Dalam sms ucapan valentine, seorang teman mengirimkan sms yg berbunyi : "Kemarin, Tuhan mencintai kita. Hari ini Tuhan mencitai kita juga. Besok pun Tuhan tetap mencitai kita. Cinta-Nya tak pernah habis untuk kita. Selamat berbagi cinta dengan sesama. Selamat hari kasih sayang! Ingat : Tuhan mencintai kita selamanya!"

     Aku seakan dibangunkan dari tidur membaca sms dari teman lamaku ini. Sudah sekian tahun kami tidak bertemu. Sejak selesai kuliah dan sibuk dengan dunia masing-masing, kami secara fisik belum pernah bertemu lagi. Akhirnya, tanpa berpikir panjang aku telepon dia. Begitu nada sambung menandakan kontak, langsung aq dengar suaranya.

     "Hai, Bung. Tuhan mencintaimu. Juga mencintai aq!"
     "Iya.... Iya... sabar dulu,kawan. Sapa dulu kek, selamat pagi, selamat siang, atau basa basi apalah, masa tiba-tiba langsung nerocos ajah?" balasku.

     "Hai, di hari kasih sayang begini, yang pertama dan utama adalah merayakan cinta Tuhan pada kita. Yang lain belakangan,"katanya, layaknya guru agama. Lalu, dia pun menanyakan kabar istri dan ketiga anakku. Mendengar pertanyaan itu, aq hanya bisa terdiam. Ada sesuatu yg terasa menyesakkan di dadaku.

     "Aku sedang mengajukan gugatan cerai,"jawabku singkat.
     "Hei... Hei... apa-apaan, tuh! Jangan bercanda! Bagaimana mungkin itu terjadi? Beneran kamu mengajukan gugatan cerai?

     "Ya. Aku terpaksa melakukannya dan harus melakukannya!
     "Harus? Aneh sekali mendengarnya. Bagaimana mungkin cerai menjadi sebuah keharusan bagimu?"

     "Ada perempuan muda yang begitu cantik dan telah menawan hatiku. Dia lebih energik dan membuatku menjadi lelaki raja di dunia ini. "Tiba-tiba telepon kami terputus. Kucoba hubungi dia lagi, tetapi tidak dapat tersambung.

     Lalu sms-nya masuk, "Nikmatilah dirimu yang adalah lelaki raja, tetapi yang hanya sesaat nikmatnya! Tetapi ingatlah, cinta Tuhan dapat kau nikmati seumur hidupmu. Cinta perempuan mudamu tidak selamanya!" Kucoba telpon dia lagi beberapa kali, tetapi tetap tidak tersambung. Kepalaku semakin sesak dengan berbagai pikiran yang berebut tempat di ruang-ruangnya. Sementara dua hari lagi persidangan pertama gugatan ceraiku harus kujalani. Kalau mau jujur, sebenarnya aq belum siap untuk menghadapi persidangan itu.

     Sehari menjelang sidang, konsentrasiku buyar. Wajah istri dan anak-anakku datang begitu jelas. Kenangan hari pernikahan pun terbayang. Pada hari pernikahan, aq membopong istriku. Saat mobil pengantin berhenti di depan rumah, sahabat ku menyuruhku untuk membopong istriku keluar dr mobil. Jadi, ku bopong dia memasuki rumah kami. Dia kelihatan malu-malu. Saat itu, aq adalah seorang pengantin pria yg sangat bahagia. Itulah kejadian 20 tahun yang lalu. Sekarang, dia telah memberi tiga anak kepada ku. Semuanya membanggakan. Anak pertamaku, yang perempuan, saat ini sedang menjalani kuliah di universitas swasta di Yogyakarta. Sementara kedua adik laki-lakinya masih SMU dan SMP. Di sisi yang lain, Dewi hadir dalam pikiranku. Seorang perempuan metropolitan yang boleh di katkan perfect, nyaris sempurna. Cantik, energik, cerdas, dan menggoda. Dalam perjalanan waktu, karena komunikasi bisnis yang ada diantara kami, akhirnya aq jatuh hati. Naluri laki-lakiku berkobar dan ditambah dengan sikapnya yang semakin hari semakin "manja" kepadaku. Akhirnya aq jatuh juga. Bayangkan ketika berada dalam pelukannya di balkon apartemen datang lagi. Saat itu, hatiku, sekali lagi, terbenam dalam aliran cintanya, maka aq belikan apartemen untuknya. Pikiranku semakin kacau.

     Sekali lagi, aq dikagetkan dengan sms dari teman lamaku, "Besok aq akan ke jakarta untuk menghadiri sidang gugatan ceraimu!".

     Aneh sekali! Dari mana dia tau kalau besok ada sidang gugatan cerai itu? Ah, aku tak mau pusing. Kalau mau datang ya datang saja. Aku pun meninggalkan kantor dan menuju ke apartemen Dewi. Seperti biasa, pelukan dan rayuan manjanya selalu menyambutku. "Kamu adalah pria terbaik yang menarik para gadis." Pada saat-saat berdua dengannya, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku.

     Hari persidangan pertama tiba. Setelah segala pertanyaan dari hakim kami jawab. Menjelang akhir persidangan, istriku berdiri dan mengatakan, "Saya siap diceraikan. Kalau memang dengan perceraian ini terjadi. Tetapi, selama putusan cerai belum diputuskan oleh pengadilan, saya minta suami saya pulang ke rumah dan tinggal bersama saya dan anak-anak. Dia harus mengatakan kepada saya dan anak-anaknya setiap hari sebelum berangkat kerja ,'Aku mencintaimu!' Setelah itu, kecuplah kening kami. Cukuplah itu! Kalau toh ada harta yang harus dibagi, saya tidak begitu peduli. Saya masih sanggup menjadi orang tua bagi ketiga anakku. Cinta saya tetap tidak akan berubah bagi mereka seumur hidup. Terima kasih!"

     Aku menerima permintaan dan syarat dari istriku dengan senyum. Aq tau dia merindukan beberapa kenangan indah yang telah berlalu dan berharap perkawinan ini diakhiri dengan suasana yang penuh dengan kasih sayang. Tetapi sejujurnya, hatiku terasa terpukul oleh palu besar. Dari air mata yang menetes, aku merasakan ada luka di hati istriku. Seluruh hadirin yang menghadiri sidang gugatan cerai menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengannya. Istriku berusaha tersenyum pada siapa saja yang hadir, termasuk kepada kawan lamaku. Dengan berbisik, dia menghampiri istriku dan berkata, "Tenanglah, perceraian itu tidak akan terjadi. Cinta Tuhan tidak akan pernah habis!" dan kata-kata itulah yang muncul juga dalam sms ku setelah persidangan.

     Episode sebulan menjelang perceraian pun kami mulai. Aku dan istriku tidak pernah mengadakan kontak badan lagi sejak gugatan perceraian itu kuajukan. Kami saling menganggap diri sebagai orang asing. Jadi, ketika aku mencium keningnya dan mengatakan "Aku mencintaimu!", aku merasakan ada sesuatu yang janggal. Juga, ketika kuciumi kening anak-anakku satu per satu dan kukatakan hal yang sama. Kemudian, mereka berempat berdiri di pintu menatapku sampai aku keluar pagar rumah untuk menuju ke kantor.

    Hari terakhir menjelang putusan gugatan cerai pun tiba. Pada hari itu, ketika aku lakukan kecupan kening dan aku katakan "aku mencintaimu" kepada istri dan ketiga anakku, mereka berkata, "Sesungguhnya kami berharap ayah akan melakukannya seumur hidup ayah." Tanpa kusadari, aku tidak hanya mengecup kening istriku tetapi juga memeluknya,

     Ku pejamkan mata, teringat sms dari sahabatku itu, "Betapa indah hidup ini. Betapa indah cinta Tuhan yang tidak berkesudahan!". Lalu, aku segera meluncur ke kantor. Dalam perjalanan ke kantor, aku sudah putuskan: perceraian itu harus dibatalkan! Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan aku dan istriku tidak bisa merasakan nilai dari kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sejak aku mencium keningnya setiap hari, aku menyadari bahwa dia telah melahirkan anak-anakku, merawat, dan mencintai mereka dan juga aku. Aku akan menjaga mereka seumur hidupku sebagaimana mereka minta.

     Tiba-tiba nada sms di hp ku berbunyi dan langsung ku baca, "Sesungguhnya kami berharap ayah akan melakukannya seumur hidup ayah. "Betapa indah hidup ini. Betapa indah cinta Tuhan yang tidak berkesudahan!. Selamat memperbarui hidup rumah tanggamu, kawan! Ingat, tidak ada dusta lahir dari ketulusan cinta sepasang suami istri!"


~
Axact

Abraham Dzulqarnain

saya adalah orang biasa seperti pada umumnya yang senag mencari hal-hal baru dan membaginya ke-semua orang. selama itu bermanfaat, kenapa tidak?. Just Share

Post A Comment:

0 comments: