita jadi cenderung untuk mulai perhitungan, "toh nanti juga saya tidak bisa langsung pulang, jadi saya kerjakan nanti sajalah". Banyak kan yang begitu.. Celakanya, di perusahaan saya mulai ada gejala bahwa siapapun yang pulang tepat waktu akan di nilai negatif. Padahal jam kerjanya sudah luar biasa panjang jika dibandingkan perusahaan lain (mungkin). Saya sendiri dalam menilai kinerja karywan untuk di promosikan, selalu mencantumkan aspek loyalitas berdampingan integritas sebagai parameter teratas. Tapi sudah barang tentu bukan loyalitas yang selama ini telah salah kaprah tadi loh ya. Loyalitas yang saya pakai adalah seberapa jauh dan lama orang tersebut akan bertahan dalam perusahaan ini sekalipun banyak headhunter yang menawarkan angin sorga kepadanya. 

        Oh ya di industri saya ini SDM mahal banget harganya. Bahkan sortiran dari tahap interview saja ada yang mau nampung, operator yang kita pecat aja masih bisa loh jadi kepala shift di tempat lain. Kebayang kan gimana karyawan yang bagus? Segitu mahalnya tenaga kerja di industri saya sekarang.

       Memang hal-hal di luar konteks kinerja, faktor manusia sangatlah besar peranannya dalam memberikan penilaian. Jadi buat saya, tidak ada masalah dengan para karyawan yang pulang tepat waktu. Selama mereka datang tepat waktu dan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Kalau pekerjaan telah selesai dan sudah datang waktunya untuk boleh pulang, ya pulang saja. Toh saya yakin kebiasaan tepat waktunya akan menjalar ke segala hal yang dijalaninya. Hidup juga bakal lebih bermanfaat buat semua, bisa buat belajar, sosialisasi, langsung istirahat, ketemu anak, main sama isteri di rumah (eh kebalik gak sih?) Nah buat para atasan, ayolah balik lagi ke paham kalau People are totally different. 

         Tiap orang itu unik. Mereka punya karakter yang beda, kebutuhan yang beda, cara kerja yang beda,  motivasi yang beda hingga persoalan hidup yang beda juga. So, how we treat them juga haruslah berbeda. Sejak kapan kita bisa memaksakan orang lain supaya bisa menjadi sama persis seperti kita? Maka jadikanlah faktor kinerja dan profesionalisme sebagai tolok ukur standar yang kita gunakan dalam memberi penilain di lingkungan kerja, baru kemudian ke aspek personal.
  


Ingat, loyalitas adalah tindakan bukan sekedar formalitas. Salam fotokopi.


Khoirony / Warung Ilmu
Belakangan saya lagi bingung  sama makna dari kata loyalitas, khususnya dilingkungan kerja. Banyak yang menilai kalau loyalitas kerja adalah seberapa lama dan banyaknya waktu serta tenaga yang kita curahkan untuk pekerjaan tanpa mengharap imbalan apapun dari perusahaan. Nah, persoalannya muncul ketika kita melakukan secara tidak suka rela alias terpakasa atau dalam tekanan atasan secara tidak langsung. 


Dari sekian banyak calon karyawan yang saya wawancarai, mayoritas dari mereka menyebutkan jam kerja yang tidak jelas sebagai alasan resign, merasa bahwa jam loyalitas itu adalah basa basi yang tidak tahu apa tujuan dan dasar hukumnya. Artinya adalah bahwa tidak ada sangsi profesi yang dikenakan apabila tidak di jalankan, tapi akan ada sanksi sosial yang di terima bila kita mungkir menunaikannnya. Banyak dari mereka yang melakukan semata-mata lantaran tradisi yang dilakukan oleh senior mereka. Lucunya, dari fakta dilapangan yang saya temui, para senior itu sendiri pun sebetulnya merasa terpenjara oleh budaya sesat ini. Para senior terpaksa melakukan loyalitas jam kerja semata-mata demi menjaga wibawa kepada anak buahnya atau keryawan baru. Kacau bukan?

            Dari pemahaman saya, kata loyaitas itu berarti kesetiaan. Sama halnya kita mencintai seseorang dalam berbagai situasi dan kondisi tanpa syarat serta tanpa berharap akan adanya balasan.  Nah, disinalah yang banyak atasan atau business owner luput memperhatikan, bahwa adanya kesetiaan bermula dengan tumbuhnya rasa cinta. Cinta itu sendiri merupakan sebuah proses interaksi antara kedua belah pihak yang telah sama-sama membangun rasa saling percaya. Percaya atas apa? Percaya atas kesamaan tujuan pastinya. Sama dengan halnya proses karyawan terhadap perusahaan. Perusahaan  harus percaya bahwa karyawan tersebut adalah seorang yang punya integritas dan akan berguna membawa perusahaan mencapai visinya. Pun demikian sebaliknya, karyawan harus percaya bahwa perusahaan bisa menjadikannya sebagai pribadi yang berkembang baik dari segi pengetahuan, kemapuan, penghasilan hingga kepribadian (spriritual). Bila telah terbentuk rasa saling percaya tadi, maka hubungan keduanya akan lebih dalam lagi.

            Mungkin yang sebelumnya hanya sebatas logika dan akal sehat seperti yang tertuang dalam kontrak kerja, job description hingga jenjang karir compensation benefit,  berkembang kebidang lain yang mulai melibatkan perasaan atau emosi.

            Karyawan mulai mau melakukan hal-hal yang tidak ada dalam job desc-nya, lembur hingga larut malam, menjual tanpa memikikan komisi dan banyak lagi lainnya. Disisi lain perusahaan pun tidak segan masuk ke ranah yang lebih privat lagi yang jelas-jelas bukan domain profesionalisme. Misalnya dari memberikan fasilitas pribadi, membantu pinjaman biaya nikah, melahirkan istri, uang muka motor bahkan rumah sekalipun. Padahal itu semua bukan tujuan dari sebuah perusahaan diirikan.. ya kan? Lha wong nikah sing penak yo awakmu, melahirkan yang berbuat kamu, rumah yang pakai siapa..Belakangan saya lagi bingung sama makna dari kata loyalitas, khususnya di lingkungan kerja. Banyak yang menilai kalau loyalitas kerja adalah seberapa lama dan banyaknya waktu serta tenaga yang kita curahkan untuk pekerjaan tanpa mengharapkan imbalan apapun dari perusahaan. 

        Nah, persoalannya muncul ketika kita melakukannya secara tidak suka rela alias terpaksa atau dalam tekanan atasan secara tidak langsung. Dari sekian banyak calon karyawan yang saya wawancarai, mayoritas dari mereka yang menyebutkan jam kerja yang tidak jelas sebagai alasan resign, merasa bahwa jam loyalitas itu adalah basa basi yang tidak tahu apa tujuan dan dasar hukumnya. Artinya adalah bahwa tidak ada sanksi profesi yang dikenakan apabila tidak dijalankan, tapi akan ada sanksi sosial yang diterima bila kita mangkir menunaikannya. Banyak dari mereka melakukannya semata-mata lantaran tradisi yang di lakukan oleh para senior mereka. Lucunya, dari fakta di lapangan yang saya temui, para senior itu sendiri pun sebetulnya merasa terpenjara oleh budaya sesat ini. Para senior terpaksa melakukan loyalitas jam kerja semata-mata demi menjaga wibawa kepada para anak buahnya atau karyawan baru. Kacau kan?

Dari pemahaman saya, kata loyalitas itu sendiri berarti kesetiaan. Sama halnya ketika kita mencintai seseorang dalam berbagai situasi dan kondisi tanpa syarat serta tanpa berharap akan adanya balasan. Nah, disini lah yang banyak para atasan atau business owner luput memperhatikan, bahwa adanya kesetiaan bermula dengan tumbuhnya rasa cinta. Cinta itu sendiri merupakan hasil dari sebuah proses interaksi dari dua belah pihak yang telah sama-sama membangun rasa saling percaya. Percaya atas apa? Percaya atas adanya kesamaan tujuan pastinya. Sama dengan halnya proses karyawan terhadap perusahaan. Perusahaan harus percaya bahwa karyawan tersebut adalah seseorang yang punya integritas dan akan berguna membawa perusahaan mencapai visinya. 

       Pun demikian sebaliknya, karyawan harus percaya bahwa perusahaan bisa menjadikannya sebagai pribadi yang berkembang baik dari segi pengetahuan, kemampuan, penghasilan hingga kepribadian (spritiual). Bila telah terbentuk rasa saling percaya tadi, maka hubungan keduanya akan lebih dalam lagi. Dari yang sebelumnya hanya sebatas logika dan akal sehat seperti yang tertuang dalam kontrak kerja, job description hingga jenjang karir dan compensation benefit, berkembang ke bidang lain yang mulai melibatkan perasaan atau emosi. Karyawan mulai mau melakukan hal-hal yang tidak ada di dalam job desc nya, lembur hingga larut malam, menjual tanpa memikirkan komisi dan banyak lagi lainnya. Di sisi  lain, perusahaan pun tidak segan masuk ke ranah yang lebih privat lagi yang jelas-jelas bukan domain profesionalisme. Dari memberi fasilitas pribadi, membantu pinjaman biaya nikah, melahirkan istri, uang muka motor atau bahkan rumah sekalipun. Padahal itu semua bukanlah tujuan dari sebuah perusahaan didirikan..ya kan..? Lha wong nikah sing penak yo awakmu, melahirkan yang berbuat kamu, rumah yang pake siapa..? :)


       Balik ke loyalitas kerja tadi. Bagi saya, kesetiaan itu haruslah diperlihatkan dengan tindakan. Bekerjalah semaksimal mungkin selama jam kerja, bukan dengan menunda kepulangan dalam bekerja. Karena kalau begitu, biasanya yang tertinggal dalam diri kita bukan loyalitasnya, melainkan kebiasaan menundanya. Kita jadi cenderung untuk mulai perhitungan, "toh nanti juga saya tidak bisa langsung pulang, jadi saya kerjakan nanti sajalah". Banyak kan yang begitu.. Celakanya, di perusahaan saya mulai ada gejala bahwa siapapun yang pulang tepat waktu akan di nilai negatif. Padahal jam kerjanya sudah luar biasa panjang jika dibandingkan perusahaan lain (mungkin). Saya sendiri dalam menilai kinerja karywan untuk di promosikan, selalu mencantumkan aspek loyalitas berdampingan integritas sebagai parameter teratas. Tapi sudah barang tentu bukan loyalitas yang selama ini telah salah kaprah tadi loh ya. Loyalitas yang saya pakai adalah seberapa jauh dan lama orang tersebut akan bertahan dalam perusahaan ini sekalipun banyak headhunter yang menawarkan angin sorga kepadanya. 

        Oh ya di industri saya ini SDM mahal banget harganya. Bahkan sortiran dari tahap interview saja ada yang mau nampung, operator yang kita pecat aja masih bisa loh jadi kepala shift di tempat lain. Kebayang kan gimana karyawan yang bagus? Segitu mahalnya tenaga kerja di industri saya sekarang.

       Memang hal-hal di luar konteks kinerja, faktor manusia sangatlah besar peranannya dalam memberikan penilaian. Jadi buat saya, tidak ada masalah dengan para karyawan yang pulang tepat waktu. Selama mereka datang tepat waktu dan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Kalau pekerjaan telah selesai dan sudah datang waktunya untuk boleh pulang, ya pulang saja. Toh saya yakin kebiasaan tepat waktunya akan menjalar ke segala hal yang dijalaninya. Hidup juga bakal lebih bermanfaat buat semua, bisa buat belajar, sosialisasi, langsung istirahat, ketemu anak, main sama isteri di rumah (eh kebalik gak sih?) Nah buat para atasan, ayolah balik lagi ke paham kalau People are totally different. 

         Tiap orang itu unik. Mereka punya karakter yang beda, kebutuhan yang beda, cara kerja yang beda,  motivasi yang beda hingga persoalan hidup yang beda juga. So, how we treat them juga haruslah berbeda. Sejak kapan kita bisa memaksakan orang lain supaya bisa menjadi sama persis seperti kita? Maka jadikanlah faktor kinerja dan profesionalisme sebagai tolok ukur standar yang kita gunakan dalam memberi penilain di lingkungan kerja, baru kemudian ke aspek personal.
  


Ingat, loyalitas adalah tindakan bukan sekedar formalitas. Salam fotokopi.